Siloam, Artinya Yang Diutus

Saudari/a yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, hari ini kita memasuki Minggu Prapaskah IV yang disebut juga Minggu Laetare (Bersukacitalah). Alat-alat musik dapat dibunyikan dan altar boleh dihiasi dengan bunga, dapat dipakai busana liturgi warna merah muda (PPP. Art.25).

Kembali kita merenungkan untuk mencari kehendak Tuhan yang harus kita lakukan dalam perjalanan hidup kita dengan tema SILOAM artinya yang Diutus. Kolam Siloam adalah sebuah kolam di Yerusalam yang berfungsi sebagai tempat persediaan air. Sejak jaman Daud, kolam Siloam menjadi sumber air suci yang digunakan dalam upacara-upacara di Bait Allah. Kolam ini menjadi sumber air bagi seluruh kota Yerusalem. Siloam dihubungkan oleh terowongan dengan sumber air Gihon.

Bacaan 1 Sam. 16:1b, 6-7, 10-13a. Kisah  Samuel yang mengurapi Daud sebagai Raja Israel masa depan adalah salah satu kisah paling penting dalam Perjanjian Lama. Dari kisah Samuel mengurapi Daud, kita bisa mempelajari pelajaran mendalam tentang Tuhan dan cara-Nya bekerja di antara umat manusia.

Daud adalah putra bungsu Isai dan dia berpikir bahwa yang bungsu ini pastilah tidak akan diurapi menjadi raja. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Ketika Daud masuk, Tuhan berbicara kepada Samuel dan menyuruhnya untuk mengurapi Daud muda sebagai Raja Israel berikutnya. Kita belajar beberapa kebenaran mendalam tentang Tuhan dan bagaimana Dia bekerja dalam hidup kita.

Berikut adalah tiga hal yang dapat kita pelajari tentang Tuhan dari saat Samuel mengurapi Daud. Pertama, kita belajar bahwa Tuhan menghargai hal kecil yang kita anggap tidak pen- ting. Kedua, kita belajar bahwa Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk diutus tetapi Dia juga memberdayakan dalam tugas perutusan. Ketiga, saat kita mempelajari bagaimana Samuel mengurapi Daud, kita diingatkan bahwa Tuhan menghargai yang kecil dan tampaknya tidak penting, Tuhan memanggil kita untuk melakukan pekerjaan yang menantang tetapi Dia juga memberdayakan kita untuk melakukan pekerjaan itu dan akhirnya, Tuhan tidak pernah terburu-buru, Dia mengambil waktu-Nya.

Kita juga terkadang tidak sabar, namun Tuhan selalu sabar dan menyelesaikan apa yang menjadi perhatian kita sesuai dengan waktu-Nya. Sementara kita menunggu Tuhan untuk melakukan apa yang Dia janjikan, Dia sedang mengembangkan karakter kita dan mempersiapkan rencana-Nya yang sempurna. Pada bacaan Efesus 5:8-14 mengajak kita supaya kita hidup sebagai anak-anak terang. Terang itu haruslah membuahkan kebaikan dan kebenaran. Sebagai anak-anak terang kita harus menjalin hubungan yang baik dengan sesama sebagai wujud perutusan dari Bapa.

Pada bacaan injil Yoh.9:1-41 (panjang) atau Yoh.9:1,6-9,13-17,34-38 (singkat) : Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam” (Yoh. 9:7). Arti harfiah siloam adalah ”pengirim” atau ”pembawa”, tetapi penulis Injil Yohanes mengartikannya sebagai ”yang diutus”. Lalu, siapakah yang diutus? Sebelumnya, Yesus menegaskan: ”Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus  Aku, selama masih siang” (Yoh. 9:4). Jelas dalam kalimat ini, Yesuslah yang dimaksud dengan ”yang diutus itu”.

Membasuh diri dalam kolam Siloam makna simbolisnya adalah membasuh diri di dalam diri Yesus sendiri. Yang menarik, masih dalam kalimat tadi, Sang Guru melibatkan para murid-Nya untuk mengerjakan pekerjaan Allah. Sebenarnya itu pula yang dimaksudkan Yesus dengan pernyataan sebelumnya: ”Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia” (Yoh. 9:3). Dan inilah yang kurang dipahami para murid. Para murid hanya menjadikan orang buta itu bahan percakapan. Namun Sang Guru melakukan sesuatu. Itu berarti kita - orang percaya diutus bukan hanya mempercakapkan penderitaan orang lain, kesengsaraan orang lain, keburukan orang lain, bahkan kejelekan orang lain, namun mengerjakan pekerjaan Allah.

Allah adalah Allah yang bekerja. Hingga saat ini Dia tetap bekerja. Dan kita, umat-Nya, dipanggil untuk mengerjakan pekerjaan-Nya. Yesus tidak hanya berbicara Dia melakukan sesuatu. Orang buta itu pun melihat. (ada proses tidak hanya dalam arti fisik tapi keseluruhan dirinya).

Menarik pula diperhatikan, orang buta itu sendiri adalah pribadi yang diutus. Pertama, dia diutus untuk pergi ke Siloam. Kedua, dia bersaksi atas pekerjaan Allah dalam dirinya. Karena kesaksiannya itu, dia pun diusir ke luar oleh orang-orang Farisi. Dan akhirnya, dia pun sungguh-sungguh berjumpa dengan Yesus dan percaya kepada-Nya.

Nah, semua tokoh dalam bacaan dan bacaan injil terlibat dalam perutusan pekerjaan Allah dengan panggilannya masing-masing dan dengan cara yang Tuhan kehendaki (proses). Bagaimana dengan kita ? Apakah pekerjaan Allah yang harus kita kerjakan? Apakah kita dan siap/mau diutus ?

Penulis : Sr. Loren, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments