Santa Teresa dari Kalkuta merupakan pelindung umat Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa. Sebutan Gereja Ibu Teresa memperlihatkan bagaimana spiritualitas dan semangat Santa Teresa dari Kalkuta menjadi landasan utama dalam membangun umat beriman dan kepedulian terhadap lingkungan kehidupan masyarakat sekitar.
Kesadaran ekologis yang dikembangkan meliputi kesadaran menjaga pelestarian alam dan memperhatikan lingkungan hidup manusia. Melalui spiritualitas dan semangat Ibu Teresa, kepedulian dan bentuk-bentuk pelayanan merawat orang miskin terus ditumbuh-kembangkan.
Semangat menemukan wajah Kristus dalam melayani orang miskin Orang miskin, dalam segala keterbatasannya, tetap memiliki martabat luhur sebagai manusia ciptaan Allah. Kitab Kejadian menyebutkannya sebagai “gambar Allah” (Kej 1:36 ). Oleh karena itu, dalam diri orang-orang miskin, lemah, dan tersingkir, kita umat beriman bisa menemukan jejak-jejak kehadiran Tuhan. Santa Teresa dari Kalkuta memberikan teladan bagaimana menemukan wajah Tuhan dalam diri orang miskin dan tersingkir yang dilayani. Menghayati semangat Santa Teresa untuk selalu berusaha menemukan wajah Kristus pada diri orang-orang miskin akan meningkatkan kepekaan, kepedulian dan motivasi untuk merawat orang-orang miskin dengan keterlibatan hati dan iman.
Hal ini disebabkan oleh karena wajah Tuhan yang ditemukan dalam pelayanan. Diri orang-orang miskin yang dirawat dan dilayani adalah titik temu bagi perjumpaan mendalam dengan Tuhan. Bagi umat di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa, kehadiran orang-orang miskin di bumi cikarang dapat menjadi arena pelayanan yang mengubah hati dan menghasilkan transformasi iman.
Berdasarkan data stastitik yang dirilis secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bekasi pada tanggal 6 Oktober 2025, jumlah penduduk miskin di Kabupaten Bekasi ada 190.977 jiwa. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan dengan tahun sebelumnya di 2024 yang berjumlah 204.050 jiwa. Batas garis kemisikinan yang dipakai adalah Rp 698.154/kapita/bulan. Dalam bentuk visual, data Kemiskinan Kabupaten Bekasi termasuk Wilayah Cikarang dapat digambarkan dalam tabel berikut:
Peta kondisi warga miskin di Cikarang dapat digambarkan lebih lanjut dari beberapa sudut pandang.
Dari sudut pandang ekonomi, mayoritas warga miskin di Cikarang adalah pekerja di bidang informal seperti buruh pabrik, pedagang kecil, pekerja harian.
Dari sudut pandang pendidikan, anak-anak dari keluarga miskin sering kali harus putus sekolah karena tidak ada biaya.
Dari sudut pandang kesehatan, terdapat keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama bagi pekerja tanpa jaminan kesehatan.
Dari sudut pandang perumahan, banyak keluarga miskin tinggal di kawasan padat penduduk dengan sanitasi yang buruk.
Dari sudut pandang sosial, urbanisasi yang begitu cepat telah membuat banyak keluarga miskin di wilayah Cikarang terpinggirkan.
Di tengah peta kemiskinan Cikarang seperti di atas, umat beriman hidup dan berinteraksi secara nyata dengan masyarakat sekitar. Dalam spiritualitas dan semangat Ibu Teresa dari Kalkuta, banyak umat beriman berinisiatif membangun komunitas-komunitas pemerhati dan komunitas-komunitas pelayanan berdasarkan kesadaran dan kepedulian pada lingkungan kehidupan masyarakat sekitar. Melalui berbagai komunitas pemerhati dan pelayanan umat berusaha menemukan wajah Tuhan yang sedang dan mau dinyatakan. Hal demikian bukan hanya merupakan panggilan sosial, tetapi juga panggilan semangat diakonia yang menyentuh kebutuhan nyata umat beriman dan masyarakat sekitar.
Membangun Gereja sebagai Rumah Kasih Yesus dengan peristiwa wafat dan kebangkitanNya telah meninggalkan kasih abadi bagi umat manusia. Kasih itu hanya terungkap tidak hanya melalui kata-kata tetapi melalui sabda dan karyaNya. Gereja dengan Yesus Kristus sebagai kepalanya dipanggil untuk menjadi rumah kasih bagi semua orang. Rumah kasih ini merupakan tempat yang bisa menerima setiap orang dengan tulus. Ibu Teresa dari Kalkuta dapat menjadi teladan dalam hal ini. Ia mendirikan dapur umum bagi yang lapar. Ia membuka sekolah sederhana bagi anak miskin. Ia juga menyediakan klinik kesehatan bagi mereka yang tidak mampu. Oleh karena itu, semangat kasih mewarnai berbagai bentuk pelayanan yang relevan, menjadi perpanjangan tangan meneruskan kasih abadi tersebut bagi semua orang.
Paroki Cikarang dengan patron pelindung Ibu Teresa secara khusus meneladani semangat ini. Kasih diwujudkan dalam program nyata bagi kepedulian terhadap orang miskin, sakit dan terpinggirkan. Program diakonia bisa berupa apa saja termasuk bantuan pendidikan bagi anak miskin, layanan kesehatan murah bagi keluarga kurang mampu, memberi ruang terbuka bagi mereka yang kesepian dan kurang mendapat perhatian. Semua bentuk pelayanan ini adalah tanda kasih. Kasih yang nyata membuat Gereja hidup, terus tumbuh dan bergerak. Gereja menjadi rumah yang penuh kehangatan yang didambakan setiap orang.
Ibu Teresa dari Kalkuta pernah berkata dengan sederhana “Kekudusan bukan hal mewah milik beberapa orang saja. Kekudusan adalah kewajiban sederhana untuk kamu dan saya. Kita telah diciptakan untuk ini” (Bdk. M. Teresa, 2024). Kalimat ini sangat relevan karena semua orang dipanggil menuju kekudusan salah satunya melalui pelayanan kasih. Perubahan besar dimulai dari langkah kecil. Satu orang bisa disentuh dengan kasih. Satu keluarga bisa dirangkul dengan perhatian. Satu lingkungan bisa diubah dengan semangat kepedulian. Kasih kecil akan berkembang menjadi kasih yang besar.
Ketika umat beriman bersama-sama berusaha meneladan semangat Ibu Teresa dari Kalkuta dengan merawat orang miskin, suasana berubah. Komunitas menjadi lebih penuh kasih. Orang miskin merasa dihargai dan diterima. Santa teresa pernah mengatakan bahwa kemiskinan yang paling mengerikan adalah kesepian dan perasaan tidak diinginkan (Bdk. Towey, 2022). Orang kaya belajar berbagi dengan rendah hati. Anak-anak belajar arti solidaritas sejak dini. Orang tua menjadi teladan dalam pelayanan. Semua orang merasakan keindahan persaudaraan. Kasih membuat perbedaan nyata dalam kehidupan bersama. Kasih yang nyata bukan hanya membantu orang miskin. Kasih juga memperkaya iman umat sendiri.
Melayani orang miskin membuat iman kita terus bertumbuh. Melayani orang miskin membuat hati menjadi lembut. Melayani orang miskin membuat hidup lebih bermakna. Kehadiran orang miskin membuat Gereja semakin kuat dan karya-karya Allah semakin dinyatakan. Melayani orang miskin oleh karenanya juga membuat umat semakin memiliki kepedulian dan bersatu hati. Kasih yang nyata adalah berkat bagi semua orang dan selalu memancar keluar. Pelayanan kasih menjadi tanda persaudaraan sejati. Persaudaraan sejati adalah wujud nyata Kerajaan Allah.
Kerajaan Allah hadir di tengah masyarakat melalui kasih. Gereja menjadi saksi kasih yang hidup. Gereja menjadi rumah yang terbuka bagi semua orang. Gereja menjadi tempat dimana setiap orang diterima. Gereja dengan demikian menjadi tanda pengharapan bagi dunia. Gereja menjadi rumah kasih yang sejati tempat kepedulian, bela rasa terus berkembang. Pelayanan ini menjadi tanda persaudaraan sejati dan kehadiran Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
Doa dan Ekaristi sebagai Sumber KekuatanMother Teresa selalu menghubungkan doa dengan pelayanan. “segala sesuatu mulai dari doa” (Bdk. Teresa, 2023). Ia percaya doa adalah sumber kekuatan. Tanpa doa, pelayanan akan kehilangan arah. Doa membuat hati tetap murni dalam melayani. Doa juga menjaga agar pelayanan tidak sekadar menjadi kegiatan sosial. Doa menuntun setiap langkah dengan kasih. Doa memberi semangat ketika lelah. Doa membuat pelayanan menjadi lebih bermakna sebagai jalan perjumpaan dengan Tuhan.
Umat beriman perlu mengakar dalam doa. Doa harian menjaga iman tetap kuat. Doa harian membuat hati dekat dengan Tuhan. Doa harian memberi ketenangan dalam kesibukan. Doa harian menuntun umat dalam setiap keputusan. Doa harian tentu saja akan menguatkan ketika kita menghadapi masalah. Doa harian membuat pelayanan lebih tulus. Doa harian menjadi dasar dan motivasi iman dalam setiap karya pelayanan sosial. Pelayanan kepada orang miskin sering penuh tantangan. Ada rasa lelah yang bisa muncul setiap saat. Ada kesulitan yang harus dihadapi. Ada penolakan yang bisa mungkin terjadi. Namun doa akan memberi kekuatan untuk bertahan. Doa membuat hati tetap sabar.
Doa menumbuhkan semangat untuk terus melayani meskipun tidak diperhatikan. Doa menjadikan tantangan sebagai jalan-jalan menuju kekudusan. Doa dan pelayanan seringkali tidak bisa dipisahkan. Doa memberi arah bagi pelayanan. Pelayanan memberi isi bagi doa. Keduanya saling melengkapi dalam hidup iman. Tanpa doa, pelayanan menjadi kosong. Tanpa pelayanan, doa menjadi hampa. Doa dan pelayanan bersama-sama membangun Gereja. Doa dan pelayanan membuat iman semakin hidup. Doa bersama dalam Ekaristi adalah sumber dan pusat kehidupan Gereja.
Dalam Ekaristi, umat menerima tubuh dan darah Kristus. Ekaristi memberi kekuatan rohani yang mendalam. Ekaristi meneguhkan iman umat setiap hari Minggu. Ekaristi mengingatkan bahwa Yesus hadir dalam hidup. Ekaristi menjadi sumber kasih yang nyata. Ekaristi menggerakkan umat untuk melayani sesama. Ekaristi membuat Gereja hidup dalam persatuan. Ibu Teresa dari Kalkuta tidak pernah memisahkan pelayanan dari doa dan hidup ekaristis. Ia menegaskan bahwa tanpa doa, pelayanan akan kehilangan arah. Pelayanan umat beriman Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa perlu mengakar pada Ekaristi dan doa harian agar karya sosial tetap berlandaskan iman yang kokoh. Doa memberi kekuatan untuk melayani dengan tulus. Dengan doa, pelayanan merawat, berjalan bersama dan peduli orang miskin menjadi jalan menuju kekudusan semua umat beriman.
Referensi:BPS Kabupaten Bekasi, (2025). Kabupaten Bekasi dalam Angka 2025. Bekasi Regency in Figure 2025. Volume 22, 2025. Bekasi: BPS Kabupaten BekasiTowey, J. (2022). To Love and Be Loved: A Personal Portrait of Mother Teresa. New York: Simon and Schuster Teresa, M. (2024).
Mother Teresa: Just a Pencil in God's Hand: Reflections in Honor of a Saint.,
books.google.com,https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=WEYoEQAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR5&dq=mother+teresa&ots=yVw6A5cB_J&sig=rx4rwaBMZIlTD-V58UQIOk5DCic
Teresa, M. (2023) "Everything starts from prayer: Mother Teresa's meditations on spiritual life for people of all faiths", New York: Monkfish Book Publishing
Andreas YumarmaTim Kontributor Katekese