Kebahagiaan Berada Dekat dengan Allah

“Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami mendirikan sekarang tiga kemah, satu untukEngkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Di satu kesempatan ketika saya mengunjungi teman saya di daerah Cikarang ada beberapa perjumpaan yang saya alami saat itu. Berangkat dari Bekasi kurang lebih memakan waktu satu setengah jam dari pukul 20.00-21.30 WIB. Dalam perjalanan dengan sepeda motor itu saya melihat bahwa masih banyak aktivitas yang terjadi di setiap perjalanan saya itu. Mulai dari padatnya kendaraan umum di jalan, orang-orang yang baru pulang bekerja atau mungkin berangkat bekerja, seorang Ibu dan anak yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar dan juga beberapa anak muda yang mendorong gerobak dan mendirikan tenda yang bertuliskan “Pecel Lele” dan “Nasi Bebek”.

Dalam perjalanan itu kebetulan saya juga belum makan malam dengan harapan akan disuguhkan nanti ketika saya sampai berada di rumah teman saya itu. Semakin malam perjalanan saya dan semakin dekat dengan Kawasan Pabrik di Cikarang keramaian itu sudah mulai berkurang dan saya hanya ditemani oleh truk-truk besar, satu-dua pengendara sepeda
motor dan beberapa mobil saja.

Dalam fokus saya berkendara tiba-tiba teringat Kembali dengan pengalaman perjumpaan dengan orang-orang tadi. Saya menyadari tidaklah mudah untuk bisa berjuang atau bertahan hidup di tengah situasi seperti ini, pastinya terasa melelahkan. Varian baru virus Corona “Omicron” menghantui pikiran saya, dan saya merenung apakah betul orang-orang tadi itu tidak memperdulikan kehidupan mereka? Apakah mereka tidak berjuang di setiap Langkah hidup mereka? Apakah mereka terlihat seperti pasrah akan keadaan yang terus bergulir seperti ini? Jawaban saya mereka PEDULI, mereka Berjuang, dan mereka punya PENGHARAPAN.

Bacaan Injil pada hari ini menunjukkan bagaimana Petrus dan kedua murid lainnya merasakan kedekatan secara  langsung kepada Allah. Ada jawaban yang ditunjukkan oleh Petrus kepada Yesus. Di injil dituliskan : “… Ketika Petrus dan teman-temannya tertidur, dan ketika terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya; juga kedua orang yang berdiri dekat Yesus itu. Dan ketika dua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada
Yesus, “Guru betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami mendirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

Pengalaman Petrus bersama Allah mengubah diri Petrus untuk mau tetap berdiri, tinggal bersama Allah, Petrus mau meneguhkan dirinya dan menguatkan imannya dengan cara mendirikan kemah, tinggal bersama supaya apa? Supaya Petrus bisa tinggal terus-menerus bersama Allah. Pergumulan memang tidak akan pernah berakhir jika kita hanya bisa mengeluh, rahmat tidak akan kita dapat jika kita hanya bisa mengandalkan orang lain. Ubahlah cara pandang kita yang mengarahkan hati dan diri kita untuk tinggal bersama Allah, hidup serupa dengan Yesus ketika Ia menjalani perjalanan salib-Nya.

Pengalaman bersama Allah seharusnya mengubah diri kita menjadi lebi bahagia, bisa lebih PEDULI, menuntut kita supaya lebih BERJUANG dan tidak lupa untuk selalu mempunyai PENGHARAPAN. Bersyukur terhadap kesempatan yang sudah kita punya, segala anugerah, berkat, Kesehatan, yang bisa membantu kita melihat karya Allah dalam hidup kita. Ambil waktu kita sebentar untuk bisa merenungkan sedikit pengalaman kita yang sudah lalui, ada kesempatan untuk diri kita menjadi pribadi yang peka yang akan membantu kita untuk bisa lebih PEDULI, BERJUANG dan Ber-PENGHARAPAN.

Dalam perjalanan itu tidak terasa saya sudah sampai di rumah kerabat saya, dan Puji Tuhan saya masih mendapatkan kesempatan berbahagia untuk bisa berkumpul, bercerita dan mengambil buah-buah rohani yang kami bagikan di setiap pengalaman hidup kami. Saya percaya bahwa rahmat yang Tuhan berikan bisa kita rasakan di setiap pengalaman kita bersama orang-orang di sekitar kita dan menghapuskan noda-noda dosa yang menghalangi kita untuk bisa merasakan kedekatan kita dengan Allah.

Tuhan memberkati kita semua. Amin

Penulis : Imannoel Oktianus Florentino

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments