Persembahan yang Tulus

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dalam minggu biasa yang ke XXXII ini Yesus memperlihatkan bagaimana harus memberi persembahan dengan tulus melalui 2 tokoh yang memiliki sikap yang bertolak belakang dalam injil hari ini yaitu ahli-ahli Taurat, dimana mereka suka memakai jubah yang panjang, suka menerima penghormatan, suka duduk di tempat terdepan dalam rumah ibadat dan mengelabui orang-orang dengan doa-doa yang panjang.

Yesus mengkritik kemunafikan mereka ini yang menunjukkan kesalehan hidup, semata-mata melakukan kebenaran Firman Tuhan, tetapi yang sebenarnya mereka menipu dengan penampilan luar agar dihormati dan dipuji serta diperlakukan secara istimewa, mereka melakukan kebaikan bukan dengan ketulusan hati. Dan yang kedua yaitu janda miskin walaupun memberi sedikit hanya 2 peser tetapi memberi dengan sepenuh hati dan bahkan memberikan seluruh nafkahnya kepada Tuhan.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih sama seperti ahli-ahli Taurat atau seperti janda miskin? Untuk menemukan jawabannnya kita dapat melihat dari pengalaman hidup kita seharihari. Saya akan membagikan pengalaman saya tentang persembahan kepada Tuhan. Sewaktu kerja, saya mulai menyisihkan uang gaji 10% untuk persembahan kepada Tuhan. Awalnya saya ragu melakukannya, karena saya takut uang saya akan habis sebelum gajian. Untuk memulai dalam bulan itu membutuhkan komitmen yang kuat, saya harus bisa, dan setelah saya lakukan saya tidak kekurangan dan bahkan uang saku saya tetap ada dan lebih dari biasanya. Dari situ saya tidak takut lagi untuk memberi apa yang saya miliki, dan akhirnya saya memutuskan untuk mempersembahkan diri melayani Tuhan melalui hidup membiara.

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, bagaimana sikap kita dalam memberi persembahan yang tulus kepada Tuhan :
1.
Bukan dari yang sudah ada, tetapi dari yang disiapkan khusus untuk Tuhan. Orang kaya memberi dari kelimpahannya, dengan kata lain bahwa ia memiliki uang yang  banyak, tetapi janda miskin itu benar-benar menyisihkan dari yang dimilikinya untuk hidup. Memberi merupakan pergumulan di antara berhitung dan beriman. Jika kita diberkati dengan kekayaan, maka kita bisa menghitung berapa yang akan diberikan untuk Tuhan. Tetapi jikalau kita dalam kekurangan mempersembahkan untuk Tuhan adalah pergumulan iman.
2.
Mempersembahkan bukan siapa pemberinya, tetapi bagaimana sikap kita dalam memberi. Semakin hidup kita diberkati, semakin tergoda untuk membuat perhitungan dengan Tuhan, hati kita melekat kemana? Kepada uang yang kita dapatkan dengan susah payah atau kepada Tuhan yang memberkati kita dengan berkelimpahan. Adakah kita memberi persembahan dengan tulus dan bagaimana tanggapan kita jika seseorang mengatakan “tidak apa-apa mempersembahkan sedikit asalkan dengan tulus, padahal yang dimilikinya cukup berlimpah”. Apa sebenarnya yang membuat kita takut memberi? Ada cuplikan film saya lihat, seorang adik yang mengatakan kepada kakaknya yang menderita autis, apa yang tidak kita butuhkan kita dapat memberikannya kepada orang yang membutuhkannya. Tetapi jawaban sang kakak adalah “jika saya memberikan apa yang saya miliki, jadi apalagi yang menjadi milik saya”.
3. Mempersembahkan kepada Tuhan adalah bukti ketaatan iman. Seperti dalam bacaan pertama janda di Sarfat yang dikunjungi nabi Elia atas perintah Tuhan dan menyuruhnya untuk menyediakan makanan, padahal persediaan makanan yang ada padanya hanya cukup untuk dirinya dan anaknya untuk hari itu saja. Tetapi nabi Elia meneguhkan iman janda itu untuk tetap menyediakan makanan baginya dan perempuan itu percaya dan melakukan apa yang diperintahkan Nabi Elia, sehingga pada akhirnya minyak dalam buli-buli dan tepung dalam tempayan tidak abis-habis dalam waktu yang lama.

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, jangan pernah takut untuk memberi, karena Tuhan senantiasa memperhitungkannya dan selalu memelihara hidup kita. Dengan memberi kita akan menerima dan persembahkanlah hal yang berharga yang kita miliki demi kemuliaan Nama Tuhan, jadilah seperti janda miskin yang memberi dengan ketulusan hati.

Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments