Saudari-saudara yang terkasih dalam Yesus Kristus, hari ini kita memasuki Minggu Biasa III sekaligus sebagai Hari Minggu Sabda Allah. Sebagaimana Paus Fransiskus telah menetapkan Minggu III Masa Biasa sebagai “Minggu Sabda Allah” (Sunday of the Word of God) sebagai undangan bagi umat Katolik di seluruh dunia untuk memperdalam apresiasi, cinta, dan kesaksian mereka semakin setia kepada Tuhan.
Dalam suratnya, Paus Fransiskus menulis, “Hari yang diperuntukkan bagi Alkitab ini bukan “satu kali setahun”, namun satu kali untuk seluruh tahun, agar kita merasa sungguh perlu menjadi bersahabat dan intim dengan Kitab Suci dan Dia yang bangkit, yang tidak berhenti membagikan Sabda dan Roti di dalam komunitas umat beriman.”
Saudari-saudara terkasih bersamaan dengan Minggu Sabda Allah ini, kita ingin melakukan apa yang diharapkan Tuhan dari kita melalui Sabda-Nya yang telah kita dengarkan dalam bacaan kedua: 1Kor 12:27. Tentu kita sudah sering mendengarkan isi bacaan dan bahkan kalimat ini menjadi bahasa yang sering digunakan, yaitu "Kamu semua adalah tubuh Kristus".
Saya teringat pada satu cerita dimana ada empat bersaudara hidup dalam tubuh Manusia. Mereka adalah Wajah, Tangan, Kaki, dan Perut. Keempatnya hidup rukun, sampai suatu hari timbul perselisihan di antara mereka.
Masing-masing saling menonjolkan diri, menganggap diri mereka paling penting. Pertama kali Kaki berbicara, "Temanteman, akulah yang paling penting diantara kalian. Coba bayangkan tanpa aku, manusia bakal tidak bisa ke mana-mana." Sahut Tangan, "Ah Kaki, manusia tanpa tangan tidak akan bisa bekerja. Memang benar tanpa Kaki manusia tidak bisa kemana-mana, tetapi itu tidak penting. Tapi yang terpenting bagi manusia adalah bekerja, setelah bekerja baru dapat makan. Jadi, manusia harus bekerja dan itu yang terpenting. Dan hanya Tangan yang bisa bekerja untuk mencarikan nafkah manusia. Wajah pun menyinggung senyum mendengar penuturan Kaki dan Tangan. Terbayang rasa congkak pada dirinya, lalu mencetuslah ia. Kalian sama sekali tidak penting dibanding dengan aku. Tahu nggak kalian, manusia itu dihargai karena apa? Karna wajahnya. Wajah yang tampan dan cantik membuat manusia dikagumi. Selain itu, aku memiliki panca indra, yaitu Mata, Telinga, Hidung, Lidah, serta Mulut. Nah, jelas-jelas aku yang paling hebat dan paling penting!
Perut, yang tadi diam saja, ikut-ikutan bicara, "Ku akui Kaki lebih kuat daripada aku. Tangan lebih pintar. Wajah lebih cakep. Tetapi sebenarnya akulah paling penting. Tanpa aku, kaliansemua akan tewas!" Mendengar celoteh Perut, anggota tubuh lainnya menjadi marah. Mereka sebaliknya menganggap Perut bagian tubuh yang paling malas. Coba bayangkan, pekerjaan perut seharihari hanya makan dan makan melulu. Tapi kalau kami: Kaki membawa tubuh ke tempat mencari nafkah. Tangan bekerja mencari uang. Wajah selalu menunjukkan raut muka manis agar disenangi namun semua hasil jerih payah itu dimakan Perut! Dasar perut tak berguna!.
Sejak kejadian itu, Kaki, Tangan, serta Wajah mulai mengabaikan Perut. Mereka tidak mau mencarikan makanan buat Perut. "Biar Perut tahu bahwa tanpa kita ia tidak ada gunanya!" kata mereka. Perut pun tidak menerima makanan selama berhari-hari dan Perut menjadi sangat lemah. Tetapi yang herannya bukan hanya Perut yang merasa lemah dan ternyata anggota tubuh lainnya juga ikut menjadi lemah.
Tangan serta Kaki sulit digerakkan, kaki tidak kuat untuk berjalan, sedang tangan terasa lemas nggak bisa bekerja. Wajah menjadi sering menangis karena menahan rasa lapar dan sakit. Wajah yang tadi tampan, kini menjadi penuh kerut. Tubuh pun menjadi lemah tak berdaya. Kini Kaki, Tangan, serta Wajah menyadari kesalahan mereka. "Kita tidak bisa hidup tanpa Perut." kata mereka akhirnya. Maka pertengkaran pun berakhir lalu mereka bersama-sama, semua anggota tubuh mulai bersatu, mulai bahu-membahu dalam segala bidang.
Melalui kisah di atas ada sikap yang harus dikembangkan untuk menjaga kesatuan jemaat:1. Sikap saling menghormati. Gereja harus belajar menghargai peran seluruh anggota jemaatnya dan tidak boleh membeda-bedakan! Tidak sedikit pemimpin rohani yang cenderung pilih kasih, lebih menghargai dan menghormati jemaat yang statusnya terhormat, terkenal atau kaya, namun bagaimana terhadap mereka yang berasal dari kalangan biasa dan tak mampu? "Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus," (1 Korintus 12:23-24).2. Saling memperhatikan. "...supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita." (1 Korintus 12:25-26). Suatu komunitas atau persekutuan tidak akan pernah disukai dan diminati apabila masing-masing anggota acuh tak acuh. Bila Tuhan saja memberikan perhatian dan penghargaan kepada setiap umat-Nya, maka sangatlah tidak pantas kita bersikap merendahkan dan tidak saling memperhatikan satu sama lain.3. Tepa selira (Empati). Yaitu dapat menjaga perasaan orang lain dan turut merasakan. "Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita." (1 Korintus 12:26). Gambaran tubuh yang dipakai Paulus juga mengindikasikan bahwa di antara anggota tubuh sama-sama saling merasakan. Satu anggota sakit, anggota lainnya turut merasakan sakitnya. Dimana ada kesatuan kesanalah Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya (Mazmur 133).
Saudari-saudara yang terkasih, kita semua merupakan anggota tubuh Kristus yang harus hidup dalam satu kesatuan dan kerukunan. Praktek kesatuan dan kerukunan perlu kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka marilah kita ciptakan kerukunan dan kesatuan di antara umat Tuhan sehingga ketika Tuhan datang kembali Dia akan mendapatkan tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Semoga renungan hari ini semakin memampukan kita dalam mewujudkan aksi kesatuan dan kerukunan yang diharapkan Tuhan dari kita melalui SabdaNya yang telah kita dengarkan.
Penulis : Sr. Imelda Sianipar, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa