Banyak keluarga-keluarga masyarakat Cikarang, Cibitung, Karawang dan umat beriman lingkungan-lingkungan seperti Maria Magdalena, Laurensius, Blasius Agung, lingkungan Ratu Rosari dan beberapa lingkungan lainnya di Paroki Cikarang mengalami penderitaan luar biasa akibat bencana banjir. Kecemasan terhadap penyebaran Covid-19 yang masih berlangsung tenggelam dalam jungkir balik perjuangan untuk bisa hidup. Berjam-jam terisolir tanpa listrik, komunikasi dan berjibaku menyelamatkan anggota keluarga atau apa yang bisa diselamatkan, serta dalam keterbatasan berusaha keras saling membantu menyelamatkan dan membersihkan rumah setelah air surut.
Peristiwa-peristiwa menyayat dan menyentuh hati tak akan terhapuskan dari ingatan dan pengalaman. Bencana akibat banjir yang tidak terduga sama sekali sebelumnya sampai separah itu harus dihadapi oleh banyak orang. Kehilangan harta benda dan milik berharga yang hanyut, menyaksikan ibu-ibu mengungsi menggendong bayi dalam kondisi kelaparan demi keselamatan anaknya ataupun bapak-bapak harus menjebol atap untuk menyelamatkan sanak keluarga merupakan perjuangan pengharapan atas peluang untuk bertahan hidup. Berbasah kuyup atau jatuh dalam air atau terbawa arus merupakan bagian dari pemandangan beratnya beban para kurban bencana banjir. Di lain pihak, warga yang bebas banjir dan relawan yang berkehendak baik juga menghadapi gap antara keinginan mau menolong dan halangan genangan ataupun derasnya air mengalir. Hal tersebut menjadi pergulatan batin tersendiri menyangkut wujud iman, hidup, penderitaan, keterbatasan dan pengharapan.
Membangun harapan Kristiani di tengah situasi di atas dapat kita renungkan dari dua sisi, yakni sisi kurban banjir dan sisi relawan atau orang-orang yang berkehendak baik mau menolong. Dari sisi kurban banjir, usaha membangun harapan Kristiani dilaksanakan dengan bertahan, tabah dan sabar menghadapi penderitaan. Airmata dan keringat seperti sudah habis, namun tetap harus kuat, bertahan dan melakukan apa yang bisa dilakukan menjadi wujud nyata harapan Kristiani tersebut. Teladan Bapa Abraham yang membawa Ishak ke Gunung Muria untuk dipersembahkan (Bdk Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18) kiranya menjadi kekuatan pengharapan untuk bisa mempersembahkan apa yang paling berharga yang kita miliki. Di situlah dalam iman sebagai wujud harapan, tangan Tuhan dan malaikat-malaikatNya akan dinyatakan menjadi peristiwa penyelamatan dan kekuatan rohani umat beriman.
Harapan kristiani bersumber pada karya penyelamatan dan penebusan Kristus Tuhan yang senantiasa ditawarkan bagi umat manusia. Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma menegaskan bahwa Allah menyerahkan Anaknya yang tunggal untuk keselamatan kita (Rm 8:31b-34). Iman kepercayaan bahwa Allah di pihak kita dan bersama kita menjadi landasan harapan Kristiani umat beriman. Oleh karena itu membangun harapan Kristiani dapat memperoleh wujudnya secara konkrit dalam kesabaran, ketabahan, upaya-upaya kehidupan sekaligus tetap tabah dan bersyukur meskipun harus bersusah payah dan bertahan dalam pengungsian dan penderitaan.
Dari sisi lain, umat beriman yang tidak kena banjir atau relawan-relawan yang berkehendak baik membangun harapan Kristiani dengan kerelaan memberikan bantuan baik berujud makanan, alat-alat membersihkan rumah ataupun aneka ekspresi perhatian dan empati. Melalui orang-orang beriman dan relawan yang tulus hati tersebut, kebaikan-kebaikan Tuhandinyatakan dan Kerajaan Allah diwartakan. Melalui kepedulian dan kebaikan-kebaikan bagi yang sedang membutuhkan, tidak sedikit orang menjadi tersentuh dan memuliakan Tuhan. Dengan kata lain, harapan Kristiani dibangun dan dilaksanakan dalam karya-karya kebaikan, kepedulian dan kemanusiaan. Kedua sisi membangun harapan Kristiani di atas, menggarisbawahi bahwa apapun status dan kondisi umat beriman, harapan Kristiani tetap dapat terus dibangun dan dilaksanakan.
Membangun harapan Kristiani menjadi semakin lengkap ketika disatukan dengan iman dan kasih. Dengan demikian harapan Kristiani dapat menjadi kekuatan penghiburan dan ketabahan sekaligus kekuatan motivasi menghadirkan karya-karya kebaikan Tuhan pada siapa saja yang sedang menderita, miskin dan tersingkir oleh bencana banjir, keadaan darurattanah longsor, pandemi/sakit dan kebijakan publik yang tidak berkeadilan
Penulis : Andreas Yumarma
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa