Ketika Yohanes Pembaptis berseru, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29), ia tidak sedang membuka refleksinya yang menenangkan hati. Yohanes bukan MC liturgi yang bertugas menjaga suasana tetap nyaman. Ia nabi, dan para nabi memang spesialis koar-koar mengusik kenyamanan manusia. Kalimat itu bukan hiasan Injil, melainkan diagnosis keras tentang dunia yang sedang sakit. Dosa yang ia maksud bukan sekadar salah niat atau salah langkah pribadi. Si Yohanes menunjuk dosa dunia; yakni arah hidup manusia yang rusak secara kolektif dan diwariskan bersama. Anak Domba Allah dihadirkan bukan untuk memperhalus realitas, tetapi untuk menyelamatkannya dengan cara yang mahal. Injil sejak awal tidak menawarkan iman yang jinak-jinak. Kalau seruan Yohanes terdengar berlebihan, mungkin karena kita sudah terlalu betah dengan dunia yang rusak.
Sementara itu, dosa dunia yang ditunjuk Yohanes blak-blakan di balik simbol-simbol abstrak yang dibuat manusia. Ia hadir terang-terangan dalam kehidupan sehari-hari. Banjir disebut langganan, seolah alam punya jadwal tetap seperti Misa Mingguan. Longsor disebut musibah, seakan-akan tanah tiba-tiba bangun pagi lalu berniat jahat. Cuaca ekstrem dijadikan tersangka utama agar manusia tetap bisa merasa tidak bersalah. Bahasa ini membuat kita tetap soleh tanpa harus bertobat. Kita berbelarasa sebentar, lalu hidup kembali normal. Normal yang sama dengan penyebab bencana. Tragedi diringkas, penderitaan dipercepat, empati disederhanakan. Dosa dunia menjadi paling berbahaya justru ketika (tindakan dan kata) terasa biasa dan tidak lagi mengguncang iman.
Lebih jauh lagi, Yohanes dengan sengaja tidak berkata “dosa manusia”, melainkan “dosa dunia”. Dunia dalam Injil Yohanes menunjuk pada sistem kehidupan yang menolak terang-terangan, tetapi merasa dirinya fine-fine saja. Ketika hutan ditebang, sungai diracuni, dan tanah diperas, itu bukan nasib buruk. Itu hasil dari pilihan manusia yang disusun rapi dalam sistem ekonomi dan di-budaya-kan. Namun kita lebih suka menunjuk cuaca ekstrim yang terjadi daripada menunjuk diri sendiri. Alam dijadikan tersangka, manusia cukup jadi komentator dengan muka iba. Bahkan lebih sadis, Tuhan kerap dipakai sebagai alasan biang keladi. Dengan begitu, eksploitasi bisa terus berjalan sambil tetap terlihat soleh. Menyalahkan alam adalah cara paling religius untuk menghindari pertobatan (ekologis).
Di titik inilah Dilexit Nos (Surat Apostolik Paus Fransiskus; “Ia Telah Mengasihi Kita”) memberi terang-benderang yang tajam bagaimana iman kita dalam konteks tersebut. Dalam Dilexit Nos no. 1 ditegaskan bahwa kasih Allah bukan gagasan manis, melainkan kasih yang menjelma dan masuk ke dalam sejarah yang terluka. Allah tidak mengasihi dunia dari kejauhan dengan tangan bersih. Ia mengasihi dengan turun, menyentuh, dan menanggung akibatnya. Anak Domba Allah tidak menghapus dosa dunia dengan teori dan narasi, tetapi dengan tubuh dan darah-Nya. Kasih ini bukan jenis kasih yang nyaman. Ia adalah kasih yangberani menanggung luka dunia. Namun kita sering ingin kasih tanpa konsekuensi. Kasih Allah terkesan “tidak sopan” ketika ia mengusik kebiasaan dan kenyamanan beriman kita.
Karena itu, Dilexit Nos menempatkan Hati (Kudus) Kristus sebagai pusat pewahyuan kasih Allah yang terluka. Hati itu bukan dekorasi devosi, melainkan realitas kasih yang terbuka dan tertusuk. Luka pada Hati Kristus adalah luka dunia yang tidak ditolak, tetapi dipeluk. Dengan demikian, iman kepada Hati Yesus tidak pernah netral terhadap penderitaan semesta. Merusak bumi berarti mengabaikan kasih yang telah menanggung luka itu. Namun dalam praktik, kita sering memisahkan devosi dari tanggung jawab kongkret. Kita mencintai Hati Kristus dalam doa, tetapi membiarkan dunia terus mengeluarkan darah. Devosi Hati Kristus tanpa pertobatan hidup mudah berubah menjadi pelarian rohani yang sopan.
Selanjutnya, kesaksian Yohanes bahwa Roh turun seperti merpati dan tinggal di atas Yesus (Yoh. 1:32) memberi lapisan makna yang lebih dalam. Kata “tinggal” seharusnya membuat kita sedikit tidak tenang. Allah tidak sekadar mampir ke dunia. Ia menetap.Dunia material dipilih sebagai rumah kehadiran ilahi. Bumi bukan properti sementara yang boleh diperas sebelum ditinggalkan. Merusaknya berarti merusak rumah Roh Allah. Namun hidup modern kita sering memperlakukan bumi seperti kamar kos murah.Dipakai semaunya gue, dirusak, lalu ditinggalkan porak-poranda. Eksploitasi ekologis merupakan cara halus untuk berkata bahwa inkarnasi tidak terlalu penting.
Lebih lanjut, Yohanes menegaskan bahwa Yesus-lah yang membaptis dengan Roh Kudus (Yoh. 1:33). Baptisan ini bukan stiker rohani atau kartu identitas Gereja. Ia adalah perubahan orientasi hidup. Dibaptis berarti hidup dalam relasi yang dipulihkan. Namun iman kita sering berhenti di altar. Liturgi dirayakan dengan khusyuk, sementara gaya hidup tetap boros, rakus dan nyampah tetap dilakukan. Kita berdoa untuk bumi, tetapi hidup kita tidak adil pada Ibu Bumi tanpa ampun. Kita ingin dosa dihapus, asal tidak perlu mengubah kebiasaan. Baptisan kehilangan daya Injili ketika tidak menyentuh cara kita hidup sehari-hari. Dalam konteks itulah Arah Dasar Keuskupan Agung Jakarta berbicara tentang pemulihan dan harmoni dengan semesta sebagai panggilan iman. Ini bukan proyek sampingan atau hobi pehijauan Gereja. Ini konsekuensi langsung dari Injil dan iman akan Hati Kristus yang terluka. Menggugah kepedulian ekologis kita yang sering bersifat musiman.
Datang setelah bencana, lalu menghilang saat situasi membaik. Hidup kembali normal, dan tidak pernah menyentuh akar masalah, mengapa bencana terjadi. Kita rajin menolong korban, tetapi enggan mengubah cara hidup kita. Arah Dasar KAJ menantang kita semua untuk tidak hanya menambal luka, tetapi menghentikan sumber lukanya. Akhirnya, kesaksian Yohanes ditutup dengan sikap yang sederhana: ia melihat, bersaksi, lalu menyingkir (Yoh. 1:34). Yohanes tidak menjadikan krisis sebagai panggung lomba muka iba. Ia tidak sibuk terlihat paling peduli. Ia menunjuk Anak Domba, lalu mundur.
Budaya kita sering sebaliknya. Bahkan kepedulian ekologis rawan menjadi konten dan gimik. Kamera lebih cepat hadir daripada pertobatan (ekologis). Kita ingin terlihat peduli tanpa harus berubah. Anak Domba Allah menghapus dosa dunia bukan agar kitamerasa baik, tetapi agar kita berhenti melukai Ibu Bumi ini yang dikasihi-Nya. Sebab ketika Yohanes menunjuk Anak Domba yang menghapus dosa dunia, ia bukan sedang menjual gimik rohani, melainkan menampar plak-plok iman kita yang terlalu nyaman hidup di atas luka dunia.
Ch Kristiono Puspo SJCampus Ministry ATMI Cikarang