Sambil menantikan kedua orang tuanya untuk berangkat bersama-sama ke Gereja, Tere mencoba mengamati kalender yang berisikan “kalendarium liturgi gereja” yang tergantung di ruang tamu. Dari belakang, Kakaknya Santo memperhatikan. Lewat dua menit, Tere masih juga terpaku pada lembaran kalender bulan Januari. “Ada yang menarik Ter?” Tanya Santo. Tere tidak sadar kalau Santo memperhatikannya. Dengan nada sedikit kaget, Tere menyambut pertanyaan kakaknya dengan riang, “Ah kebetulan ada Kak Santo.
Di kalendarium liturgi ini tertulis bahwa hari Minggu 18 Januari adalah hari Minggu Biasa II. Tere tadi sempat nyari, kok di hari Minggu lalu tidak tertulis hari Minggu Biasa I, ya?” kata Tere memperjelas pertanyaannya. “Hari Minggu sebelumnya tertulis apa di situ?” Santo balik bertanya. Sambil melihat dengan teliti kalendarium yang tadi dibukanya, Tere memberi jawab “Di sini pada tanggal 11 Januari 2026 tertulis Pesta Pembaptisan Tuhan. Hari Minggu sebelumnya lagi, 4 Januari 2026 adalah Hari Raya Penampakan Tuhan”. “Tere bertanya benaran atau pura-pura nanya nih?
Dalam liturgi tahunan Gereja khan ada dua peristiwa penting, yakni Paskah dan Natal. Yang Tere tadi tanyakan adalah Masa Natal. Tere pasti sudah tahu bahwa sebelum Natal ada masa Adven yang berlangsung atau melewati 4 hari minggu. Pesta Natal atau kelahiran Tuhan Yesus kita rayakan setiap tanggal 25, dan masih terus dirayakan Gereja sampai (biasanya) hari Minggu setelah Hari Raya Penampakan Tuhan. Nah, dua minggu lalu (4 Januari 2026) kita merayakan hari Hari Raya Penampakan Tuhan, sehingga Minggu lalu (11 Januari 2026) sesungguhnya kita memasuki masa biasa dalam lingkaran liturgi Gereja. Jadi walaupun tidak tertulis pada kalendarium liturgi, minggu lalu kita menutup, atau menandai secara resmi berakhirnya masa Natal sekaligus memasuki masa biasa. Karena itu pada hari Minggu ini, 18 Januari kita memasuki masa biasa Minggu II. Masa biasa ini akan terus berlangsung sampai kita memasuki masa prapaska (dimulai dengan hari Rabu Abu). Masa biasa akan berlanjut kembali setelah kita menutup Masa Paskah yakni dengan perayaan Pentakosta, Hari Raya turunnya Roh Kudus.
Jadi setelah hari Pentakosa kita akan kembali pada hari Minggu biasa yang akan berlangsung sampai Pesta Kristus Raja Alam Semesta, hari minggu terakhir sebelum Gereja kembali merayakan masa Adven” kata Santo mencoba memberi penjelasan kepada adiknya. Mendengar perbincangan kedua anaknya, Ayah yang muncul dari kamar menghentikan langkahnya lalu, angkat suara, “Mantap, Kak Santo. Namun mungkin perlu ditambahkan bahwa masa biasa tidak berarti ‘tidak istimewa’ atau bukan berarti ‘kurang penting’. Memang peristiwa paling penting dalam kehidupan iman kita adalah Paskah, perayaan kebangkitan Tuhan Yesus. Tanpa kebangkitan Kristus, iman kita hanya kesia-sian sebagaimana ditegaskan Rasul Paulus. Namun harus disadari bahwa masa biasa sesungguhnya merupakan perpanjangan dari Masa Paskah. Hanya dalam masa biasa itu fokus kita adalah pada ajaran dan perbuatan Yesus yang menjadi teladan hidup, bukan pada peristiwa khusus seperti kelahiran atau kebangkitan. Warna hijau yang digunakan selama masa biasa melambangkan harapan, kehidupan, dan pertumbuhan, mencerminkan perjalanan iman yang berkelanjutan. Itu yang ayah pahami dan renungkan”.
Mendengar komentar Ayah, Tere memberi tanggapan, “Tere, barusan membaca bacaan Injil untuk hari Minggu 18 Januari ini. Pesan yang Tere tangkap adalah hendaknya kita menjadi saksi Kristus yang berani dan baik di tengah masyarakat seperti Yohanes Pembaptis. Kata-kata dan perbuatannya sungguh menunjuk pada Yesus. Pada setiap akhir Ekaristi, ada bagian pengutusan sebelum kita pulang dari Gereja. Romo pasti selalu mengucapkan kata yang serupa dengan ‘Pergilah, kamu diutus’ (Ite, missa est). Karena itu, Perayaan Ekaristi sering diganti dengan sebuatan ‘Misa’ atau ‘Kurban Misa’, untuk menandai pentingnya pengutusan”, kata Tere menimpali penjelasan ayahnya.
“Ayah dan Tere”, kata Santo. “Sambil menunggu Ibu, kiranya baik kalau kita bisa memperjelas hubungan antara liturgi misalnya Ekaristi dan kehidupan sehari-hari. Tadi Tere sudah mengatakan bahwa setelah Ekaristi kita diutus. Itu artinya liturgi dan hidup yang lain bukan hal yang terpisah. Tadi Ayah yakin bahwa masa biasa adalah masa merenungkan sisi lain dari hidup Yesus, pengajaran-Nya dan tindakan Yesus yang lain. Nah, bagaimana menyambungkan antara hidup liturgis dengan hidup sebagai karyawan, mahasiswa, jurnalis, politikus, petani, pedagang, pengusaha, pejabat pemerintahan?” kata Santo memancing pendapat Ayah dan adiknya.
Pertanyan Santo membuat Tere kembali angkat suara, “Jelas dua sisi dari satu kenyataan. Orang yang doanya baik harus tampak dalam hidup sehari-hari kepada sesama. Aneh bila orang rajin berdoa tetapi hidupnya penuh tipu daya atau nafsu penuh amarah. Juga aneh apabila hidupnya penuh doa tetapi tidak pernah muncul rasa marah dan kesal melihat penindasan atau ketidakadilan. Juga sesuatu yang kurang apabila merasa cukup berbuat baik tidak perlu ke Gereja atau doa lingkungan. Menurut Tere, dua unsur itu mutlak, saling menopang, saling mengandaikan. Cinta membutuhkan kata-kata dan perbuatan, tidak cukup hanya satu. ”Pertanyaan Santo tidak lain dari upaya menghubungkan antara liturgi dengan aspek kehidupan menggereja lain, seperti kerygma/pewartaan, koinonia/persekutuan, diakonia/pelayanan, dan terutama martiria/kesaksian. Kalau kita berkaca pada Lument Gentium (LG) 31 dan Gaudium et Spes (GS31), hidup orang beriman adalah menjadi garam dan terang dunia. Dalam liturgi kita bicara tentang kitab suci dan menyatukan diri dengan kehendak Allah. Lewat martyria, kita menghadirkan iman hampir tanpa ayat Kitab suci, tetapi lewat cara dan kesaksian hidup. Ayah terharu pernah mendengar seorang pengacara Katolik yang ketika pulang dari kliennya di desa, pulang dengan sukacita walau pun hanya dibayar dengan dua ekor ayam, sekarung singkong hasil kebun.
Betapa besar makna kehadiran seorang Katolik dalam RT yang suka menyapa tetangga dan bekerja sama dengan baik dengan RT-RW setempat, bukan pembuat masalah. Ada contoh seorang dokter yang dikenal dengan dokter dua ribu rupiah. Ada pula dokter yang dikenal dengan nama dokter Apung”, kata Ayah yang tiba-tiba berhenti setelah Ibu keluar kamar. “Maaf Ibu kali ini terlambat” kata Ibu ketika muncul dari kamarnya. “OK, Bunda”, kata Santo. “Ayah barusan sharing tentang arti iman dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Santo, yang paling krusial saat ini adalah perlunya orang muda mempertimbangkan untuk ambil peran dalam pengambilan keputusan untuk nasib orang banyak, artinya ambil bagian dalam dunia politik, entah sebagai pejabat pemerintah maupun sebagai anggota DPR atau DPRD, atau juga pengusaha yang benar-benar memperhatikan nasib banyak orang. Semoga banyak orang muda mempertimbangkannya sebagai cita-cita” kata Santo mengakhiri kalimatnya.
“Ibu sudah siap. Saatnya kita berangkat ke Gereja” kata Ayah sambil mengajak untuk berjalan keluar rumah.
Salvinus MelleseTim Kontributor Katekese