Transfigurasi Yesus Kristus

Salam Teresa…!

Saudari-saudaraku yang terkasih, hari ini kita memasuki Hari Minggu Pekan II Prapaskah. Dalam Injil hari ini, Allah Bapa mewahyukan sendiri tentang siapakah Yesus Kristus itu? Yesus Kristus adalah Putra kesayangan Bapa. Pewahyuan Yesus Kristus sebagai Putra Allah itu terjadi dalam situasi yang sangat mempesona. Penginjil Matius melukiskan “Wajah-Nya bercahaya seperti matahari. Pakaian-Nya putih bersinar seperti terang. Maka tampaklah kepada murid-muridNya Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia”. Lalu mereka mendengar satu suara yang
berseru, “inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”. Inilah peristiwa transfigurasi Tuhan kita Yesus Kristus.

Peristiwa ini terjadi di dalam perjalanan Yesus Kristus menuju Yerusalem tempat Ia menderita. Apa makna peristiwa ini bagi Yesus Kristus dan para murid-Nya? Ada 2 makna :

  1. Peristiwa ini sengaja ditempatkan di sini dalam perjalanan Yesus Kristus menuju Yerusalem agar orang melihat hubungan antara kemuliaan dan misteri salib. Salib memang suatu tragedi. Menurut tradisi orang Roma, salib adalah tempat hukuman bagi para penjahat. Salib adalah sesuatu yang memalukan. Namun bagi orang-orang Katolik, salib justru telah menjadi sesuatu yang lain. Salib telah menjadi lambang kemenangan. Karena itu, bagi orang-orang Katolik, penderitaan atau salib bukanlah akhir darin segala-galanya. Di balik salib masih tersimpan sebuah kemuliaan, kejayaan dan kemenangan.
  2. Kenyataan bahwa Yesus Kristus adalah Putra kesayangan Bapa sama sekali tidak berarti bahwa Dia dibebaskan dari penderitaan. Dengan kata lain, kenyataan bahwa cinta Bapa terhadap Yesus Kristus sama sekali tidak dikurangkan oleh penderitaan Yesus Kristus. Allah Bapa tetap mencintai Yesus Kristus sekalipun Yesus Kristus menderita secara sangat keji. Hal ini memberi pesan yang sama kepada orang-orang Katolik yang menderita. Kenyataan bahwa ada orang yang menderita, bahkan secara tidak masuk akal, sama sekali tidak berarti bahwa Tuhan tidak mencintai mereka.

Saudari-saudaraku, jalan Yesus Kristus adalah jalan kita juga. Kalau Yesus Kristus, Guru kita harus terlebih dulu menderita sebelum memperoleh kemenangan, maka hal yang sama berlaku untuk kita. Kita tidak mungkin memperoleh kebahagiaan, kemenangan, keberhasilan, kalau kita tidak dengan sabar memikul salib kita masing-masing. Namun dalam semua yang kita alami, khusus dengan salib-salib yang kita pikul, percayalah bahwa Tuhan tetap mencintai kita. “Jangan lupa, Tuhan mencintai Anda.”

Dalam peristiwa transfigurasi ini, kita melalui pengalaman para murid (Petrus, Yakobus dan Yohanes) diajak Yesus Kristus mendaki gunung, suatu panggilan bagi kita. Lalu mengalami kemuliaan-Nya di puncak gunung, untuk hidup bersama dalam persekutuan, dan kemudian kita harus turun gunung, diutus untuk menjalani hidup konkret kita di dunia ini dengan segala
tantangan yang ada.

Marilah saudari-saudaraku, di masa Prapaskah ini kita semakin menghayati panggilan hidup kita untuk bersekutu dengan Yesus Kristus Tuhan kita sehingga kita mampu untuk menjalani tugas perutusan kita di dunia ini dengan penuh iman, berpengharapan dan kasih kepadaNya. Tuhan memberkati kita semua.

Penulis : Rm Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments