Tanah yang Baik

Saudara-saudari yang terkasih.

Pada Minggu Biasa ke XV ini Yesus mengajak kita untuk memahami makna perumpamaan tentang seorang penabur. Yesus dalam perumpamaan ini menyampaikan jenis atau rupa tanah tempat benih jatuh: ada yang jatuh di pinggir jalan lalu datanglah burung dan memakannya, ada yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada yang jatuh di tengah semak duri dan ada yang jatuh di tanah yang baik. Benih yang jatuh dipinggir jalan bahkan tidak sempat tumbuh, benih yang jatuh di tanah berbatu tumbuh namun tidak memiliki akar yang kuat, benih yang jatuh di semak duri tumbuh namun terhimpit oleh Semak duri yang tumbuh diantaranya sehingga tidak bertahan lama, dan benih yang jatuh di tanah yang baik tumbuh, berakar kuat dan menghasilkan buah yang berlimpah. Makna dari perumpamaan ini adalah Penabur itu Allah, benih itu Sabda dan tanah itu orang yang menerima benih.

Dari perumpamaan ini penginjil Matius hendak mengatakan bahwa ada berbagai reaksi, respon ataupun tanggapan manusia atas Sabda Allah. Sama seperti benih yang tumbuh di berbagai jenis tanah demikian pula Sabda yang diwartakan kepada manusia. Ada yang menerima dengan senang hati namun tidak sanggup menahan godaan kenikmatan dunia, ada yang menerima namun hanya sekedarnya  saja dan ada yang menerima dengan penuh sukacita dan menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari sehingga sabda itu benar-benar tumbuh dan berbuah didalam dirinya.

Sekarang menjadi sebuah pertanyaan refleksi bagi kita pribadi: bagaimaan reaksi, tanggapan atau respon ku terhadap sabda Allah yang ku dengar? Adakah aku seperti benih yang tumbuh di tanah yang berbatu-batu yang hanya mendengar sekedarnya saja? Atau seperti benih yang tumbuh diantara semak duri, bergembira saat mendengarkan Sabda itu namun tidak sanggup menerima resiko atau konsekuensi dari sabda yang ku dengar dan ku terima? Atau aku sebagai tanah yang baik tempat benih itu tumbuh dan berbuah?

Saudara-saudari yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Allah sebagai penabur pastinya berharap dan menghendaki benih itu tumbuh dan menghasilkan buah yang berlimpah. Allah menghendaki dan berharap agar kita bertumbuh dalam SabdaNya. DIA memanggil kita untuk menjadi tanah yang baik tempat benih itu berbuah limpah, DIA mengajak kita untuk mengubah cara hidup menjadi manusia baru.

Namun apa yang bisa kita lakukan agar Sabda itu tumbuh, berakar dan berbuah dalam diri kita sehingga menghasilkan buah berlimpah ganda? Pertama-tama kita memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan kehendak yang tulus untuk menerima dan terbuka terhadap kuasa Sabda Allah untuk mengubah diri kita, kita diajak untuk berdoa harian, membaca dan mendengarkan Kitab Suci dengan kesadaran penuh, partisipasi aktif dalam perayaan ekaristi dan melakukan kegiatan Rohani lainnya. Namun daripada itu kita juga harus memiliki sikap tekun, setia dan mendengarkan. Seseorang yang sukses melalui berbagai tantangan yang ia hadapi sehingga mencapai puncak kesuksesan, seorang petani memperoleh hasil panen yang baik karena usaha yang besar, ketekunan dan kesabaran serta kerja keras yang tanpa lelah untuk merawat dan memelihara tanamannya. Ingat bahwa usaha tidak akan pernah menghianati hasil. Mari kita bertekun, bersabar dan setia untuk merawat dan memelihara agar sabda itu tumbuh sumbur dan menghasilkan buah yang berlimpah. Salah satu tanda bahwa sabda itu berbuah dalam diri kita ialah siap, mau dan bersedia menyejahterakan satu sama lain atau kata lain mau berbagi bersama sesama. Semoga kita semua menjadi tanah baik tempat benih itu tumbuh, berakar dan berbuah limpah. Tuhan memberkati. Amin

Penulis : Sr Maria septa, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments