Pesta Pembaptisan Tuhan

Saudari-saudaraku yang terkasih, hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan Yesus. Pesta ini menutup Masa Natal. Kita perlu mendalami dengan baik misteri pembaptisan Yesus ini. Mungkin ilustrasi ini bisa membantu kita memahami makna pembaptisan yang kita terima.

Pada suatu hari, seorang Pastor sedang berjalan bersama dengan seorang karyawan pabrik sabun. Tiba-tiba, karyawan itu berkata, “Apa gunanya menjadi Katolik? Toh banyak kejahatan di dunia ini yang dilakukan oleh orang-orang Katolik. Karena itu lebih baik tidak usah dipermandikan sebagai orang Katolik”. Pastor hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan karyawan tersebut.

Mereka berjalan terus. Tiba-tiba mereka melihat seorang anak yang sedang bermain dan mukanya sangat kotor. Lalu kata Pastor kepada karyawan pabrik sabun tadi, “Saudara engkau lihat anak kecil itu. Katanya sabun bisa membuat orang bersih. Tapi lihatlah anak itu. Dengan semua sabun yang ada di dunia, ia tidak akan berhasil membersihkan tubuhnya. Karena itu, saya heran kalau sabun itu masih ada gunanya.” Dengan nada agak protes, karyawan pabrik sabun itu menjawab, “Tapi Pastor, sabun itu tidak ada gunanya kalo tidak dipergunakan dengan baik.” “Persis”, kata Pastor, “demikianpun halnya dengan baptis. Baptis tidak mempunyai arti kalau orang tidak menghayatinya.”

Pesan dari cerita itu kiranya cukup jelas. Sabun itu tidak berguna untuk membersihkan tubuh kalau tidak dipergunakan dengan baik. Obat tidak akan berguna untuk menyembuhkan penyakit kalau tidak diminum. Demikianpun dengan IMAN. IMAN tidak akan membuat orang menjadi baik kalau ia tidak hidup menurut IMANnya itu. Seorang Katolik tidak akan menjadi Kristiani kalau ia tidak hidup sesuai dengan IMANnya itu.

Saudari-saudara, dalam Pesta Pembaptisan ini Allah Bapa memberikan gelar baru kepada Yesus Kristus sebagai “Anak Yang Dikasihi”. Dengan identitas baru itu, Yesus Kritus sungguh menyadari diri-Nya sebagai Putra Kesayangan Bapa dengan segala konsekuensinya, termasuk melaksanakan kehendak Bapa, yakni mengalahkan kejahatan dengan menderita dan wafat di salib.

Saudari-saudara, apa yang bisa kita petik dari Injil tentang Pembaptisan Yesus Kristus? Kita tahu bahwa Yesus Kristus datang seperti orang banyak untuk menerima baptisan tobat. Dalam kesempatan ini Yesus Kristus memberi ruang gerak bagi Roh Allah dan kehadiran Allah yang menjadi nyata. Artinya Yesus Kristus mau berbagi kehidupan dengan manusia : ikut merasakan kegelisahan, kesulitan dan kerisauan manusia. Kesediaan Yesus Kristus berbagi keprihatinan dengan manusia itu menjadi jalan bagi Allah untuk hadir di tengah-tengah kita. Allah tidak meninggalkan manusia yang gelisah, menderita dan mengalami kesusahan. Hal ini yang harus kita sadari sebagai orang yang mengimani Yesus Kristus. Bahwa Dia datang ke dunia bahkan minta dibaptis seperti kita untuk hal tersebut : Dia mau merasakan dan bahkan mengalami seperti yang kita alami dalam kehidupan kita ini.

Saudari-saudara, maka kita harus bersyukur memiliki Tuhan yang tahu sungguh bagaimana rasanya derita. Kita bersyukur memiliki Yesus Kristus yang tergantung di salib. Marilah kita belajar pada-Nya, menimba kekuatan dari-Nya. Kita percayakan segala susah duka hidup kita dalam Dia. Saat kita pedih, saat kita letih, mari kita pandang Yesus, mari kita pegang salib-Nya.

Saudari-saudara, ketika kita, keluarga kita sedang mengalami kesulitan, kegagalan, dan keluarga kita sedang bergulat dengan masalah yang berat dan tak tahu bagaimana harus menyelesaikannya. Bahkan keluarga kita sedang jatuh dalam lembah jurang yang dalam, dan tak bisa lagi melihat jalan keluar. Terlebih dalam perjuangan kita semua mengatasi pandemi COVID-19 ini yang sungguh berdampak bagi kita semua. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya, banyak yang kehilangan pekerjaan dan lain-lain. Dalam semuanya itu kita diingatkan akan Sabda Tuhan yang disampaikan nabi Yesaya, “Hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak punya uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!”

Saudari-saudaraku, itu semua karena Tuhan kita itu sangat peduli dengan kita. Marilah kita mengingat kembali makna pembaptisan kita masing-masing. Untuk apa aku dibaptis? Apa konsekuensinya jika aku menerima baptisan? Apa saja yang telah dan akan aku buat setelah aku menjadi anggota resmi Gereja Katolik? Jangan-jangan aku hanya Katolik KTP, hari Minggu jarang ke gereja (berdasarkan mood saja), apalagi kegiatan di lingkungan?

Melalui Sakramen Baptis, kita telah menerima identitas baru, yakni nama Katolik, pengikut Yesus. Maka, kita pun harus hidup sesuai dengan cara hidup Yesus, yakni melaksanakan kehendak Bapa. Itulah artinya Katolik, murid-murid Yesus dan nama yang kita terima ketika dibaptis bagi kita. Karena Yesus mau berbagi keprihatinan dengan kita manusia yang berdosa ini agar kita pun mampu menjadi jalan bagi Allah yang hadir di tengah-tengah hidup kita. Amin.

Penulis : Rm. Antara Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments