Yesus sebagai Biji Gandum Taat dalam Penderitaan untuk Menjadi Pokok Keselamatan Kekal

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan kita Yesus Kristus, pada Minggu Prapaskah Ke V dan lewat perenungan bacaan Injil Yoh :12-20-33 kembali kita diajak untuk mencari kehendak Tuhan yang harus kita hidupi dan jalani dalam perjalanan hidup kita.

Yesus dalam memberitakan kematian- Nya menyebut diri-Nya sebagai biji gandum yang jatuh ketanah dan mati agar dapat menghasilkan buah melimpah. Inilah suatu ketaatan Yesus sebagai putera Allah yakni menderita untuk menjadi pokok keselamatan kekal dan Yesus pun mengatakan kepada mereka yang mengikut-Nya : Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan dimana Aku berada disitu pun pelayan-Ku akan berada.

Beriman kepada Yesus berarti berkomitmen untuk mengikuti Dia, menaati semua ajaran-Nya serta berada dimana Dia ada dan kita dituntut untuk menyangkal diri dan memikul salib serta taat dalam penderitaan. “Adalah seorang pemuda yang memiliki kemampuan akademis di bidang Ilmu Kimia berkomitmen untuk membantu meringankan kesusahan para ibu-ibu yang begitu susah memperoleh minyak goreng dengan harga murah dan terjamin kualitasnya dengan bahan dasar air. Sehingga ia berjuang mencari cara dengan melalukan uji coba (EKSPERIMEN) air campur apa jadi minyak goreng. Maka ia berusaha melakukan uji coba tersebut namun ia terus gagal dan sampailah ia kepada seorang nenek yang katanya mengetahui atau mengenal seorang kakek tua yang memiliki ilmu untuk melakukan keajaiban. Nenek pun berpesan bahwa hanya boleh mengajukan satu pertanyaan kepada kakek yang ingin dijumpai yakni air campur apa jadi minyak goreng. Atas perintah nenek tersebut akhirnya pemuda tersebut mengetahui keberadaan sang kakek tua dengan penuh perjuangan, sambil mengingat dan menghapal pertanyaan “Air campur apa jadi minyak goreng”. Akhirnya tibalah ia pada sebuah rumah kosong yang sepi dan pada saat ia membuka pintu ia berhadapan dengan seorang wanita cantik yang membuatnya tertegun dan akhirnya ia pun berkata : “Siapa namamu ?”. BERTANYA … pemuda itu lupa akan tujuannya yakni ‘air campur apa menjadi minyak goreng’.”

Saudari/a yang terkasih, kitapun bisa mengalami hal demikian atau bahkan sering kali apa yang kita niatkan berantakan didepan setelah menghadapi banyak hal dalam kehidupan. Saat kita sudah berkomitmen dan kita pun akan mengeluh dan mengeluh. Yesus yang menjadi biji gandum yang mati dan menghasilkan buah tentunya taat dalam penderitaan. Apakah Yesus meminta kita menderita? Tentu tidak, yang diminta dari kita ialah mengikuti Dia, ikut mengusahakan agar Ia dapat menjalankan perutusan-Nya, mengawani-Nya juga pada saat-saat gelap dan tidak membiarkan-Nya sendiri.

Itu semua dapat kita wujudkan dalam diri mereka yang lemah, tersingkir, miskin, papa, menderita dan juga mereka yang mengalami permasalahan-permasalahan dalam hidup yang membutuhkan terang iman dan tidak lain diri kita sendiri dalam perjalanan waktu juga akan
mengalami hal serupa.

Yesus ingin mereka yang menjadi pengikutnya, tentunya kita semua yang sudah dibaptis - mampu menjadi gandum yang mati taat dalam penderitaan, tidak mencari keamanan sendiri, mementingkan diri semata namun berani mengambil resiko dengan penyangkalan diri untuk senantiasa hidup memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Semoga kita mampu mengikuti teladan Yesus yang menjadi gandum yang mati menghasilkan buah melimpah dalam ketaatan penderitaan-Nya .... Kalau karena mengasihi/mencintai kamu menderita dan terluka, itu bukan penderitaan tetapi itulah cinta kasih. Semoga.
Amin.

Penulis : Sr. Loren SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments