Jadi pengikut Kristus itu ternyata tidak mudah ya? Perintah-Nya cukup berat untuk diikuti oleh manusia yang sangat lemah dan rapuh. Ia meminta kita untuk mau menyangkal diri, memikul salib, dan akhirnya mengikuti Dia. Lalu bagaimana mungkin itu bisa dilakukan?
Menyangkal DiriPermintaan pertama dari Yesus ini menjadikan kita sebagai pribadi yang mau bergantung pada Dia. Dengan mau menyangkal diri, kita mau menyerahkan kehendak kita kepada Tuhan. Kita diajak untuk meletakan keinginan-keinginan kita dan ikut dalam rencana-Nya.
Apakah ini mudah? Tentu tidak. Menyangkal diri menuntut kita untuk mau taat pada kehendak Bapa yang seringkali tidak masuk dalam akal kita. Misalkan saja dalam doa-doa kita yang tampak tidak kering dan sia-sia karena Allah terasa begitu jauh dari kita. Ketika kita mau menyangkal diri, kita akan menyadari betapa ketergantungannya diri kita pada Dia.
Akan tetapi sebaliknya, ketika kita tidak mau menyangkal diri, kita akan marah dan bahkan berpaling dari Dia karena keinginan dan doa kita tidak terwujud. Menyangkal diri memampukan kita menempatkan rencana kehendak-Nya menjadi prioritas, bukan rencana kehendak pribadiku. Menyangkal diri memampukan kita pula untuk pasrah dan tunduk pada ketetapan-Nya. Menyangkal diri membuka mata dan hati kita akan rencana Tuhan yang begitu besar di dalam hidup kita.
Memikul SalibKetika kita menyangkal diri, yang terjadi seringkali rasa sakit, pedih, bahkan menderita karena melakukan sesuatu yang bertentangan dari keinginan duniawi kita. Akan tetapi, itulah yang memang kita cari. Itulah salib yang perlu kita pikul untuk sampai pada Dia. Ketika dunia menawarkan jalan naik, jabatan, kekayaan, kekuasaan, popularitas, Kristus mengajak kita jalan turun ke bawah sambil membawa salib kita masing-masing.
Jalan turun itu tidak enak, tidak mudah, dan seringkali kita hindari karena bertentangan dengan apa yang ditawarkan pada jalan naik. Akan tetapi, kita perlu sadar, di jalan turun itu Kristus hadir bersama kita. Ia tidak hanya menunggu di ujung jalan menunggu dan melihat kita bersusah payah melewati jalan turun itu, tetapi Ia juga berjalan bersama kita. Ia juga merasakan sakit, pedih, kecewa, yang kita alami selama berjalan turun sambil membawa salib kita. Dan dalam perjalanan yang tidak mudah itu, Kristus menghibur kita, bahkan di titik lelah dan jenuh kita, Ia menggendong kita, mengangkat kita, sehingga kita terus berjalan bersama-Nya. Percayalah, ketika kita sampai pada akhir jalan itu, kita akan merasakan sukacita yang begitu besar dan kekal yang tidak pernah kita alami di dunia ini.
Mengikuti DiaPerlu disadari, dua hal di atas terjadi bukan karena kekuatan manusiawi kita. Akan tetapi, dua hal di atas terjadi karena Kristus sendiri yang memampukan kita. Kristus yang hadir dalam proses dan dinamika jatuh bangun kita. Dua proses di atas membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh, yang setia, yang pasrah, yang taat, yang mau ikut Yesus meskipun jalannya susah dan terjal. Bersyukur, kalo kita boleh menderita demi Kristus yang telah lebih dahulu wafat di salib demi manusia berdosa ini. Dengan demikian, kitab oleh menjadi pengikut-Nya yang sejati.
Penulis : fr. Marcellino Mario Amput
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa