Melawan Lupa

Tak ada orang yang luput dari “lupa”. Karena itu, “lupa” bisa dianggap sebagai sesuatu yang lumrah atau alamiah, apalagi bila kita berbicara tentang usia. “Faktor U”, begitu sering kita bercanda. Namun tak jarang “lupa” membawa efek yang tidak disangka, kehilangan harta yang berharga dan bisnis yang bernilai tinggi, persahabatan menjadi kaku atau renggang. “Lupa” bisa menjadi awal dari bencana, seperti kecelakakan.

Bencana pembuangan Israel keAsyur dan Babel dapat dimaknai sebagai “berawal” dari “lupa diri” Bangsa Israel sebagai Umat Allah. Mereka sudah diingatkan, bahwa mereka dahulu adalah budak di Mesir dan telah ditebus oleh Allah. Ketika mereka mendesak Samuel meminta raja, maka Allah lewat Samuel lagi-lagi memperingatkan.

“Lupa diri” tentu saja tidak diharapkan terjadi pada bangsa kita. Kita tidak pernah boleh lupa bahwa NKRI dibangun dari semangat “Senasib sepenanggungan”. Pancasila adalah dasar negara yang menjadi perawat ingatan bahwa ratusan tahun kita berjuang sendiri-sendiri, namun kemerdekaan tak kunjung kita raih. Dengan landasan Pancasila dan UUD 1945, kita menegaskan bahwa hanya dengan “semangat senasib dalam keragaman” disertai cinta-bakti pada Tuhan Yang Maha Esa, kita menuju masyarakat yang adil dan makmur.

Jiwa kemerdekaan dengan demikian adalah semangat saling mendukung, saling menguntungkan. Bukan semangat “trade off” (saling meniadakan), atau semangat “zero-sum game” (yang satu untung dan yang lain rugi). Jiwa kemerdekaan menuntut semangat kekeluargaan dan pengabdian. Bila yang satu sedih, sakit atau bahagia, yang lain ikut merasakannya. Duka dan bahagia satu anak bangsa menjadi duka dan bahagia anak bangsa lain.

Namun mengapa akhir-akhir ini justru polarisasi, fitnah, hoaks, seolah tidak terbendung? Mengapa semangat satu nusa satu bangsa, seolah berbelok arah menjadi satu hidup satu mati?

Saatnya mawas diri, tetapi bukan dalam pola pikir minoritas dan mayoritas. Tiba waktu membuka diri, memperluas silahturahmi. Kita tidak boleh lupa bahwa negeri ini penuh dengan orang yang berkehendak baik. Kita hanya perlu saling mendorong untuk berani bersuara bila ada anak bangsa yang terpinggirkan mengalami diskriminasi/ancaman. Siapa yang memulai? Adakah kita rela orang lain “yang tidak berkehendak baik” mengambil keputusan untuk kita dan bangsa kita?

Chairil Anwar berpesan, “Kami sudah beri kami punya jiwa, kerja belum selesai …”. Presiden Soekarno pada pidato 17 Agustus 1966 mengingatkan, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (populer dengan “Jasmerah”). Beliau menitipkan, “ever onward, never retreat”. Dipertegas dengan “Dharma Eva Hato Hanti” (Kita bersatu karena kita kuat; dan kita kuat karena kita bersatu).

Penulis : Salvinus

Foto :Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments