Inilah Aku, Utuslah Aku

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dalam Minggu Biasa ke V ini kita diajak untuk menjadi utusan Tuhan seperti Nabi Yesaya yang menerima perutusan dari Tuhan dalam penglihatan. Namun karena menyadari diri yang berdosa Nabi Yesaya menolak dengan sopan bahwa ia seorang yang najis bibir, namun jika Tuhan berkehendak maka semua terjadi. Tuhan menyentuh bibirnya dengan bara api dan segala kesalahannya telah dihapus. Akhirnya Nabi Yesaya mengatakan “Ini aku, utuslah aku”.

Dalam injil Yesus menegaskan kepada para murid untuk menjadi utusan harus bertolak ke tempat yang lebih dalam dan dalam perutusan itu hal yang paling utama dan terutama pewartaan akan injil dan kasih karunia Tuhan. Dalam film “The Mission” dikisahkan bagaimana perjuangan seorang romo yang masuk ke pedalaman untuk mewartakan kasih Tuhan. Sebelumnya seorang saudaranya telah diutus tetapi ketua suku dan rakyat menyalibkan dan membuangnya ke sungai.

Mengenang kematian saudaranya, dia tidak ingin menyia-nyiakannya begitu saja dan memohon agar diperkenankan meneruskan misi saudaranya yang meninggal. Dengan berat hati pimpinan mengizinkannya. Untuk mencapai tempat itu ia harus melewati sungai dan tebing yang tinggi. Sampai di daerah itu ia dikepung dan mau ditombak. Dalam rasa takut ia mengeluarkan alat musik dan meniupnya, penduduk itu menyukainya dan menerimanya dan membawanya ke perkampungan.

Ia berjuang menanamkan iman, mengubah cara hidup mereka, mengajari mereka banyak hal dan akhirnya di daerah itu dibangun Gereja dengan cara bergotong royong. Namun terjadi masalah, pemerintah setempat tidak mengizinkan kehadiran romo di daerah itu, karena mereka tidak bisa lagi menjadikan rakyat menjadi budak di kota karena para romo melindungi mereka.

Para romo diberi pilihan meninggalkan daerah itu atau perang akan terjadi. Para romo tidak mau mundur dan memperjuangkan hak rakyat dan terjadilah perang. Dalam perang itu banyak yang gugur termasuk semua romo, mereka mempertaruhkan nyawanya.

Saudari-saudara yang terkasih, dalam perutusan yang diterima tidak semua berjalan dengan baik. Seperti kisah di atas kita dapat melihat perjuangan romo yang menerima perutusan, ketika dia siap dan mulai berkarya segala resiko dan tantangan dialami.

Menjadi orang yang diutus tidak harus yang pintar, orang yang berbakat, orang yang cantik/ganteng, orang yang kaya atau yang sempurna. Kita dapat melihat dari tokoh-tokoh Alkitab yang diperlihatkan pada hari ini. Nabi Yesaya : orang yang najis bibir, Rasul Paulus : pasti kita semua tahu bahwa Rasul Paulus orang yang paling kejam yang menganiaya Jemaat Kristus dan saksi kematian Stefanus. Rasul Petrus dan kawan-kawan : seorang nelayan yang berdosa.

Jika Tuhan memilih yang kecil, apa alasan kita menolak menjadi utusan Tuhan? Tuhan tidak memandang masa lalu kita yang penuh dosa, Tuhan menghendaki kesiapsediaan kita menjadi utusan yang penuh setia dan berani. Setelah dengan berani kita mengatakan “Ini aku, utuslah aku” kita harus bertolak ke tempat yang lebih dalam seperti yang dilakukan Nabi Yesaya dengan tidak jemu-jemu menyampaikan apa yang diperintahkan Tuhan kepada orang Israel walaupun tidak didengarkan. Rasul Paulus mengalami banyak penderitaan dan disidang berkali-kali karena pewartaan akan Yesus Kristus dan begitu juga dengan Rasul Petrus yang wafat di salib dengan cara terbalik.

Saudari-saudara yang terkasih, Tuhan
mengutus kita ke dunia ini untuk menyampaikan kabar baik dan melanjutkan karya-Nya yaitu dengan cara :
• Kita diutus untuk mengabdi tanpa pamrih, berkarya dengan hati teguh, meski dihina dan menanggung duka kita tetap bersukacita
• Kita diutus untuk membalut yang terluka, menolong yang susah dan derita
• Kita diutus untuk membagi kasih bagi orang yang tersisih dan terpinggirkan
• Kita diutus untuk meninggalkan ambisi sendiri dan berkarya dengan sesama
• Kita diutus kepada semua orang

Jadi karena kita utusan Tuhan, marilah tetap setia kepada-Nya, menerima dan menjalankan utusan yang dipercayakan kepada kita, apapun profesi kita. Marilah kita melakukannya dengan baik dan setia menindaklanjuti karya Yesus di dunia ini, dan tanpa ada alasan kita semua siap menjadi Utusan Tuhan dan dengan berani mengatakan “ini aku Tuhan, utuslah aku”. Amin.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments