Saudari-saudara yang terkasih, semoga kita bersama keluarga kita selalu dalam keadaan baik dan sehat. Dalam kehidupan ini siapa sih yang tidak senang jika bisa dekat dengan seseorang yang mempunyai status sosial atau kedudukan yang terpandang dalam masyarakat, yang berpendidikan tinggi, yang terkenal atau yang kaya? Bisa jadi kita lalu mengaku-ngaku bahwa masih mempunyai hubungan darah dengan orang yang dipandang sukses dalam masyarakat tersebut kendati hubungan kekeluargaannya sangat jauh atau bahkan sama sekali tidak mempunyai hubungan kekeluargaan. Sebaliknya, bisa jadi kita akan mengatakan bahwa kita sama sekali tidak memiliki hubungan kekeluargaan dengan orang yang dikenal tidak baik dalam masyarakat. Mungkin orang tersebut terjerat masalah hukum, berperilaku tidak baik, atau sedang ditimpa persoalan berat. Itulah sikap yang sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari.
Saudari-saudara yang terkasih, apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat tersebut dapat menggambarkan suasana bacaan pertama yang tadi kita dengar bersama. Orang yang menderita penyakit kusta harus diasingkan, tinggal di luar perkemahan dan dijauhi. Ia disebut najis. Barang-barang yang ia sentuh akan menjadi najis juga. Maka para penderita kusta harusdisingkirkan.
Saudari-saudara yang terkasih, sikap Yesus terhadap orang yang menderita sakit kusta sangat berbeda seperti yang dikisahkan dalam bacaan Injil hari ini. Tanpa canggung dan malu pada orang lain, Yesus menerima penderita kusta yang dating kepadaNya. Yesus tidak hanya bercakap-cakap dengan orang kusta tersebut, namun bahkan juga mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan menyembuhkannya. Yesus mencintai penderita kusta dengan tulus dan tanpa pamrih. Cinta-Nya pada penderita kusta memberikan kesembuhan dan pembebasan.
Saudari-saudara yang terkasih, sebagai umat beriman pasti kita ingin mencintai Yesus dengan sepenuh hati. Kita ingin mencapai kesucian sebagaimana diperintahkan oleh Yesus sendiri. Bagaimana kita dapat mencapai kesucian tersebut? Bukan dengan menjauhi mereka yang sedang tertimpa kemalangan, disingkirkan, dipandang negatif oleh masyarakat dan memiliki persoalan. Kesucian sejati yang diajarkan oleh Yesus dapat kita raih pada saat kita berani menyapa dengan tulus yang seringkali dipandang sebelah mata dan mengulurkan tangan kita pada orang-orang yang dihindari. Bahkan jika tangan kita harus menjadi kotor karenanya.
Marilah saudari-saudara, seperti kisah orang kusta yang menjadi tahir, kita diundang untuk senantiasa membuka hati kita, percaya kepada-Nya dan siap untuk menjadi pengikut-Nya. Semoga Allah selalu membimbing dan memberkati kita semua. Amin.
Penulis : Rm. Antara Pr
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa