Apakah mengampuni itu mudah? Semua orang niscaya dengan cepat akan mengatakan “jelas TIDAK”. Memang mengampuni sangat sulit. Biasanya akan lebih sulit lagi bila orang yang menyakiti itu adalah orang yang dekat dan punya relasi hati dengan kita; waduh jadi inget masa lalu dech… dan lebih runyam lagi manakala ditambah “bumbu penyedap rasa” menjadi semakin baper tingkat dewa; tujuh keturunan tidak hilang-hilang. Tapi, lucunya akan berbeda bila orang yang menyakiti kita adalah orang yang sepintas (baru) dikenal, tidak punya kedekatan, tidak punya relasi hati; akan mudah terjadi pengampunan, “iyo opo ora…?”.
Saudara-saudari, terkait dengan mengampuni saya menawarkan dua refleksi kecil. Yang pertama mengampuni adalah upaya mengolah diri kita. Yang kedua, tindakan mengampuni adalah tindakan Allah sendiri; dan mengampuni upaya manusia untuk “mengangsur” kasih Allah dalam dunia.
Mengampuni is Healing“Saya butuh healing nih romo!”, kata seorang muda ketika bertemu setelah misa. “lha ngopo butuh healing..?”, sahut saya dengan rasa ingin tahu. “karena lagi banyak persoalan”, jawab orang muda itu. saya tidak bertanya lagi. Tetapi pikiran saya tidak berhenti bertanya tentang: “apa itu persoalan?” dan “seberapa banyak dan berat persoalan orang hidup itu?”. Jangan-jangan kita tidak paham apa persoalan itu dan bahkan apa persoalan hidup kita. Kemudian dengan polos juga lugu kita mengatakan bahwa persoalanku itu lebih berat dari persoalan hidup orang lain. Belum clear tentang apa itu persoalan hidup kita, kemudian meloncat ke jawaban pokoknya butuh healing. Tambah semakin “sirkus” lagi ketika orang muda itu mengajak healing di café. Sebetulnya butuh healing atau dolan tho? Batin saya mengatakan healing atau wasting, Hmmmmm…
Btw, persoalan diri sendiri yang sering membuat padat merayap; dan sulit mengampuni. Teringat saya pada pernyataan bahwa mengampuni itu berbanding lurus dengan penerimaan diri sendiri. Opo iyo?. Ketika kita tidak mudah menerima diri (who am i?) dengan segala kelebihan – kekurangan, persoalan masa lampau dan juga persoalan yang sedang dihadapi (dan tidak diolah) maka kita tidak mudah juga mengampuni. Dalam hal ini orang yang menyakiti kita baik dalam perkataan maupun perbuatan, disengaja atau tidak, bisa menjadi “bensin” emosi kita. Kemudian kita semakin terbakar oleh emosional diri kita. Dan sulit mengampuni. Hal sebaliknya bisa terjadi, bila kita dapat mengolah diri kita, dapat mempermudah jalan untuk mengampuni. Dalam arti lain: berdamai dengan diri sendiri juga menjadi jalan tol untuk berdamai dengan orang lain. Bisa juga dibalik lho.. berdamai (mengampuni) dengan orang lain jadi sebuah usaha berdamai (upaya pengolahan) dengan diri sendiri.
Jadi berdamai atau mengampuni orang yang menyakiti kita bisa jadi healing donk…?. Monggo dicoba yuk... ga usah ke café atau mal.
Mengampuni Adalah “Angsuran” Manusia Pada AllahBacaan Injil Minggu ini (Matius: 18: 21-35 Tentang Mengampuni) secara tidak langsung menyatakan Allah tidak butuh healing seperti manusia. Karena Allah adalah kasih; Deus Caritas Est. Tampak jelas pengampunan Allah karena Allah Maha Rahim. Perumpamaan tentang hamba yang berhutang dan dibebaskan mau menya takan cara Allah mengampuni manusia tanpa syarat, bahkan mengorbankan dirinya untuk dosa atau kesalahan diri kita. Sekedar berandai-andai, bila Allah baper banget pada kesalahan manusia apa yang akan terjadi?. Allah pasti murka pada manusia. Manusia tidak (jadi) diselamatkan. Manusia menjadi sak karepe dhewe. Manusia pasti porak poranda hidupnya. Tapi Allah kita tidak demikian. Hal tersebut dikuatkan oleh Malam Paskah, kata hutang dimuncul dalam nyanyian exultet, “…Ia telah menghapus hutang dosa lama dengan darah Hati-Nya...” Lihatlah, sungguh luar biasa Allah kita telah memberi damai karena mengampuni hutang dosa lama kita. Bahkan dengan Hati-Nya. “Hutang” kita dihapus alias diampuni.
Lalu bagaimana manusia yang telah dibayar hutangnya oleh Allah itu? Logika sederhana saya, berarti kita punya “hutang budi” pada Allah lho… yang harus dibayar dengan cara “diangsur” dalam kehidupan kita. Tentunya “angsurannya” bukan dalam uang tapi dalam hal mengampuni; karena kita tidak sedang mengangsur kredit mobil atau motor dari Allah… hahahaha. Allah kita bukan tukang kredit. Bahkan Allah menepis “angsuran” hanya sampai tujuh kali selesai. Allah mengatakan “Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”. (Mat. 18: 21-22). Dengan kata lain “angsuran” kita seumur hidup lho. Mengapa demikian lama? Sampai seumur hidup kita masing-masing. Kita kembali pada esensi mengampuni – yang bukan sekedar tidakan manusiawi – tapi aroma kuat menghadirkan tindakan Ilahi. Dan dari pihak kita sebenarnya diajak kembali merasa bagaimana cara Allah mengampuni kita (menghapus hutang) dan juga orang yang bersalah kepada kita. kemudian terkait dengan mengampuni seumur hidup kita; jadi dengan mengampuni kita merasakan kembali bagaimana cara Allah mengasihi manusia dengan mengampuni dosa-dosa kita. Mengampuni adalah cara Allah kasih hadir dalam tindakan kita.
Maka, ayooooo… berani “meng-angsur”, jangan ada yang nunggak, sebelum waktu kita hidup di dunia ini berakhir…
Penulis : Ch Kristiono Puspo SJ
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa