Memahami Yesus dalam Kemuliaan-Nya

Melihat pengalaman Yesus dari perikop ini, kita memahami perasaan dominan yang dialami oleh Petrus dan 2 murid lainnya adalah bingung, takut, dan heran. Pengalaman Petrus menarik untuk kita renungkan karena:
1. Ia salah satu dari 3 yang terpilih untuk menemani Yesus naik ke gunung.
2. Ia melihat bagaimana Yesus berubah rupa dan juga melihat Elia dan Musa
3. Petrus mengalami kebingungan dengan apa yang dilihatnya dan menawarkan kepada Yesus untuk membangun 3 tenda. Dalam ketakutan, Petrus mencoba melakukan sesuatu.
4. Petrus bersama murid lainnya mendengar suara dari dalam awan
5. Setelah mendengar suara, keadaan berubah kembali normal
6. Petrus dan muridnya turun dari gunung
7. Petrus dengan murid lainnya mempersoalkan tentang “Bangkit dari antara orang mati.”

Petrus melihat orang besar dan dianggap sudah mati hadir depan mata, yaitu Elia dan Musa, bukan hal yang mudah diterima dengan akal sehat. Apalagi Yesus saat berbicara dengan 2 orang ini dengan kemuliaan-Nya. Elia di mata orang Israel dianggap sebagai nabi besar karena nabi ini yang mengingatkan orang Israel untuk bertobat. Elia digambarkan naik ke surga dengan naik kereta berapi (disaksikan penggantinya, Nabi Elisa).

Musa di mata orang Israel dianggap sebagai nabi besar karena membebaskan Israel dari Mesir dan mengantar Israel ke tanah terjanji. Melalui Musa, Allah menjalin perjanjian dengan Israel. Perjanjian yang disebut Perjanjian Sinai. Penampakan kedua nabi besar ini mengartikan tentang karya Yesus yang terkait dengan kedua nabi besar ini yaitu pertobatan dan pembebasan. Penampakan Yesus di depan muridnya memberi tanda bahwa hidup-Nya merupakan penggenapan atas tindakan dari kedua nabi ini. Yesus menegaskan di depan murid bahwa penampakan kemuliaan-Nya menjadi yang utama daripada kebesaran Elia dan Musa.

Kembali ke para murid yang didominasi dengan perasaan heran, bingung, dan takut. Mereka mengalami ini karena belum melihat rencana keselamatan Allah secara utuh. Hal ini yang kemudian ditunjukkan oleh Yesus agar pada saatnya nanti mereka paham, khususnya saat “Ia bangkit dari antara orang mati.”

Dalam hidup kita, pengalaman para murid bisa terjadi dalam hidup kita yaitu merasakan takut, bingung, dan heran saat mengikuti Tuhan. Kita tahu sebagai pengikut Katolik harus memikul salib namun salib seperti apa yang kita pikul, entah berat atau ringan. Pengetahuan tentang memikul salib tidak sebanding dengan penerapannya dengan sikap mengabaikan salib kita sendiri, seperti mudah percaya tahyul, bermain dalam pertaruhan tidak sehat (yaitu judi), dan tidak menghormati alam (membuang sampah sembarang, penggunaan energi secara boros). Bisa disingkat, dalam hidup kita cenderung memilih yang enak dan mudah.

Kisah penampakan ini berakhir dengan Yesus turun dari gunung. Hal ini dimaksudkan bahwa Yesus kembali meneruskan karyanya bagi dunia alias tidak terlena dalam kemuliaan-Nya di atas gunung namun kembali dan kehidupan sehari-hari. Hal ini bisa terjadi untuk kita setelah menjalani retret atau rekoleksi. Saat retret atau rekoleksi kita bisa merasakan kedekatan dengan Tuhan dan berdoa terasa lebih mudah. Namun saat kembali ke kehidupan sehari-hari maka kedekatan maupun kemampuan untuk kita berdoa menjadi tantangan yang harus kita hidupi seperti saat retret atau rekoleksi.

Pemahaman tentang perjuangan kita dalam hidup sebagai orang Katolik memang akan dihadapi kebimbangan, kebingungan, dan juga ketakutan seperti yang para murid rasakan. Ada juga ada momen dalam hidup yang membuat hidup begitu berbunga-bunga saat berada di dekat-Nya.

Itulah perjalanan iman yang selama dalam prosesnya tidak bisa langsung dimengerti. Memahami karya keselamatan Tuhan tidak bisa setengah-setengah melainkan akan ada saatnya kita paham bahwa seluruh hidup kita dijadikan momen keselamatan Tuhan baik untuk diri-Nya maupun untuk orang-orang yang kita cintai. Yesus sendiri yang memberi contoh dalam hidupnya, yaitu hidup, mati, bangkit dan naik ke surga. Para murid kemudian menyadari di saat mereka melihat ini semua dan menyakini inilah karya keselamatan Allah.

Penulis : Rm. Camellus, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments