Pertobatan Ekologis Sebagai Jalan Kekudusan Hidup Sehari-hari

Dalam peziarahan iman, kekudusan sering kali dibayangkan sebagai tindakan heroik yang jauh dari jangkauan. Namun, melalui refleksi ini kita disadarkan bahwa kekudusan sejati justru terukir dalam keseharian kita, khususnya melalui cara kita memperlakukan alam ciptaan — sebuah proses yang kita kenal sebagai Pertobatan Ekologis.

 1. Akar Spiritualitas: Tinggal dalam Kristus
Pertobatan ekologis bukanlah sekadar gerakan aktivisme lingkungan yang kering. Landasan utamanya adalah relasi yang intim dengan Sang Pencipta. Mengacu pada Yohanes 15:4-5, kita diingatkan: "Tinggallah di dalam Aku... jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku, kamu tidak dapat berbuah." Pertobatan ini dimulai saat kita menyadari bahwa kita Adalah ranting yang menyatu pada Pokok Anggur. Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si’ (LS 217) menegaskan bahwa "spiritualitas tidak terlepas dari tubuh kita, tidak juga dari alam atau dari kenyataan dunia ini". Tanpa kesatuan dengan Kristus, upaya kita menjaga bumi hanya akan menjadi rutinitas tanpa jiwa. Buah dari "tinggal di dalam Kristus" adalah kepedulian yang tulus terhadap sesama makhluk ciptaan-Nya.

2. Lima Prasyarat Kondisi Hati
Untuk melangkah menuju pertobatan ekologis, penataan batin adalah fondasi utama. Ada lima kondisi hati yang harus kita olah:

Rendah Hati dalam Melayani:

Kita dipanggil menanggalkan sikap arogan sebagai penguasa bumi dan mengenakan jubah pelayanan. Ajaran Gereja menekankan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak, melainkan pengelola (steward). "Setiap komunitas dapat mengambil dari hasil bumi apa yang diperlukannya untuk bertahan hidup, tetapi juga memiliki kewajiban untuk melindunginya" (LS 67). Menjadi kudus berarti rendah hati menjaga ekosistem yang menopang kehidupan.

Berbagi dengan Ikhlas:

Mengutip Kahlil Gibran, "Bila engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti." Pertobatan ini menuntut kita menjadi pribadi yang altruis, yang berani berbagi ruang dan sumber daya dengan generasi mendatang. Secara teologis, ini adalah perwujudan dari hukum cinta kasih. Kita dipanggil menjadi pribadi yang menyadari bahwa "bumi ini pada dasarnya adalah warisan bersama, yang hasilnya harus bermanfaat bagi semua orang" (LS 93).

• Bersyukur dalam Segala Hal:

Syukur adalah penawar racun egoisme. Dengan bersyukur, kita berhenti melihat alam sebagai komoditas dan mulai melihatnya sebagai anugerah yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam tradisi Kristiani, Ekaristi adalah bentuk syukur tertinggi yang merangkul seluruh ciptaan. Bersyukur berarti mengakui bahwa setiap makhluk memiliki nilai intrinsik di mata Tuhan.

• Memaafkan dengan Tulus:

Pertobatan ekologis mencakup pembersihan "sampah batin". Dendam dan kebencian Adalah polusi bagi jiwa. Dengan memaafkan, kita menjernihkan relasi antarmanusia yang merupakan bagian tak terpisahkan dari ekologi integral. Pengampunan memulihkan ekologi manusiawi.

• Sabar Menjalani Proses:

Perubahan gaya hidup tidak terjadi dalam semalam. Kesabaran diperlukan untuk terus setia pada langkah-langkah kecil meskipun hasilnya belum terlihat secara instan. Kita diingatkan oleh dokumen universal Earth Charter (Piagam Bumi) bahwa "kita harus menemukan kembali rasa kebersamaan dengan seluruh bumi"—sebuah proses belajar yang menuntut kesabaran iman.

3. Aplikasi: Dari Personal ke Komunal
Pertobatan ini harus mewujud dalam tindakan nyata yang konsisten:

Tindakan Personal:

Dimulai dengan Afirmasi Hati setiap pagi – sebuah niat sadar untuk hidup lebih hemat energi, mengurangi sampah, dan memperlakukan setiap makhluk dengan kasih. Ini adalah jalan kekudusan pribadi yang sunyi. Paus Fransiskus menyebut tindakan kecil seperti menghemat air atau menghindari penggunaan plastik sebagai "kreativitas yang murah hati, yang memunculkan martabat seseorang" (LS 211). Ini adalah "jalan kecil" kekudusan ala St. Therese dari Lisieux yang diterapkan pada alam.

Aplikasi di Lingkungan:

Secara komunal, umat diajak menciptakan "budaya baru" di lingkungan masing-masing. Misalnya, melalui gerakan pengurangan plastik dalam pertemuan lingkungan atau aksi menanam pohon bersama. Pertemuan lingkungan bukan hanya tempat berdoa, tapi tempat mempraktikkan Ekologi Integral. Gerakan kolektif di tingkat lingkungan adalah wujud nyata umat yang "berkatekese dengan hati".

Penutup: Menjadi "Katekis" bagi Ciptaan Pada akhirnya, Pertobatan Ekologis adalah jalan bagi kita untuk menjadi saksi kasih Tuhan melalui cara kita merawat bumi. Sebagaimana pesan dalam Laudato Si’, pertobatan ini membawa kita pada "kesadaran penuh kasih bahwa kita tidak terpisah dari makhluk lain, tetapi bersama dengan mereka membentuk sebuah persaudaraan semesta yang luhur" (LS 220).

Dengan menata hati melalui kerendahan hati, keikhlasan, syukur, pengampunan, dan kesabaran, kita sedang mengubah wajah bumi sekaligus menyucikan jiwa kita sendiri.

Mari kita melangkah, bukan karena kita dipaksa oleh krisis lingkungan, melainkan karena kita didorong oleh kasih yang meluap dari hati yang telah dipulihkan oleh Kristus.

Referensi:
1. Alkitab Terjemahan Baru (Lembaga Alkitab Indonesia): Yohanes 15:4-5 (Perumpamaan tentang Pokok Anggur yang Benar sebagai dasar spiritualitas "Tinggal dalam Kristus").
2. Paus Fransiskus (2015). Ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau): Tentang Perawatan Rumah Kita Bersama. Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI. (Referensi khusus: LS 67 tentang tugas menjaga, LS 211 tentang tindakan kecil, LS 217 tentang spiritualitas ekologis, dan LS 220 tentang persaudaraan semesta).
3. Paus Fransiskus (2018). Gaudete et Exsultate (Bersukacitalah dan Bergembiralah): Tentang Panggilan Menuju Kekudusan di Dunia Dewasa Ini. (Sebagai pendukung konsep kekudusan dalam perkara sehari-hari).
4. Gibran, Kahlil. The Prophet (Sang Nabi). (Kutipan spesifik: "Bila engkau memberi dari dirimu, itulah pemberian yang penuh arti" yang digunakan untuk menjelaskan konsep ketulusan dan sikap altruis).
5. The Earth Charter Initiative (2000). Piagam Bumi (Earth Charter). (Dokumen universal tentang etika lingkungan dan keberlanjutan). 

Beslon Pandiangan
Tim Kontributor Katekese


Post Terkait

Comments