Ikut Tuhan itu nyatanya nggak gampang ya? Banyak lika-likunya yang tidak tertebak oleh akal manusia yang terbatas ini. Ketika manusia menginkan ‘A’, ternyata Tuhan mengarahkannya ke yang ‘B’. Ketika udah pasrah dan mau ikut Tuhan ke yang ‘B’, ternyata Tuhan mau kita untuk ke yang ‘C’ dulu. Jika dipandang dengan kacamata dunia, tentu akan sangat sulit untuk kita hayati. Oleh karena itu, butuh hati yang lapang serta cara pandang Allah untuk mengetahui apa yang Ia kehendaki dalam hidup kita.
Hari ini, Yesus menunjukkan 2 sikap manusia di hadapan kehendak Bapa (Bdk. Mat. 21:28-32). Tokoh anak pertama, menunjukkan sikap manusia yang kurang rendah hati di hadapan Allah karena merasa mampu untuk melakukan kehendak Bapanya. Akan tetapi, dalam kenyataannya, ia melalaikan perintah Bapanya dan tidak berhasil menjalankan tugas yang menjadi tanggungjawabnya. Tokoh pertama menunjukkan sikap kepura-puraan, di mana ia tampak peduli,namun kenyataannya terbalik. Di satu sisi, tokoh anak kedua, secara terus terang menolak perintah Bapanya, namun dalam perjalanannya ia menyesal dan sesegera mungkin berusaha menjalani perintah Bapanya.
Kisah ini ingin menunjukkan bahwa mengikuti kehendak Bapa itu tidak mudah. Manusia seringkali memiliki rencananya sendiri dan lupa bahwa ada rencana yang lebih luhur dalam hidupnya, yaitu rencana Bapa. Manusia yang kurang rendah hati seringkali merasa mampu untuk menjalani rencana Bapa, namun dalam prosesnya ia terlalu sombong karena merasa mampu menyelami pikiran Bapa yang begitu luas. Pada akhirnya, kesombongan itu membawanya jauh dari Bapa dan menyerah dengan kehendak Bapa. Akan tetapi, Bapa menghendaki kita untuk bersikap rendah hati di hadapan-Nya. Kita diajak untuk menyadari kerapuhan kita dan diminta untuk berjalan bersama dengan Dia perlahan-lahan. Meskipun di awal menolak, tetapi kasih Bapa memampukan kita untuk berbalik dan bertobat. Dengan kasih-Nya yang luas, kita bisa menjadi tokoh anak kedua, yang tampak abai tetapi dengan sekuat hati berusaha mengikuti kehendak Allah yang sulit dipahami nalar manusia.
Pada akhirnya, pertobatanlah yang menyelamatkan. Sikap yang rendah hati, mengakui kekurangan, kelemahan, dan kerapuhan diri, membantu kita untuk semakin bergantung pada Dia. Dengan demikian, secara perlahan-lahan dan pasti, kita akan melihat kemuliaan Allah yang begitu agung. Lebih dari itu pula, kita bisa melihat rencana kehendak Allah secara lebih jelas.
Penulis : Fr. Marcellino Mario Amput
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa