Pelatihan P3K Dasar di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa

“First Aid for Everyone and Everywhere”. Pertolongan Pertama dapat dilakukan siapa saja dan di mana saja. Melihat beberapa kasus yang terjadi pada saat misa dan diperlukan pertolongan pertama saat itu, dari tim pelayanan PCGIT mengadakan Pelatihan P3K Dasar pada hari Sabtu pagi, 18 Maret 2023. Pelatihan bertempat di ruang kelas lantai 3 Gedung Trinitas.

Mengapa Pelatihan P3K ini dilakukan? Kristian Bayu Kuncoro atau akrab dipanggil Mas Bayu, Dewan Paroki Koordinator Bidang Pelayanan mengatakan jika pelatihan ini dilakukan sebagai salah satu program dari bidang pelayanan. Dari hasil masukan umat dan evaluasi kasus-kasus yang terjadi pada saat misa. Pelatihan P3K dimulai dengan Pelatihan P3K Dasar yang ditargetkan peserta dari perwakilan Tim Talak/Balapatria, Pemerhati Sakristi, perwakilan sektor/lingkungan dan dari tim kesehatan/balkesmas paroki.

Pukul 10.00 WIB pagi, peserta mulai berdatangan, mengisi Daftar Hadir. Pelatihan kali ini diikuti oleh 30 orang dari perwakilan Tim Talak/ Balapatria, Lingkungan/sektor, Pemerhati Sakristi, Pemerhati Hias Altar, Apoteker, juga Perawat. Tepat  Pukul 10.15 WIB. acara dibuka oleh Elisabeth (Koordiantor Sub Bidang Kesehatan), diikuti kata sambutan dari Emirita (Koordinator Sub Bidang Balkesmas) dan doa pembukaan.

Tibalah acara inti dari Pelatihan ini yang dibawakan oleh dokter Budianto Ibrahim. Di awal, dokter Budi mencoba membuka pandangan tentang Pertolongan Pertama. Pertolongan Pertama (P3K) dasar tidak hanya bisa dilakukan tenaga medis saja tetapi semua orang. Kejadian tidak terduga bisa terjadi kapan saja dan di mana saja. Pertolongan yang cepat dan tepat, dapat menyelamatkan jiwa penderita, mencegah kecacatan, memberikan rasa nyaman serta menunjang proses penyembuhan.

Pelatihan kali ini meliputi Prinsip P3K, Ciri Gangguan pada Korban, Apa yang Dilakukan dalam P3K, Transportasi dan Evakuasi, Studi Kasus dan Praktek Singkat P3K. Pelatihan bentuknya interaktif sehingga peserta dipersilahkan untuk bertanya dan sharing.

Dokter Budi memaparkan tentang Prinsip P3K. Yang pertama, utama bisa menjaga keselamatan sendiri, tim, korban dan orang sekitar, kemudian dapat menjangkau korban. Dokter Budi mengilustrasikan dengan kejadian orang kesetrum. Si penolong jika mau menolong langsung tanpa mematikan dulu aliran listrik, malah si penolong akan ikut menjadi korbannya.

Saat menilai situasi, sikap tidak panik (Don’t Panic) perlu dipunya si penolong. Si penolong sebaiknya dapat memberikan rasa nyaman kepada si korban. Selanjutnya kenali bahaya dan sumber bahaya itu sendiri, dan kenali jenis pertolongan.

Apakah semua kasus bisa ditolong? Nah di sesi pelatihan ini, peserta juga diajak untuk menganalisa kasuskasus apa saja yang dapat ditolong di tempat dan yang perlu segera dirujuk ke rumah sakit atau ditangani oleh tim medis. Peserta diajarkan cara menilai kondisi korban.

Sepanjang acara, peserta tampak antusias. Pertanyaan-pertanyaan mengalir dari peserta. Sesi semakin menarik saat studi kasus dan praktek langsung. Peserta diajarkan cara menghitung nadi dan cara menilai pernafasan. Ada juga yang berperan sebagai korban untuk melatih bagaimana cara evakuasi korban. Peserta juga diberikan pengetahuan cara menggunakan tabung oksigen.

Waktu 2 jam tidak terasa berlalu. Sebelum sesi berakhir, dari seksi pelayanan meyampaikan Alur Rujukan ke RS. Take Home Message dari pelatihan ini R U S H (Ready, Urgent, Safety, Help). Semoga para peserta pelatihan kali ini dapat membagikan informasi yang didapat ke lingkungan dan dapat mempraktekkan teknik dasar pada saat kejadian terjadi. Pelatihan-pelatihan selanjutnya dapat menjadi agenda rutin Bidang Pelayanan.

 Liputan dan Foto : dr. Riani Hapsari


Post Terkait

Comments