Tuhan yang Memanggil, Tuhan yang melayakkan - Pembekalan Prodiakon Baru PC GIT

Jumlah prodiakon/prodiakones di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa masih jauh dari cukup, maka untuk menutupi sebagian kekurangannya, gereja kembali mengadakan pembekalan untuk prodiakon/prodiakones baru PCGIT yang terpilih, agar mendapatkan bekal untuk melayani dengan baik. Pembekalan ini bertujuan memberikan pemahaman apa dan siapa (jati diri) prodiakon itu, memberikan bekal Ketrampilan dan Pengetahuan liturgi, dan Peribadatan yang benar serta sekaligus memberikan Spiritualitas yang baik dan sehat, yang akan tercermin dalam kepribadian yang sehat dan matang. Pembekalan dilaksanakan pada tanggal 11-12 Februari 2023 di Wisma Civita, dengan Tema: Supaya IMAN kamu jangan BERGANTUNG pada Hikmat Manusia, Tetapi pada KEKUATAN ALLAH (1 Kor 2 : 5).

Rangkaian acara terdiri dari 4 sesi dan tiap sesi diawali dengan acara ice breaking dipandu oleh Ibu Reni. Sesi 1 dengan materi “Jati Diri Prodiakon” diberikan oleh Romo Antara, dengan menjelaskan apa dan siapa prodiakon itu dalam struktur gereja, tugas yang diberikan, dasar pelayanan, beberapa keistimewaan prodiakon, serta tuntutannya untuk melayani dengan murah hati, rendah hati, setia, selalu membekali diri dengan pengetahuan dan pemahaman liturgi.

Disusul sesi 2 yang dibawakan dengan sangat apik oleh Bapak  Aloysius Prasetya Adiseputra, tokoh senior pengurus gereja dan prodiakon dari Paroki Taman Galaxy, yang memaparkan sejarah dan hakikat ekaristi. Begitu runut dan menarik, yang membuat peserta memahami Tata Perayaan Ekaristi yang sarat dengan spiritualitas dan semua sesuai dengan kitab suci. Dipaparkan bahwa saat seorang prodiakon bertugas, saat itulah dia menjadi milik Kristus dan mewakili-Nya dalam menyapa dan melayani umat dalam ibadat sabda. Maka saat bertugas, seorang prodiakon wajib memakai alba dan singel(pakaian prodiakon), agar dia sepenuhnya mencerminkan Kristus dan menunjukkan kemulian-Nya. Waktu dalam 2 (dua) jam, disesi 2 ini, terasa kurang dan cepat berlalu.

Banyaknya pertanyaan dari para peserta pada setiap sesi, menunjukan kehausan akan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman. Dalam acara ini, panitia menyediakan berbagai bingkisan menarik, berupa buku maupun minuman sehat bagi peserta yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan. Menarik! Hari Pertama, ditutup dengan doa malam yang dibawakan secara leksio devina yang dibimbing oleh Ibu Reni.

Hari ke-2, diawali pukul 6.30, dengan Doa Pagi secara leksio devina. Peserta diminta menuliskan pengalaman doanya. Menjadi suatu pengalaman tersendiri bagi banyak peserta dalam doa hening ini, sebuah kekayaan doa yang dimiliki Gereja dalam merenungkan Sabda Kristus yang hidup.

Sesi 3 yang diisi dengan sharing Perjalanan Iman seorang Prodiakon yang dibawakan oleh Bapak Agustinus Edi Supriyantono, salah seorang prodiakon di Paroki Cikarang. Seorang prodiakon hendaknya terus belajar dengan membaca dan mengikuti pelatihan-pelatihan, baik yang diadakan paroki maupun di luar paroki. Sebuah pengalaman yang indah: “Tuhan tidak memanggil yang sempurna, Dia akan menyempurnakan mereka yang menjawab panggilan-Nya.” Sesi ini berlangsung sangat hidup. Sesi 3 ini dilanjutkan dengan praktek membuat homili dengan cara memahami sabda dengan leksio devina yang dipandu oleh Ibu Reni. Peserta diminta untuk menulis homili di selembar kertas, dan dievaluasi oleh Team Panitia .

Pada sesi 4, Romo Camel memaparkan spiritulitas dengan mendalami tema: Supaya IMAN Kamu Jangan Bergantung pada Hikmat Manusia, Tetapi pada KEKUATAN ALLAH (1 Kor 2 : 5). Seperti Paulus dalam suratnya ke umat di Korintus, merasa tidak layak, takut, dan tidak memiliki kata-kata hikmat untuk disampaikan, demikian juga semua prodiakon tidak ada yang siap untuk menjadi prodiakon. Ketakutan menghadapi umat yang pandai dan berpengalaman, ketidaktahuan akan kitab suci, tidak bisa membawakan renungan, minimnya pengalaman melayani adalah hal yang sangat nyata.

Romo Camel dengan sederhana banyak bertanya kepada para prodiakon hal-hal yang pelik, yang biasa dialami dan ditanyakan oleh umat dan bagaimana para prodiakon ini memberikan jawab dan menyikapinya. Petanyaan yang berhubungan dengan pekerjaan, budaya, bisnis, etika dan bahkan  tentang iman dan kewenangan prodiakon. Romo sebenarnya secara tidak langsung melatih para prodiakon untuk menyikapi dengan hikmat sebagai anak-anak Allah, yang, apabila memilik sikap rendah hati, menghampakan diri, tulus dalam melayani, namun dengan yakin bahwa Allah sendiri akan menolong, semua hal pelik itu sudah disediakan jawabannya oleh Allah.

Di dalam ketaatan menjawab panggilan yang diterimanya, seorang prodiakon, yang bukan siapasiapa, akan mengalami Allah yang bekerja di dalam dirinya. Justru di dalam kelemahannya, di dalam ketidaktahuannya, mereka akan mengalami bahwa Allah turut bekerja dalam setiap pelayanannya. Ketaatan ini akan menuntun seorang prodiakon melangkah dalam iman, yaitu keyakinan akan kekuatan Roh, seperti yang dialami Paulus di Korintus, yang akhirnya setiap orang akan melihat kemuliaan Allah yang semakin besar dan penuh.

Rangkaian acara di hari ke-2 ini ditutup dengan Misa Perutusan oleh romo Camel, homili dilakukan oleh 2 orang prodiakon yang membuat homili terbaik, yaitu Bapak FX Suyadi dan Bapak Widodo.

Seluruh acara dari awal sampai akhir diiringi dengan hujan dan gerimis yang menambah keasyikan suasana Civita yang alami dan rindang. Panitia menyelenggarakannya dengan amat baik dan sigap. Terimakasih kepada seluruh panitia, yaitu para prodiakon di Sektor Cikarang Baru dan Sektor Cibitung, yang diketuai oleh Bapak Dwi Maryanto dan Bapak Alex Moruk.

Proficiat untuk 25 calon prodiakon baru dan 5 orang prodiakon PCGIT yang telah mengikuti pembekalan, SEMANGAT MELAYANI.

Liputan dan Foto : Bp. Dody & Bp. Marcel – Panitia Pembekalan 2023


Post Terkait

Comments