Di tengah arus dunia yang mendasarkan kekuatan, kekayaan, dan pencitraan diri sebagai satu-satunya tolok ukur kebahagiaan, “Sabda Bahagia” di Injil Matius mengingatkan sisi lain dari ukuran dan arti kebahagiaan yang dicari dan dirindukan oleh manusia.
Sabda Bahagia adalah khotbah Yesus kepada para murid dan orang-orang banyak yang mengikuti-Nya di bukit. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang berdukacita, orang yang lemah lembut, orang yang lapar dan haus akan kebenaran, orang yang berbelaskasih, membawa damai, dan orang yang dicela atau dianiaya oleh nama Allah.” (Mat 5:3-12).
Kebahagiaan yang disampaikan Yesus tersebut terlihat sangat kontradiktif dengan apa yang menjadi tolok ukur dunia mengenai kebahagiaan. Namun Sabda Bahagia tersebut justru membongkar dan mengingatkan kembali kita manusia akan satu hal penting bahwa kebahagiaan tidak hanya terbatas pada hal-hal duniawi semata. Kebahagiaan itu sesungguhnya dapat ditemukan dalam berbagai kondisi dan sumber-Nya adalah kasih karunia Allah sendiri.
Kasih karunia Allah itulah yang selama ini memenuhi kebutuhan manusia di tengah keterbatasan dan tantangan perjalanan hidupnya. Kasih karunia itu menjadi penopang manusia untuk terus dapat mengarungi gelombang bahkan ancaman dunia sebagaimana dinyatakan Allah melalui Nabi Zefanya, “Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, yang akan mencari perlindungan pada nama Tuhan. Mereka itulah sisa Israel.” (Zef. 2:12). Dengan kata lain, di sana adalah sumber sejati hidupnya.
Maka Sabda Bahagia ini menjadi panggilan setiap orang beriman untuk mengarahkan kembali pada sumber dan keselamatan hidupnya. Atas dasar sumber keselamatan itu menjadi titik tolak kebijaksanaannya untuk bersikap terhadap hal-hal sekitarnya di dunia sebagaimana diungkapkan oleh Paulus, ”Namun, apa yang bodoh di mata dunia dipilih Allah untuk mempermalukan yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan hina bagi dunia, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk untuk meniadakan apa yang berarti.”
Hal ini menjadi panggilan umat beriman untuk tidak berhenti mengejar kesalehan atau keselamatan diri, tapi juga bisa memberi diri terhadap sesama. Semoga kita menjadi bagian dari umat yang rendah hati dan tulus membawa terang Kristus di dunia yang gelap.
Cikarang, 29 Januari 2026Rm. Ludowikus Andri Novian