Menjadi Pelayan Bagi Sesama

Saudara-saudari, indahnya kehidupan adalah ketika kita bisa ambil bagian di dalamnya. Melakukan dengan baik apa yang bisa dilakukan, dan menerima dengan lapang dada apa yang belum bisa dilakukan, dan juga mensyukuri apa yang terjadi dalam kehidupan.

Sebagai manusia, kita bisa berkata lebih banyak daripada apa yang dialami. Karena itu, kita seringkali lebih banyak mengomentari daripada mensyukuri apa yang dialami dan lebih banyak mengamati daripada berbuat. Sebab, mata tidak pernah puas untuk melihat, demikian juga mulut sulit menahan diri untuk tidak berkata-kata. Tetapi tangan mudah lelah untuk berbuat dan hati mudah kecut untuk merasakan yang tidak sesuai untuknya.

Kitab Ibrani mengatakan dengan baik jiwa dari pelayanan seorang Kristiani, yaitu menjadi imam agung yang mau merasakan atau mengalami apa yang dirasakan banyak orang dan ketika godaan datang, ia tidak jatuh dan tidak melakukan dosa. Jiwa pelayanan adalah berani melakukan sesuatu, menjadi bagian dari orang lain, dan menghadapi cobaan tanpa berbuat dosa. Jika hal ini disadari dan selalu dibawa, maka kita tidak akan mudah jatuh pada kepentingan dan kesenangan pribadi dengan mengatasnamakan pelayanan. Banyak orang berdosa karena mengatasnamakan pelayanan (agama atau lembaga). Dan banyak orang masuk penjara karena menyalahgunakan pelayanan. Dan bahkan banyak orang tidak mau melayani lagi karena perilaku buruk orang-orang tertentu.

Sehingga pelayanan menjadi bahan pembicaraan. Sebab, banyak hal terjadi di luar yang kita harapkan. Seharusnya pelayanan membawa orang untuk selalu bersyukur, bukan menuntut orang pada perkara dan penjara.

Hari ini Yesus mengambil salah satu contoh di mana pelayanan menjadi bahan perdebatan. Mengapa diperdebatkan? Karena para pelayan/ murid-murid tidak berlomba menjadi hamba bagi sesama, tetapi berlomba menjadi tuan dan mencari tempat yang aman; tidak berlomba memberi pertolongan, tetapi untuk mendapatkan pertolongan; tidak berlomba rendah hati untuk mengangkat yang papa, tetapi tinggi hati untuk merasakan kemapanan. Maka, indah sekali teguran Yesus yang secara langsung dan tersirat mengatakan bahwa kita dipanggil untuk melayani, menjadi hamba dan memberikan nyawa untuk tebusan bagi banyak orang.

Panggilan pelayanan bagi sesama adalah cinta, jiwa pelayanan adalah kasih. Disinilah “surga” bagi kita semua yang mengambil bagian dalam karya Yesus, yaitu salib menuntun jalan ke surga. Surga itu suatu kehormatan. Kehormatan itu tidak diminta, tetapi diberikan bagi mereka yang mau melayani dengan tulus. Demikian juga surga akan diterima oleh orang yang “memberikan surga” kepada sesama : rasa damai, perhatian, kesetiaan, pengampunan, pelayanan tulus, dan sebagainya. Semoga. Amin.

Sr Helma SFMA

Sumber gambar: 3.bp.blogspot.com


Post Terkait

Comments