Saudari-saudara yang dikasihi Tuhan, dalam minggu biasa yang ke XXXI ini kita diajak untuk mengasihi Tuhan dan sesama, seperti dalam ayat 30 “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu”. Ini berarti kita mengasihi Tuhan dengan totalitas hidup kita dengan menuruti segala perintahNya dan menaruh perhatian penuh kepada kepentingan-kepentingan Tuhan dengan mengutamakan apa yang Tuhan kehendaki. Hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan merangkum seluruh diri kita.
Mengasihi dengan segenap hati berarti menyerahkan segala proses pemikiran, perasaan dan keputusan hanya kepada Tuhan untuk dituntun dan dimanfaatkan demi tercapainya kehendak Tuhan. Dengan segenap jiwa berarti menyerahkan segala perkara nafsu keinginan kepada kehendak Tuhan. Dengan segenap akal budi berarti memikirkan segala sesuatu yang berkenan kepada Tuhan bukan berpikir untuk kepentingan diri sendiri. Dengan segenap kekuatan berarti bertindak dengan sekuat tenaga menegakkan keadilan dan kebenaran.
Saudari-saudara yang terkasih, hukum yang sejalan dari mengasihi Tuhan yaitu mengasihi sesama. “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Secara logika perkataan Yesus ini mudah dimengerti karena mustahil seseorang mampu mengasihi dan menghormati orang lain jika dirinya sendiri tidak dikasihi. Pertanyaannya siapakah sesama manusia yang dimaksud Tuhan? Apakah hanya sebatas anggota keluarga kita, satu suku, satu agama atau hanya orang yang dekat dengan kita?
Menurut pemahaman orang Yahudi bahwa sesama itu adalah sesama Yahudi, sementara di luar itu adalah kafir, yang tidak layak untuk dikasihi. Dan yang paling menyedihkan, mereka hanya mengasihi orang-orang tertentu sesuai dengan jabatan dan status sosialnya sedangkan orang-orang yang miskin, terpinggirkan, orang sakit, para janda dan orang berdosa tidak mereka pedulikan dan membiarkan ditindas dan menindas mereka.
Bagaimana dengan kita, apakah kita sama dengan orang Yahudi? Hari ini Yesus menegur kita bahwa mengasihi itu tidak seperti cara orang Yahudi. Melainkan sesama kita adalah setiap orang siapa pun itu jadi mengasihi sesama seperti diri sendiri, berarti memposisikan mereka sebagai orang yang berharga dalam hidup kita. Bahkan Yesus juga mengatakan kita harus mengasihi sesama meskipun dia membenci atau memusuhi kita dengan mendoakannya.
Saudari-saudara yang terkasih, mengapa kita harus mengasihi? Karena Allah menciptakan kita dengan kasih dan dengan mengasihi kita menemukan kebahagiaan. Kebahagiaan tidak diukur dari kekayaan, kekuasaan dan jabatan. Mari kita lihat dalam hidup sehari-hari dan menanyakannya pada diri sendiri: Sudahkah saya menjadi berkat bagi pasangan, anak-anak, keluarga, lingkungan, tempat kerja, di gereja dan bagi Yesus?
Atau adakah kebencian di dalam hati karena telah banyak menyakiti kita? (kebencian menjauhkan kita dari hadapan Allah seperti kebencian Kain yang akhirnya membunuh adiknya Habel). Mari kita melepaskan rasa benci, dendam, iri dan belajar mengenakan Kasih Tuhan agar buah-buah Roh senatiasa menyertai kita (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri).
Saudara-saudari yang terkasih, mengasihi Tuhan dan sesama adalah hukum yang terutama dan utama. Mengasihi tidak hanya cukup dalam teori tetapi membutuhkan tindakan dan banyak hal yang bisa kita lakukan. “Apa yang kita lakukan untuk saudara kita yang palinghina kita telah melakukannya untuk Yesus”.
Mari kita tidak jemu-jemu berbuat baik. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa