Wow .... Kekaguman Pada Allah

Wow adalah ungkapan kekaguman atau takjub. Ada tiga WOW dalam perikop bacaan Injil Minggu ini. Wow pertama, murid-murid Yesus takjub dan kagum; “Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang penatu pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu” (Mrk. 9:3-4). Wow kedua, kekaguman mereka mana kala dengan mata kepala sendiri melihat Elia dan Musa tampak berbicara dengan Yesus (Mrk. 9: 5). Wow ketiga, kekaguman (walau diawali ketakutan) mereka ketiga; “Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari awan itu terdengar suara, “Inilah Putera-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia”. (Mrk. 9:7-8). Dalam satu waktu tiga “peristiwa kagum” terjadi. Peristiwa yang sangat luar biasa. Kemudian kekaguman itu dijawab oleh muridmurid dengan cepat-cepat ingin membuat kemah, “Rabi alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami mendirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mrk. 9:6).

Saudara-saudari, tiga wow itu menunjukan sebuah “tahapan menanjak”. Dari hal yang fisik “pakaian-Nya sangat putih berkilauan, kemudian “Elia dan Musa tampak berbicara dengan Yesus”; bukan lagi soal fisik tapi menyatakan sebuah kedekatan relasi yang kuat dengan para Nabi. Dan akhirnya berpuncak pada “Inilah Putera-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia”, legitimasi kuat bahwa Yesus adalah anak Allah yang diutus ke dunia.

Murid-murid punya pengalaman (tiga wow) langsung yang menyatakan bahwa Yesus sungguh anak Allah. Bagi kita, apakah aku punya pengalaman (hanya) satu wow (kagum atau takjub) pada Allah yang kita imani?.

Pertanyaan di atas (mungkin) bisa jadi penuntun “Retret Agung” – masa prapaskah kita. Dalam masa ini, kita diajak melihat – dengan pantang dan puasa – bagaimana Allah memberi wow-wow dalam hidup kita. Atau sebaliknya, kita tidak pernah merasa mendapatkan atau mempunyai wow dalam hidup kita. Bila ini yang dirasakan jangan menjadi tawar dan kecut  hati. Galilah dan galilah terus. Kita mesti terus menggali lebih dalam dengan “pacul” hati dan bukan dengan melulu pikiran. Melihat dengan hati tiap-tiap hidup kita bahwa Allah menyatakan wow itu pada kita. Inilah yang diharapkan dari “Retret Agung”; lebih melihat dengan hati tiap kehidupan (niscaya) melihat Allah wow dalam hidup kita.

Seorang anak menyatakan hendak berpantang jajan pada ibunya. Ibunya mengatakan “apa bisa?”. Dialog sederhana, biasa dan tidak sadar. Bagi anak yang ingin memaknai masa prapaskah dengan sungguh-sungguh pantang jajan sesuatu yang spektakuler. Anak itu ingin mencari wow Allah dalam hidupnya. Tapi si ibu – karena sudah melewati asam dan garam – sudah tidak lagi wow dengan keinginan anak yang mau pantang jajan. Dan cenderung menganggap remeh keinginan anak untuk pantang; wow Allah bisa jadi tidak dirasakan anak. (Mestinya) anak-anak perlu dipandu untuk menemukan wow pada Allah lewat pengalaman kongkret hidup mereka.

Lain cerita, ada seorang ibu bertemu dengan saya mengatakan “Romo, anak saya sedang mengumpulkan sampah plastik sebagai usaha aksi puasa bersama di sekolah”. Ibu itu melanjutkan, “Saya sangat senang di sekolah ada aksi bersama dalam masa pra Paskah ini; apalagi untuk lingkungan hidup”. Cerita ini menurut saya, orang tua dan sekolah memberikan anak-anak kesempatan wow pada Allah lewat kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Saudara-saudari, wow kita pada Allah bisa diusahakan secara bersama dalam masa prapaskah ini. Tidak hanya personal pantang dan puasa ini dan itu. Dan pada akhirnya kita merasakan cinta Allah dalam hidup kita. Semoga masa prapaskah ini membuat kita semakin kagum dengan Allah yang kita yakini melalui hidup harian kita.

Penulis : Christoforus Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments