Melihat Kemuliaan Allah dari Kerapuhan Kita

Minggu ini Gereja Semesta merayakan Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya. Peristiwa ini tampak jelas pada peristiwa transfigurasi yang digambarkan oleh Matius (bdk. Mat. 17:1-9) ketika wajah Yesus tampak bercahaya dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar terang, bahkan di situ tampak pula kehadiran sosok Musa dan Elia. Pancaran cahaya itu menunjukkan Kristus yang adalah manusia biasa – tanpa dosa – juga sekaligus Allah yang mengasihi manusia tanpa syarat.

Pokok penting yang perlu diperhatikan lainnya adalah kehadiran Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Kehadiran mereka menyiratkan sebuah makna terdalam sebagai representasi manusia yang lemah dan rapuh tetapi dikaruniai rahmat untuk bisa melihat kemuliaan Allah yang begitu agung. Peristiwa ini merupakan bukti nyata betapa rendah hatinya Tuhan kita, Yesus Kristus, yang berkenan menyatakan kemuliaan-Nya dihadapan kita yang adalah pendosa. Lalu apa poin yang bisa kita ambil dari peristiwa ini?

Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa Yesus adalah Putra Allah yang mau dekat dengan manusia. Bapa dengan jelas menyebutkan dalam perikop ini, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat. 17:5). Betapa baiknya Allah kita, mau memberikan Anak-Nya sendiri untuk dunia yang sedang dilanda banyak persoalan. Dari permasalahan moral, intoleransi, permusuhan, hingga perang berkepanjangan, merupakan bukti bahwa dunia di sekitar kita tidak baik-baik saja. Akan tetapi, meskipun Yesus sudah datang untuk mau bergaul dengan manusia, kehadiran dan kemuliaan-Nya sangat sulit dirasakan karena manusia begitu sibuk dengan dunianya sendiri. Lalu bagaimana cara kita melihat kemuliaan Allah dalam kehidupan sehari-hari?

Petrus, dalam perikop ini, mengajarkan cara sederhana untuk menyadari kemuliaan Allah dengan menyadari kerapuhannya sebagai orang yang berdosa yang tidak pantas menerima kemuliaan Allah dengan cuma-cuma.

Dengan menyadari kerapuhan diri, Petrus mengajak kita untuk mau bergantung pada Yesus sehingga lebih mudah menyadari karya-karya Allah dalam hidup harian. Misalkan demikian, dikatakan oleh Petrus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mat. 17:4). Ungkapan ini adalah ungkapan kekaguman atas apa yang dilihat oleh Petrus. Rasa kagum yang dilontarkannya ini tentu bukanlah sebuah ekspresi spontan. Akan tetapi, kekaguman itu muncul dari dalam hatinya yang merasa tidak pantas untuk berada di satu tempat yang sama dengan Yesus, Musa, dan Elia. Baginya, peristiwa itu adalah suatu anugerah yang mungkin tidak akan pernah ia alami lagi bersama dengan Yohanes dan Yakobus. Petrus menyadari dirinya adalah seorang pendosa yang masih bergumul dalam kehidupan hariannya. Ia bahkan merasa tidak layak untuk berada dalam satu tempat bersama-Nya. Oleh karena itu, ia mencoba memberikan yang terbaik dari dirinya dengan siap memberikan tenaganya untuk mendirikan kemah bagi ketiganya.

Dari bacaan ini, kita diajak untuk mau menyadari kerapuhan diri kita. Dengan kesadaran demikian, kita mampu untuk melihat kemuliaan Allah yang begitu indah dalam kehidupan kita. Tentu bukanlah kemuliaan Allah yang dialami oleh Petrus, Yakobus, dan Yohanes yang secara langsung melihat Yesus bersinar terang. Akan tetapi, kemuliaan Allah yang tampak melalui orang-orang terdekat yang selalu mencintai kita, melalui komunitas yang selalu mendukung usaha-usaha kita, melalui teman-teman di sekolah maupun di kantor, dan bahkan melalui orang-orang yang tidak kita kenal. Kemudian, ketika kita sudah mampu melihat kemuliaan-Nya, selanjutnya kita diajak untuk mau bersaksi di tengah sesama. Mulai dari hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan, peduli pada lingkungan sekitar, rela berbagi dengan mereka yang berkekurangan, bersikap adil, dan menjunjung tinggi martabat manusia, sehingga kita dimampukan untuk bisa menjadi berkat bagi sesama kita. Mari bersama-sama, kita sadari kerapuhan kita dan belajar untuk kagum pada karya Allah yang setiap hari kita terima.

Penulis : Frater Marcellino Mario Amput

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments