Kristus Raja Semesta Alam dan Habitus Iman yang Ekologis

KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM merefleksikan misi utama kehadiran Yesus di dunia untuk memaklumkan Kerajaan Allah melalui Sabda dan KaryaNya. Dalam kalender liturgi Gereja Katolik, perayaan Kristus Raja semesta alam ditempatkan pada akhir kalender liturgi sebelum masa adven dimulai. Kristus raja merupakan gelar yang menggambarkan puncak perjalanan iman Gereja dan kita semua umat beriman dimana Kristus merajai hati, pikiran manusia, semua ciptaan dan seluruh alam semesta. Kristus Raja semesta alam menjadi tujuan dinamika sejarah keselamatan umat manusia dan seluruh alam semesta. Santo Paulus kepada umat di Korintus menyampaikan: “Tetapi kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua (1 Kor 15:28).

Umat manusia dengan segala kekurangan-ketebatasannya akhirnya bersatu Kembali dengan Allah yang mahasempurna. Rahmat penebusan kemudian meresapi seluruh alam semesta. Allah menjadi segala-galanya dalam segalanya. Kepada umat di Kolose Santo Paulus mengatakan: “Ia adalah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ia adalah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu” (Kolose 1:18). Kristus sebagai raja semesta alam menjadi sumber iman yang ekologis. Dalam perspektif ekologi ini, ajaran iman Katolik yang menekankan tanggung jawab manusia untuk merawat ciptaan Tuhan. Tanggung jawab iman terhadap bumi dan alam sangat jelas juga diamanatkan dalam Kitab Kejadian 1:28 “Beranak cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Kristus raja semesta alam memberikan pesan iman bahwa kita umat beriman memiliki tanggung jawab moral untuk merawat lingkungan alam. Dalam ensiklik Laudato Si (2015), Paus Fransiskus menekankan pentingnya menjaga lingkungan sebagai bagian dari hidup  beriman. Kita umat beriman perlu melakukan pengelolaan sumber daya alam secara bertanggung jawab, penggunaan sumber daya alam secara bijaksana demi kesejahteraan bersama. Ketika udara sekitar yang kita hirup kurang bersih karena limbah sampah dan partikel-partikel limbah perusahaan yang menyebar di kawasan industri tempat kita hidup dan berkarya, inisiatif menjaga kebersihan lingkungan dan semangat menanam tumbuh-tumbuhan di halaman rumah, memperindah alam (memayu-ayuning bawana) dengan taman-taman sederhana di halaman, akan membantu alam semakin ramah dengan kesehatan manusia.

Iman yang ekologis juga terkait erat dengan keadilan sosial lingkungan masyarakat sekitar. Tindakan manusia terhadap lingkungan terutama terhadap kelompok-kelompok yang rentan dan miskin ikut mempengaruhi ekologi hidup bersama yang semakin adil dan peduli. Hadir dalam pendampingan para difabel, pemberdayaan ekonomi keluarga-keluarga, peneguhan iman pada keluarga-keluarga yang dilanda kesusahan mengekspresikan iman ekologis yang secara konkrit bisa dilakukan dan dipraktikkan di lingkungan terdekat. Bertekun hadir bersama korban akibat ketidakadilan, kekerasan, penipuan online dan persaingan tidak fair, yang dalam ketidakberdayaannnya hanya bisa bertumpu dan berharap pada pertolongan Tuhan adalah juga bentuk iman ekologis dalam realita kehidupan. Iman yang ekologis seperti itu menjadi perpanjangan kuasa Kristus raja semesta alam untuk menyelamatkan mereka yang sangat memerlukan, semua orang, dan bahkan seluruh semesta alam.

Kristus Raja Semesta Alam juga mengajarkan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang memperhatikan kebutuhan generasi masa depan. Tanah air, Ibu Pertiwi, bumi, alam semesta dan segala isinya adalah anugerah Tuhan bagi umat manusia. Umat beriman pantas bersyukur dengan terus melakukan pembangunan yang berkelanjutan. Dengan merawat ciptaan, manusia memperlihatkan dan mengungkapkan rasa syukur dan penghargaan terhadap karunia-Nya. Pembangunan berkelanjutan dilakukan dengan tindakan memperhatikan sesama di sekitar atau peduli terhadap jeritan bumi dan melaksanakan rasa tanggung jawab pada generasi mendatang. Kristus raja semesta alam adalah sumber inspirasi iman menciptakan kebiasaan (habitus) cara hidup beriman secara baru dengan peduli pada lingkungan, pelestarian bumi dan menjaga ekosistem kehidupan.

Penulis : Andreas Yumarma - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments