Kerja dan Martabat Manusia sebagai Citra Allah

Kerja seringkali dipahami secara keliru hanya berkaitan dengan “menjadi pegawai kantoran”, “menjadi karyawan suatu perusahaan”, “menjadi pegawai negeri atau swasta”, “bekerja di toko atau membuka usaha warung kecil-kecilan”. Padahal pada hakikatnya kerja lebih dari itu; kerja adalah kegiatan manusia melaksanakan diri sesuai martabatnya untuk menghasilkan nilai-nilai ekonomi, sosial ataupun religius serta sekaligus mencukupi kebutuhan keluarga. Produk kerja dapat berupa bendawi ataupun non bendawi. Melalui kerja, manusia keluar dari dirinya sendiri dan memberikan manfaat pada orang lain dan keluarganya. Dengan bekerja manusia memperoleh penghasilan sebagai imbalan jasa. Dalam terang Kitab Suci, kerja dan martabat manusia sebagai citra Allah memiliki kaitan sangat erat; karena melalui kerja, manusia melaksanakan martabatnya sebagai citra Allah.

Kitab Kejadian menuliskan bahwa manusia diciptakan Allah menurut gambar dan rupa Allah (Bdk. Kej. 1:26). Manusia oleh karenanya menyandang martabat yang luhur sebagai Citra Allah. Manusia seturut martabatnya diberi tugas beranak cucu dan wewenang menguasai bumi (Bdk. Kej. 1:28). Manusia sebagai citra Allah bekerja mengolah alam ciptaan yang dianugerahkan Allah dan menghasilkan sesuatu seperti produk, inovasi, teknologi, media komunikasi yang dewasa ini sering kita gunakan. Dalam melaksanakan tugas sesuai dengan martabatnya, manusia diberi akal budi yang memungkinkan manusia itu sendiri memiliki kebebasan dan melakukan pilihan-pilihan.

Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Laborem Exercens (1981) menegaskan bahwa kerja merupakan dimensi mendasar hidup manusia di dunia (bdk. Docat Indonesia, 2016: 154). Kebebasan manusia memungkinkan manusia membuat pilihan yang keliru sehingga jatuh dalam dosa (bdk. Kej. 3) yang bisa merusak martabatnya sebagai Citra Allah. Praktik kerja perbudakan, perdagangan manusia (human trafficking) merusak martabat manusia sebagai citra Allah. Manusia hanya diperlakukan sebagai properti, buruh kerja tanpa upah layak, barang atau aset yang diperjualbelikan dan diperlakukan sewenang-wenang oleh manusia yang memiliki wewenang dan kekuasaan besar dalam struktur masyarakat. Kondisi dan situasi dosa terstruktur seperti di atas membuat siapapun yang berada di situ cenderung tak mampu mempertahankan martabatnya dan jatuh terjerumus dalam dosa.

Dalam terang misteri Paskah: wafat dan kebangkitan Tuhan, martabat manusia sebagai citra Allah diangkat kembali. Manusia memperoleh rahmat penebusan. Tuhan yang merendahkan diri sedalam-dalamnya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan menjadi spiritualitas utama dalam kerja manusia.

Yang pertama, dalam pemulihan citra manusia yang rusak akibat dosa, misteri wafat dan kebangkitan Tuhan menjadi motivasi dasar kegiatan manusia melaksanakan diri sesuai dengan citra Allah. Dengan demikian, kerja kita sebagai umat beriman tidak dilepaskan dari sejarah keselamatan: rahmat penebusan Paskah yang dianugerahkan sekaligus menjadi motivasi kerja untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan jalannya sejarah keselamatan yang terus berlansung sampai sekarang.

Yang kedua, sebagaimana kerahiman Allah selalu mengalir keluar maka kita manusia beriman melaksanakan martabat kita sebagai citra Allah tersebut melalui karya-karya dan pelayanan dengan kasih yang besar dalam terang iman wafat dan kebangkitan Tuhan.

Yang ketiga, kerja merupakan wujud partisipasi dalam dinamika wafat dan kebangkitan Tuhan. Peningkatan dan perbaikan karya dan pelayanan terus menerus sebagai bentuk pertobatan tanpa henti dalam mengikuti dinamika sengsara dan wafat Tuhan. Sedangkan motivasi rohani agar semakin besar kemuliaan Tuhan (Ad Maiorem Dei Gloriam - AMDG) menjadi spiritualitas partisipasi aktif umat beriman untuk selalu bekerja dalam terang dinamika kebangkitan.

Semoga dalam terang iman wafat dan kebangkitan Tuhan, pelaksanaan martabat manusia sebagai Citra Allah di dalam kerja terus mendapat peneguhan dan wujudnya, sehingga menghasilkan sukacita Paskah yang berlimpah. Penuh kegembiraan terus bekerja dalam karya-karya Tuhan dan hidup penuh syukur seturut dengan dinamika rahmat penebusan.

Selamat Paskah.

Penulis : Andreas Yumarma

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments