Saudara/i yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus,
Kembali kita mencari kehendak Tuhan supaya kita dapat melaksanakannya dengan mendengarkan dan merenungkan sabda-Nya lewat bacaan injil pada minggu ini. Dalam bacaan injil kita dapat mengetahui situasi yang terjadi yaitu tentang Yesus dan Yohanes Pembaptis, dimana dua tokoh tersebut saling bersaksi satu sama lain. Yohanes bersaksi tentang Yesus sebagai Mesias dengan berseru-seru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan Yesus Kristus dan banyak orang percaya akan apa yang dikatakannya, dan dalam perjalanan waktu Yohanes sendiri mengalami tantangan-tantangan sebagai nabi yang berani menegur dengan keras orang berdosa untuk bertobat, termasuk Raja Herodes yang mengambil isteri saudaranya sendiri yang merupakan raja yang berkuasa pada zaman itu.
Atas tindakannya tersebut, Yohanes harus menanggung akibat menderita di penjara dan pada akhirnya ia mati oleh kedengkian Herodias atas teguran tersebut. Yohanes menyadari dirinya hanya pembuka jalan (bdk Yoh 1:19-37) sehingga ia harus menangungnya sendiri dalam situasi yang ia alami. Keyakinannya mulai goyah dan ragu, dan ia pun mengutus para muridnya untuk datang dan bertanya kepada Yesus : ”Engkaukah yang akan datang itu? Atau haruskah kami menantikan yang lain?”
Atas pertanyaan itu Yesus menyuruh para murid Yohanes untuk kembali dan menceritakan apa yang mereka dengar dan saksikan tentang segala sesuatu yang diperbuat Yesus. Yesus sendiri bersaksi mengenai Yohanes, seorang yang lebih besar diantara mereka yang dilahirkan di dunia namun yang terkecil dari kerajaan sorga lebih besar daripadanya.
Apa yang dapat kita maknai dari kisah tersebut? Menanti, menunggu bagi sebagian orang adalah suatu tindakan yang sangat membosankan. Namun kita sebagai umat beriman yang penuh dengan harapan, iman dan kasih tidaklah demikian dalam menjalani masa Adven ini. Bapa mengharapkan kita untuk antusias dalam masa penantian ini sebagaimana yang dilakukan oleh Yohanes yang berusaha mempersiapkan jalan bagi Putera-Nya dan merendahkan dirinya.
Kita manusia terkadang dengan bangganya menceritakan sejarah hidup iman kekudusan dari orang kudus atau tokoh-tokoh Kitab Suci. Mereka semua juga dengan penuh liku berjuang hidup seturut kehendak Tuhan, yang juga memiliki masa yang jauh dari Tuhan, seperti Yohanes juga mengalami kesulitan dan keraguan namun berusaha kembali.
Bagaimana dengan kita ? Apakah yang kita tuliskan, ukir dalam sejarah hidup kita khususnya dalam masa penantian ini? Kita akan menjalani Adven ke 3. Marilah para saudara/i yang terkasih, untuk mengisi sejarah hidup kita pada masa penantian ini dengan tindakan dan perbuatan yang layak dan untuk kedatangan Tuhan kita Yesus Kristus sehingga “tempat” yang kita sediakan membuat Tuhan kita Yesus Kristus merasa nyaman untuk tinggal di tempat yang kita sudah persiapkan. Amin.
Penulis : Sr. Loren, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa