Hari Minggu, 12 Maret 2023 para katekumen (calon baptis) Paroki Cikarang tahun pengajaran 2022-2023 melaksanakan kunjungan ke Gereja dan Museum Katedral Jakarta. Sebanyak 48 orang calon baptis berkumpul di depan Polsek Cikarang Selatan dan berangkat bersama pukul 08.00 dengan satu bis besar. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian pembelajaran bagi mereka yang sudah dimulai sejak tanggal 5 Juni 2022.
Dalam acara kunjungan kali ini, para calon baptis mengikuti misa mingguan pukul 11.00 di Gereja Katedral Jakarta atau bernama resmi Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Kunjungan kali ini didampingi oleh 5 orang pendamping calon baptis. Dalam perjalanan, selama 30 menit Bapak Nimrot Siregar memberikan renungan mengenai 7 Sabda Bahagia saat Yesus di salib dan sisa 30 menit diadakan sharing serta bersukacita dalam kuis dan lagu.
Pukul 09.30 rombongan tiba di gereja Katedral. Misa pukul 08.30 belum selesai, sehingga kami menunggu di area parkir gereja dan beberapa dari mereka menyempatkan diri untuk bertemu sapa dengan Bapa Uskup Ignatius Kardinal Suharyo yang saat itu keluar dari wisma untuk berkegiatan keluar.
Tepat pukul 10.00 para calon baptis memasuki gereja Katedral dan duduk di bagian depan gereja Katedral. Suasana yang berbeda dan baru membuat beberapa dari mereka bertanya segala hal yang mereka dilihat seperti orgel, bangku Uskup, penerjemah bahasa isyarat yang bertugas, ornamen dan patung Orang Kudus yang ada di dalam gereja Katedral.
Misa dipimpin oleh Romo Albertus Hani Rudi Hartoko, SJ. Renungan mengenai wanita Samaria yang memberikan minum kepada Yesus dijelaskan dalam refleksi singkat. Dimana Tuhan Yesus memberikan suatu percakapan penuh ide dan gagasan untuk mentransformasi pemahaman tentang air bagi wanita tersebut. Dari sekedar air untuk minum menjadi air hidup, dari wanita biasa menjadi wanita saksi yang mewartakan kepada kaumnya tentang Yesus serta transformasi dari hubungan orang Yahudi dan Samaria yang dikenal saat itu tidak baik menjadi persahabatan dimana Yesus diminta tinggal lebih lama di pemukiman orang Samaria. Romo Hani mengatakan juga bahwa para calon baptis pun perlu belajar mentranformasikan iman seperti layaknya Bunda Teresa dari kegundahannya yang selalu teringang kata-kata Yesus, Aku haus, lalu menjawabnya dengan melayani mereka yang paling hina yaitu para penderita kusta dan orang terlantar di Kalkuta.
Setelah itu kunjungan dilanjutkan menuju Gua Maria untuk berdoa kepada Bunda Maria melalui doa Rosario, Novena 3 Salam Maria dan doa pribadi para calon baptis. Sambil menunggu pukul 13.30 untuk memasuki museum. Sehabis doa di Gua Maria, peserta dan pendamping makan siang dan juga mencicipi ragam kuliner yang dijual di depan Gereja Katedral.
Terakhir rombongan dibagi menjadi kelompok, yaitu kelompok calon baptis dewasa dan remaja. Dipandu oleh ibu Lily dan ibu Mariana, mereka diajak untuk melihat sejarah gereja Katolik di Batavia hingga saat ini.
Museum Katedral sangat bagus dan nyaman. Ruangannya bersih dan tertata rapi. Para calon baptis dapat melihat dan memahami banyak hal baru. Dimulai dari sejarah berdirinya Keuskupan Agung Jakarta, sejarah gereja Katedral, penyebaran agama Katolik di Indonesia, peralatan misa dari jaman ke jaman, tradisi misa, peralatan sakramen, sejarah Kitab Suci dan masih banyak lagi. Ibu Lili dan Ibu Mariana menceritakan dengan runut, jelas dan memberi atensi lebih pada hal-hal dimana para calon baptis banyak bertanya.
Saat itu cukup lama membahas dan menerangkan mengenai Relikwi. Relikwi merupakan salah satu bentuk bagian atau mewakili Santo atau Santa Pelindung dari suatu paroki. Relikwi dibagi dalam 3 tingkatan. Tingkatan pertama adalah relikwi diambil dari bagian tubuh Santo/Santa pelindung. Tingkatan kedua adalah relikwi diambil dari pakaian, jubah, kerudung dan segala sesuatu yang penting dari Santo/Santa pelindung. Lalu tingkatan ketiga adalah relikwi diambil dari benda-benda yang pernah disentuh oleh Santo/Santa pelindung. Gereja Katedral menggunakan kain kerudung Bunda Maria yang asli sebagai Relikwi. Bagaimana dengan Paroki Cikarang? Paroki Cikarang menggunakan darah dari Bunda Teresa sebagai Relikwi yang tersimpan dalam suatu kotak kaca.
Setelah itu ada beberapa topik diskusi dan pertanyaan lainnya selama melihat benda-benda peninggalan masa lalu gereja Katolik di museum Katedral. Mereka sangat antusias mendengarkan penjelasan dari Ibu Lily dan Ibu Mariana. Kunjungan museum bagian terakhir yaitu menonton film sejarah berdirinya gereja Katolik di Indonesia dalam sebuah ruangan teater.
Dari mengikuti misa, berdoa di Gua Maria sampai dengan museum, para calon baptis merasakan hal yang indah dan sangat bermakna satu hari minggu tersebut. Dalam bincang-bincang di bis beberapa katekumen semakin mantap dan siap untuk menerima Sakramen Baptis dan Ekaristi pada tanggal 26 Maret 2023 nanti. Menghayati iman Katolik perlu pemahaman dan tindakan nyata. Seperti homili yang dibawakan Romo Hani bagaimana bisa menerima air hidup dari Tuhan Yesus sehingga kita tidak haus lagi akan jalan hidup bersama Kristus.
Semoga semua rangkaian pembelajaran selama 10 bulan ini membawa mereka pada hidup rohani yang baru. Terima kasih para Pembina dan calon baptis atas semua usaha dan kerjasamanya. Selamat mempersiapkan hati dan diri untuk penerimaan Sakramen Baptis dan Ekaristi.
Liputan dan Foto : Benediktus Yudi Setiawan