Iman dan Tradisi Budaya Lokal

Iman merupakan sikap penyerahan seseorang kepada Tuhan yang sekaligus merupakan tanggapan atas perwahyuan dan rencana keselamatan Allah. Di balik sikap tersebut terdapat
isi iman yang adalah Tuhan dan perwahyuan-Nya sebagaimana diyakini oleh seseorang melalui pengetahuannya mengenai Kitab Suci, pengajaran Gereja, tradisi para rasul dan lingkungan sekitarnya. Keduanya merupakan dua sisi dari iman sehingga iman tidak bisa dipisahkan dari apa yang disebut kebudayaan.

Kebudayaan itu sendiri diambil dari istilah “budaya” yang berakar dari kata “budi atau pikiran” (Bdk.KBBI di https://kbbi.web.id/budaya). Oleh karena itu budaya sebenarnya merupakan produk ekspresi akal budi atau pemikiran yang dilakukan oleh individu ataupun kelompok masyarakat. Sekelompok orang dalam masyarakat, oleh karenanya, dapat menghasilkan budaya tertentu, yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi membentuk apa yang dinamakan tradisi budaya lokal.

Gereja perdana sebagaimana diceritakan dalam Kisah Para Rasul, misalnya, memperlihatkan cara hidup bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan dan memecah-mecah roti (Bdk. Kis 2:41-47). Di situ iman secara otentik terekspresi membentuk karakteristik budaya lokal umat beriman pada Jemaat perdana. Ketika cara hidup tersebut diteruskan dari generasi ke generasi di dalam jemaat maka terbentuklah tradisi budaya cara hidup Jemaat perdana.

Iman yang merupakan anugerah Tuhan dapat pula diterima oleh seseorang atau kelompok masyarakat yang sudah memiliki tradisi budaya lokalnya sendiri. Pertemuan dan interaksi iman dengan tradisi budaya lokal yang sudah ada tersebut menghasilkan proses pembudayaan, adaptasi atau pembaharuan tradisi budaya lokal yang sudah ada. Proses tersebut dapat berupa asimilasi, akulturasi ataupun inkulturasi. Dalam asimilasi, iman/tradisi budaya dan tradisi budaya lokal bertemu dan berinteraksi menghasilkan suatu tradisi budaya baru. Sementara dalam akulturasi, pertemuan dua tradisi budaya terjadi dan kemudian saling mempengaruhi. Tradisi budaya lokal masih memperlihatkan kekhasannya atau setidak-tidaknya masih bisa ditengarai kekhasannya. Proses inkulturasi terjadi Ketika iman atau tradisi budaya kristiani masuk ke dalam tradisi budaya lokal tertentu dan mendapatkan ekspresinya secara otentik dalam tradisi budaya lokal tersebut sehingga iman dihayati secara mendalam tanpa harus tercabut dari akar tradisi budaya lokal yang sudah ada.

Mengacu pada refleksi di atas, Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa dengan semangat Santa Teresa dari Kalkuta kreativitas pelayanan pastoral dan lokasi Kawasan industri di Bekasi Jawa Barat serta umatnya yang berasal dari berbagai daerah dengan aneka latar belakang memiliki potensi untuk menghasilkan model ekspresi iman dan kebiasaan-kebiasan positif umat beriman sebagai benih-benih budaya lokal. Proses akulturasi, inkulturasi atau asimilasi dengan tradisi budaya lokal memperkaya ekspresi dan penghayatan iman dengan kekhasan tradisi budaya setempat yang dimilikinya. Kebiasaan-kebiasaan baik dan cara hidup yang dijunjung tinggi sebagai nilai sangat berharga bagi umat beriman diperkaya lewat dialog dengan tradisi budaya lokal; dan kemudian diteruskan pada generasi selanjutnya sehingga proses inkulturasi, akulturasi atau asimilasi secara bertahap membentuk tradisi budaya lokal
umat beriman.

Tetap terus mengembangkan relasi mendalam dengan Tuhan serta mengekspresikannya pada setiap tantangan, interaksi budaya dan pelayanan akan menghasilkan kreativitas, kebiasaan-kebiasaan baik serta model cara hidup umat beriman sebagai pondasi terbangunnya tradisi budaya lokal umat beriman di Paroki Cikarang. Iman dan kekatolikan kemudian bukan lagi dirasakan sebagai sesuatu yang asing dari luar, melainkan menjadi bagian mendalam dari ekspresi hidup keseharian umat beriman yang memberi solusi dan inspirasi relevan pada dinamika budaya dan sekaligus menjadi evaluasi terhadap sisi negatif tradisi budaya lokal masyarakat sekitar dalam terang iman.

Penulis : Andreas Yumarma

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments