Wajah Gereja Yang Ingin Diwujudkan

ArDas KAJ 2016-2020 mengamanatkan wajah Gereja yang ingin diwujudkan adalah sebagai persekutuan dan gerakan. Dalam perjalanan waktu, rumusan itu semakin ingin dikonkretkan sebagai tanggapan juga atas situasi riil yang berkembang di tengah masya- rakat.

Gereja yang melayani dengan segala kerendahan hati

Menurut Paus Fransiskus, Gereja harus menjadi sebuah Kisah Cinta dimana orang berjumpa dengan pengalaman dicintai dan mencintai. Lebih jauh lagi, Uskup Suharyo mengajak kita untuk menghindarkan diri menjadi Wasit Rahmat. Kita diajak dengan rendah hati melayani semua orang.

Gereja yang berani untuk berubah (Transformatif)

Pengalaman dikasihi Allah mendorong kita untuk berani meninggalkan kehi- dupan lama dan berani melakukan terobosan-terobosan baru untuk hidup yang lebih baik. Konsekuensi dari Gereja yang transformatif adalah keluar dari zona nyaman yang selama ini menjadi kebiasaan-kebiasaan kita. Dunia berubah begitu cepatnya. Bila Gereja berubah maka Gereja tidak relevan dan tidak signifikan. Hakikat Gereja adalah pembaharuan (Ecclesia Semper Reformanda).

Gereja yang melibatkan semakin banyak orang (Partisipatif)

Salah satu wujud transformasi di Keuskupan Agung Jakarta adalah terbentuknya Dewan Karya Pastoral yang melibatkan banyak elemen yang berkarya di Keuskupan Agung Jakarta (Imam, Biarawan/wati seta umat beriman lainnya). Kadangkala kata ‘awam’ tidak cocok ditempatkan dalam konteks ini karena ‘awam’ berarti tidak menguasai bidang tersebut. Padahal kekayaan dan kekuatan Gereja KAJ yang harus disyukuri adalah begitu banyak talenta istimewa di tengah umat beriman yang dengan pelbagai cara memberikan sumbangsih yang nyata dalam karya pelayanan. Kerjasama dalam sema- ngat egaliter dimana semua orang terlibat menurut kompetensinya tidak terelakkan (Collective Intelligence).

Gereja yang berani masuk dalam suka duka (Inkarnatif)

Pengalaman kita akan Allah mendorong kita untuk terlibat dalam aksi (= terlibat dalam kegembiraan dan harapan, keprihatinan dan kecemasan sesama/dunia) atau politik (= berjuang untuk kebaikan bersama). Bukankah Yesus secara berkala pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan kemudian melanjutkan karya-Nya mewartakan Kerajaan Allah.

Gereja yang terbuka dan menyapa semua orang (Inklusif)

Dalam Seruan Apostolik Sukacita Injil, nomor 47 : “Gereja dipanggil untuk menjadi rumah Bapa, dengan pintu- pintu yang selalu terbuka lebar”. Melanjutkan Gerakan Tahun Persatuan, pasti pada tahun 2019, Gereja diundang untuk tetap berupaya menjalin relasi yang baik dengan semua orang tanpa membeda-bedakan pilihan politik, agama, suku dan budaya. Konsekuensinya, Gereja tidak boleh berfokus pada realitas internal- nya saja, namun juga melakukan Gerakan keluar dan bekerjasama dengan semua pihak.

Sumber : Pedoman Karya dan Inspirasi Gerakan Pastoral Evangelisasi KAJ 2019 Tahun Berhikmat

Sumber gambar: Dokumen Pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments