Gelar Maria Bunda Allah (Theotokos) berasal dari Kitab Suci dan kesaksian Gereja sepanjang masa dan diwartakan untuk menjadi teladan hidup kita dalam kekudusan, ketaatan, pengabdian.
Dasar AlkitabiahKitab Suci Perjanjian Lama menulis tentang keilahian sang wanita istimewa itu. Bunda Maria kelak menjadi ‘Hawa Baru’ yang berhasil membuka ikatan dosa akibat ketidaksetiaan dari ‘hawa lama’. “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Janji tentang ‘perempuan itu dan keturunannya’ mengacu kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria, ibu yang melahirkan-Nya” (Kej. 3:15). Kitab Mazmur (132:8) menulis, “Bangunlah ya Tuhan, dan pergilah ke tempat perhentian-Mu, Engkau beserta tabut kekuatan-Mu.” Tabut kekuatan Tuhan itu kelak menjadi penuh dalam diri Bunda Maria, yang oleh pemazmur disebut sebagai ‘permaisuri berpakaian emas dari Ofir (Mzm 45: 10,14). Nubuatan Nabi Yesaya (7:14) kelak disaksikan juga oleh penginjil Matius (1:23) sudah menubuatkan bahwa, “Sesungguhnya anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel yang berarti “Allah menyertai kita”.
Penginjil Lukas mencatat tentang pemberitahuan tentang kelahiran Yesus (bdk. Luk. 1:26-38). Malaikat berkata, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi” (Luk. 1:30-32). Maria memperoleh pengakuan di hadapan Tuhan, bahkan dipilih untuk mengandung dan melahirkan Sang Putera, yakni Allah sendiri yang akan menyelamatkan umat-Nya. Elizabeth juga mengalami sukacita Tuhan melalui Maria ketika dikunjungi oleh Maria. Elizabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku”. Elizabeth juga menyebut Maria sebagai seseorang yang terberkti di antara wanita oleh karena ia mengandung Yesus (Luk. 1:42-43). Para gembala juga mengalami sukacita dari Tuhan (Mat. 2:8-20).
Teladan KekudusanBunda Maria memenuhi ayat Kitab Suci yang berbunyi, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef. 1:4). Maria telah ditentukan Allah sejak semula menjadi Ibu Sang Putera Allah, sehingga Allah membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, oleh karena jasa Yesus yang menyelamatkan dunia. Gereja percaya bahwa Tuhan sendirilah yang pertama-tama memberi penghormatan ini kepada Maria. Kita menghormati Bunda Maria sebab kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dulu mempercayakan Diri-Nya kepada Bunda Maria, sehingga ia disebut sebagai “penuh rahmat” seperti yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel.
Teladan KetaatanBunda Maria menjawab khabar yang diterima, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Sejak saat itu dan seterusnya sepanjang hidupnya Bunda Maria menyatakan ketaatan iman. Ketaatan dan kepatuhan kepada kehendak Tuhan kiranya sama dengan yang dikatakan Yesus kepada Bapa-Nya, “Aku datang; … untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr. 10:7). Imannya mengingatkan kita pada iman Bapa Abraham. Maka sama seperti Perjanjian Lama dimulai oleh iman Abraham, demikian juga Perjanjian Baru dimulai oleh iman Bunda Maria. Maria memperlihatkan ketaatannya sambil menjalani kehidupan dalam kemiskinan mulai sejak kelahiran Yesus, pengungsian ke Mesir, sepanjang kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nazareth, menyertai Yesus yang mulai tumbuh besar dan berkenan kepada Allah. Yesus memuji Bunda Maria yangmendengrkan dan melaksanakan kehendak Allah ketika berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mrk. 3:34-35). Ketatan Maria menyertai Puteranya dalam melaksanakan kehendak Bapa menghantar Maria sampai di Golgota, di kaki salib Yesus Puteranya. Maria tidak memprotes Tuhan tentang apa yang dialaminya, seakan-akan bertentangan dengan janji malaikat kepadanya. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa penderitaan Bunda Maria di kaki salib ini merupakan pengosongan ‘kenosis’ iman yang terdalam yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Di kaki salib Kristus itulah, dipenuhi nubuat Simeon, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35). Adakah derita seorang ibu yang lebih hebat daripada melihat anak satu-satunya disiksa dan dibunuh di depan matanya?
Teladan PengabdianKita membaca Kitab Suci yang menceritakan tentang perkawinan di Kana dan Bunda Maria juga hadir disana ketika mempelai itu sudah kehabisan anggur. Bunda Maria yang tahu persis kegelisahan hati sang mempelai dan kebutuhannya saat itu, datang dan membisikan keada Sang Putera, “Mereka kehabisan anggur” (Yoh. 2:3). Yesus tidak langsung menjawab apa yang diharapkan Bunda Maria; bahkan balik berkata kepada ibu-Nya, “mau apakah engkau dari pada-Ku ibu? Saat-Ku belum tiba”(Yoh. 2:4). Bunda Maria tetap menyatakan bahwa dirinya adalah abdi Allah yang setia kepada kehendak Tuhan untuk melayani kebutuhan manusia. Maka katanya kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu” (Yoh. 2:5). Penginjil mencatat bahwa para pelayan itu melakukan semua yang diperintahkan Yesus kepada mereka untuk mengisi tempayan-tempayan itu sampe penuh kemudian mencedok dan memberikannya kepada pemimpin pesta. Mereka semua menikmati air yang sudah menjadi anggur yang membahagiakan. Itulah mujizat Yesus yang pertama, awal mula pernyataan kemuliaan Tuhan di tengah manusia melalui kehadiran Bunda Maria.
Penulis : Bruno Rumyaru
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa