“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?", demikian bagian teks Injil yang dibaca dan kita dengar bersama di minggu terakhir bulan Juli, hari minggu biasa ke XVII menurut kalender liturgi dalam Gereja Katolik. Pesan liturgi hari ini tentu saja tidak dapat dipisahkan dari rangkaian tema liturgi di sepanjang masa biasa. Bunda Gereja membimbing segenap umat, putera-puteri Gereja untuk merenungkan bahwa Tuhan kita adalah Allah Emanuel, Allah beserta kita. Tuhan kita adalah Dia yang telah lahir sebagai manusia (misteri Inkarnasi), hidup sebagai manusia, masuk dalam sejarah manusia. Tuhan lahir dalam kehinaan manusiawi untuk mengangkat kemanusiaan yang fana dan tidak berharga dan tidak terhitung, mengangkat yang kecil, orang sakit disembuhkan, orang lumpuh disembuhkan dan bisa berjalan kembali (Mrk.2:1-12; Mat.9:1-9; Luk.5:17-26), Lewi pemungut cukai ditemui-Nya (bdk.Mrk.2:13-17; Mat.9:9-13;Luk.5:27-32), Ia memelekkan orang buta, Ia mengusir roh jahat, bahkan Lazarus yang telah mati dan dikubur dihidupkan kembali (Yoh.11: 38-54).
Gereja meyakinkan kita bahwa Tuhan setia kepada umat-Nya. Tuhan ada di antara umat-Nya, mengangkat kehinaan diri dan hidup manusia, menderita, memanggul salib kehinaan hidup manusia, bahkan Ia rela mati, masuk dalam alam ‘ketiadaan’ dan bangkit sebagai Yang Sulung di jalan hidup baru sebagai Anak atau Putera Allah yang dimuliakan. Tuhan menunjukkan jalan baru kepada Bapa, ketika Dia mengatakan, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh.14:1-14). Sabda Tuhan menjadi pelita bagi manusia di jalan gelap, kekuatan bagi manusia yang lemah, harapan bagi manusia yang putus asa.
Pesan liturgi di hari Minggu ini menyampaikan berita istimewa bagi kita. Ada dua pokok yang bisa kita jadikan pegangan dan keyakinan kita.
Bruno Rumyaru