Pekerjaan merupakan Kerjasama dengan Allah Seputar Dunia Kerja

A. Hakekat Manusia sebagai gambar dan citra Allah
Manusia diciptakan menurut gambar dan citra Allah ( Kej. 1:27) dan diberi kuasa untuk mengelola alam raya seisinya (Kej.1:28), berarti manusia diberi kuasa untuk mengenal dan mencintai Allah serta dipanggil, supaya dalam pengertian dan cinta mengambil bagian dalam kehidupan Allah (bdk KGK 356), ini bermakna bahwa ada relasi timbal balik antara:

1) Manusia dengan Sang Pencipta
i) Sebagai mahluk ciptaan maka ada perbedaan radikal diantara yang diciptakan dengan Penciptanya
ii) Manusia ada karena diciptakan Allah dan diberi hidup oleh-Nya serta sangat tergantung kepada-Nya, sebab diluar Dia manusia tidak bisa apa-apa (bdk Yoh. 15:5b); ia diangkat menjadi subyek dan bukan obyek untuk bersinergi melestarikan dan memelihara seluruh alam raya seisinya agar tetap baik bahkan menjadi lebih baik, meskipun ia dianugerahi
free will/kehendak bebas.
iii) Tuhan menciptakan segala sesuatu untuk manusia (Bdk. GS 12,1; 24,2; 39,1), tetapi manusia itu sendiri diciptakan untuk melayani Allah, untuk mencintai-Nya dan untuk mempersembahkan seluruh ciptaan kepada-Nya (bdk KGK 358)

2) Manusia dengan dirinya sendiri :
i) Manusia memiliki martabat sebagai pribadi: ia bukan hanya sesuatu, melainkan seorang. Ia mampu mengenal diri sendiri, menjadi tuan atas dirinya, mengabdikan diri dalam kebebasan dan hidup dalam kebersamaan dengan orang lain (bdk KGK 357)
ii) Menggunakan
free will/kehendak bebasnya untuk bisa berpikir, bertindak, berusaha, dan bisa menentukan mana yang benar dan baik, mana yang serviam, mana yang non-serviam

3) Manusia dengan sesama mahluk ciptaan Tuhan
i) Selain berperan sebagai mahluk individu, manusia juga berperan sebagai mahluk sosial. Untuk membangun relasi yang harmonis dalam bermasyarakat maka harkat dan martabat setiap individu harus diakui secara penuh dalam mencapai kebahagiaan bersama
ii) Masyarakat merupakan wadah bagi para individu untuk melakukan interaksi dan interelasi sosial.
iii) Sebagai mahluk sosial, manusia dikaruniai oleh Sang Pencipta antara lain sifat rukun dengan sesama

4) Manusia dengan lingkungan hidup atau alam raya
i) Sang Pencipta memberi kuasa kepada manusia untuk menguasai alam raya , yang berarti manusia diciptakan dan dipanggil serta diutus untuk ikut serta mengatur, memelihara, merawat, melestarikan alam raya menjadi tetap baik bahkan lebih baik lagi (bdk Ke.j 1:28); dalam hal ini manusia dipercaya mewakili Allah (bdk Kej. 1:27)
ii) Sebagai “citra Allah” , “wajah Allah”, “wakil Allah” maka manusia menjadi “pusat“ alam semesta (bdk Sir. 17:3-10).
iii) Manusia tidak bisa hidup tanpa menggunakan segala sesuatu yang ada pada alam. Ketergantungan manusia-alam atau alam-manusia, menjadikan manusia menggunakan hasil alam untuk kelangsungan hidup dan kehidupannya. Manusia-alam atau lingkungan hidup-manusia, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia harus menjaga dan memelihara lingkungan hidup sebagai mana ia merawat dan menjaga dirinya.

B. “Kerja sebagai partisipasi dalam kegiatan Sang Pencipta (Refleksi Etis-Teologis Atas Makna Kerja Manusia Menurut Laborem Exercens 25, JP II)
Dalam Kej. 1:27 dikatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri. Tujuannya adalah agar manusia berpartisipasi dalam karya-Nya. Partisipasi manusia dalam karya Allah menurut Paus Yohanes Paulus II dalam Laborem Exercens diungkapkan dengan bekerja atau melakukan aktifitas/kegiatan yang diarahkan kepada suatu kemajuan manusia, entah rohani, jasmani atau pun kegiatan yang mau mempertahankan suatu kekayaan yang sudah diperoleh. Dalam arti ini, manusia merupakan co-creator atau rekan kerja Allah Sang Kreator.

Manusia yang bekerja memperlihatkan bahwa manusia itu melebihi semua makhluk yang lainnya sebab hanya dialah yang bisa bekerja. Segala ciptaan yang lain diciptakan  oleh Allah dengan kualitas “baik” (Kej. 1:4.10.12.18.21.25), sementara manusia diciptakan dengan kualitas “sangat baik”.

Manusia harus meneladan Allah penciptanya dalam bekerja, sebab hanya manusia yang mempunyai ciri unik menyerupai Allah. Manusia harus berpola pada Allah dalam bekerja maupun dalam beristirahat, sebab Allah sendiri bermaksud menyajikan kegiatan-Nya menciptakan alam dalam bentuk kerja dan istirahat.

Manusia dipanggil untuk bekerja membangun dunia ciptaan Allah berdasarkan kesadaran dan dorongan hatinya. Artinya bahwa pekerjaan manusia akan kehilangan maknanya jika dipaksakan dari luar (orang lain). Kerja paksa belaka merendahkan martabat manusia sederajat dengan binatang. Kegiatan manusia baru disebut kerja apabila keluar dari dalam diri manusia sendiri sebagai makhluk yang berakal budi. Karena itu, semua jenis pekerjaan sama saja martabat dan nilainya. Tidak ada pekerjaan yang kurang atau yang lebih mulia dan luhur. Yang membedakan pekerjaan manusia adalah dari sudut hasil (penghasilan) yang diperoleh manusia. Akan tetapi, hasil kerja seseorang tidak boleh dinikmati hanya oleh dirinya sendiri. Orang-orang yang mempunyai harta milik dan hasil kerja yang lebih harus dibagikan kepada orang lain yang berkekurangan. Disinilah letak nilai sosialitas dari kerja manusia.

B-1. Munculnya LE merupakan hasil dari keprihatinan Gereja atas :
1. Nasib manusia pekerja yang martabatnya diabaikan oleh para pemilik modal.
2. Manusia dilihat sebagai budak sehingga diperlakukan sebebas-bebasnya termasuk membelenggunya.
3. Persepsi manusia sering menganggap pekerjaannya sebagai dewa sehingga mengabaikan aktifitas-aktifitas yang lain dari manusia itu sendiri.

B-2 Dalam LE, Paus Yohanes Paulus II menegaskan :
Kedudukan kerja pada pusat masalah sosial. Ia mengatakan bahwa manusia adalah subyek kerja yang benar. Kerja mengungkapkan martabat manusia dan menambah martabat manusia. Paus mendukung hak-hak buruh untuk berserikat.

Manusia yang bekerja berada dalam tata penyelamatan yang tidak dapat dipisahkan dari tata penciptaan. Karena itu, manusia yang bekerja juga adalah manusia yang dikuduskan oleh Allah. Dengan bekerja manusia tidak hanya menyempurnakan dirinya  sebagai makhluk Tuhan saja, tetapi juga dengan bekerja ia menyucikan dirinya sebagai manusia yang dikuduskan. Pekerjaan manusia tidak hanya mempunyai nilai manusiawi-keduniaan dan nilai etis saja, tetapi juga mempunyai nilai keagamaan dan merupakan sarana penyelamatan.

C. Relevansi & Rangkuman
Dari uraian di atas, ada beberapa relevansi yang bermakna bagi manusia zaman sekarang.
1) Pertama, kerja atau bekerja merupakan bentuk partisipasi manusia dalam karya Allah. Allah telah bekerja menciptakan dunia dan segala isinya kemudian diserahkan kepada manusia untuk memeliharanya. Karya Allah untuk mencipta tidak berhenti setelah Ia menciptakan alam semesta dan segalanya selama enam hari (Kej 1:1-2:3), tetapi terus berlangsung hingga sekarang ini. Yesus Kristus mengatakan, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga”.
2) Kedua, dalam bekerja manusia hendaknya meniru kerja Allah. Artinya ada waktu untuk bekerja dan ada waktu untuk istirahat. Kerja manusia haruslah dibarengi dengan hidup batin dan penyerahan diri kepada Allah. Manusia bekerja tidak hanya dalam aktivitas fisik dan otak, tetapi juga dalam arti rohani yaitu dalam iman dan doa. Hal ini telah diperintahkan oleh Allah kepada manusia. “Enam hari lamanya engkau melakukan pekerjaanmu, tetapi pada hari ketujuh haruslah engkau berhenti” (Kej 23:12)
3) Ketiga, melalui dan dengan bekerja manusia semakin serupa dengan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej 1:27-28) dengan tujuan agar manusia mengerjakan, melengkapi, dan menyempurnakan alam ciptaan Allah dengan baik dan bijaksana. Manusia yang bekerja berarti ia berpartisipasi dalam karya Allah. Dengan bertanggungjawab atas alam semesta dan segala isinya, manusia mencerminkan kebaikan dan kebesaran Tuhan. Manusia menjadi serupa dengan Allah. Dengan bekerja, manusia menciptakan di dalam jiwa dan raganya suatu “kebudayaan” yang memuliakan Allah. Amin.

Salam Damai Kristus & Berkah Dalem

Penulis : Aloysius Haryanto

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments