Menghadapi Penolakan

Secara manusiawi, setiap orang ingin diterima oleh orang lain. Tetapi, yang terjadi dalam kehidupan kita, kita sering mengalami penolakan, walaupun maksud kita baik. Biasa- nya, saat kita menghadapi penolak- an, kita lalu menjadi kecewa, sakit hati, bahkan timbul keinginan untuk balas dendam. Itulah tanggapan negatif yang seringkali muncul di diri kita. Mengapa? Pada dasarnya kita tidak mau ditolak, bahkan sebalik- nya, kita ingin diterima oleh orang lain, bahkan kalau bisa dihargai dan dihormati. Sebuah penolakan itu merupakan suatu hal yang sangat menyakitkan dan memalukan, dan hal ini dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. 

Dalam Kitab Suci diceritakan kisah perjalanan Tuhan Yesus ke tempat asal-Nya sendiri, Nazaret. Ia berkeli- ling untuk memberitakan kabar baik dan mengajar banyak orang, namun orang-orang sekampung- Nya sendiri menolak Dia. Sebagai manusia, Tuhan Yesus juga mengalami penolakan. Akan tetapi, Tuhan Yesus tetap bersikap tenang menghadapinya. Jika kita mengalami hal ini mungkin kita akan merasa kecil hati, merasa kecewa dan sakit hati, dendam atau kehilangan pegang- an. Tapi tidak bagi Yesus. Yesus terus melakukan pelayanan dengan semangat pantang mundur. Meng- apa bisa seperti itu? Karena Yesus tahu tujuan-Nya turun ke dunia. Dia turun bukan untuk mencari pengakuan atau penghormatan dari manusia, melainkan untuk menyelesaikan kehendak Bapa yang meng- utus-Nya.

Bacaan Minggu ini, Lukas 4:21-30, menjelaskan tentang penolakan orang-orang Nazaret terhadap Tuhan Yesus. Dikisahkan bahwa setelah tampil di Galilea menyerukan gagasan tentang 'Kerajaan Allah` dan mengajak semua orang untuk bertobat dan percaya kepada lnjil maka Tuhan Yesus kembali ke Nazareth. Seperti biasa, la pergi ke Sinagoga untuk berdoa, beribadah dan mengajar orang banyak tentang Kitab Suci. Topik yang diajarkan adalah penggenapan nubuat nabi Yesaya tentang hamba yang diurapi Allah untuk mewartakan kabar baik dan melaksanakan karya pembebasan dan penyelamatan bagi semua orang. “Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem.” (Lukas 13:33). Fokusnya Tuhan Yesus jelas, melakukan kehendak Bapa dan bukan tergantung dari respon manusia.

Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Tuhan Yesus yang pernah ditolak, baik di pekerjaan, di ling- kungan masyarakat? Maukah kita meneladan Yesus dengan mengampuni orang-orang yang telah menolak kita, apapun bentuk penolakannya, dan tetap mengasihi mereka?

Kita perlu belajar dari Tuhan Yesus. Bahwa sejauh kita mengucapkan dan melakukan segala sesuatu dengan baik dan benar, maka kita harus siap menghadapi penolakan dari pihak manapun, khusus mereka yang marah dan memusuhi kita. Kita berusaha menghindar jika ditolak, karena ada maksud Tuhan di balik penolakan, yakni membuat hidup kita menjadi berkat bagi orang lain. Penolakan jangan sampai membuat kita patah semangat dan hancur berantakan dalam kegagalan. Justru penolakan-penolakan itu seharusnya mampu menjadi stimulus atau penyemangat, dan pembelajaran bagi kita agar kita bisa tumbuh lebih kuat dalam berjuang mencapai tujuan. 

Pada suatu kali kegigihan kita akan berbuah, dengan pengalaman- pengalaman yang justru membuat kita tumbuh sebagai anak-anak Tuhan yang dewasa, bijaksana dan bermental baja. Kita fokus pada rencana Tuhan bagi hidup kita, dan  pengalaman itu kita pakai menjadi titik tolak dan sebagai batu loncatan untuk sebuah kesuksesan. Kita tetap dan selalu bersukacita dalam keadaan apapun, sebab sukacita sejati bukan berasal dari manusia atau keadaan di dunia, melainkan berasal dari Tuhan. “Ya karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya.” (Mazmur 33:21). Sukacita sejati yang berasal dari Tuhan sesungguhnya jauh berada di atas segala permasalahan, penolakan dan orang-orang yang mengecewakan kita.

Marilah kita memohon rahmat supaya kita dimampukan untuk mengasihi dan mengampuni orang-orang yang menolak kita. Tuhan memberkati.

Sumber: Br. Paulus FIC

Sumber gambar: Dokumentasi Pribadi Warta Teresa

 


Post Terkait

Comments