Hatiku Bersukaria karena Allah Penyelamatku

Berbagi dalam sukacita menjadi sukacita yang berlipat ganda. Berbagi dukacita menjadi dukacita yang terbagi dua.

Ungkapan bijak demikian menjadi hal yang perlu kita pahami dalam kunjungan Maria kepada Elizabeth. Maria hendak melihat dan membantu Elizabeth dalam kelahiran anaknya. Maria sendiri juga dalam kondisi mengandung. Keduanya menjadi perpanjangan tangan Allah dalam sejarah karya keselamatan. Sejarah yang tidak mudah dalam kacamata manusia pada umumnya, mengingat Elizabeth mengandung dalam usia pernikahan yang lama dan usianya sudah tua sementara Maria masih muda dan belum bersuami. Dengan keadaan demikian, perjumpaan kedua tokoh ini menjadi permenungan untuk kita, apakah hal yang beban untuk mereka berdua atau justru mendatangkan sukacita untuk mereka?

Suster, bruder, ibu, bapak, dan saudara sekalian, perjumpaan Maria dan Elizabeth merupakan kunjungan persaudaraan yang mengartikan hubungan istimewa keduanya untuk saling menguatkan dalam susah dan menghibur dalam kegembiraan. Pujian Maria yang kita dengar dalam bacaan Injil pada hari ini, Lukas 1:39-56, menjadi kesempatan  menarik yang bisa kita bawa dalam kehidupan sehari-hari. Elizabeth dalam sukacita menyambut Maria dengan anak dalam rahimnya ikut melonjak gembira saat mendengar salam Maria. sementara Maria sendiri mengangkat pujian pada Tuhan. Menarik untuk kita perhatikan bahwa pujian Mari ini ada kegiatan dengan kisah dalam Perjanjian Lama. Kisah yang terhubung dengan 1 Samuel 2:1-10, mengisahkan tentang Hana yang memanjatkan pujian kepada Tuhan oleh karena adanya kehadiran anak yang begitu ia rindukan. Kehadiran anak, yang dinamakan Samuel, kelak menjadi nabi Tuhan yang mengurapi Daud menjadi raja atas Israel.

Kesamaan pujian yang bisa ditemukan sebagai berikut:

PUJIAN HANA
Hatiku bersukaria karena Tuhan, tanduk kekuatanku ditinggikan oleh Tuhan.
Mulutku mencemoohkan musuhku, sebab aku bersukacita atas pertolongan-Mu
1 Samuel 2:1

PUJIAN MARIA
Aku mengagungkan Tuhan hatiku bersukaria karena Allah penyelamatku.
1 Lukas 46-47

Teladan yang bisa kita maknai dari Hana, Maria, dan Elizabeth adalah kerelaan mereka untuk dipakai oleh Allah. Pandangan manusia melihat mereka sebagai pribadi yang hebat namun bukan berarti kehebatan mereka ini mencerminkan hidup mereka mudah. Hana mengalami cacian dari hambanya sehingga ia hampir mengakhiri hidupnya, Elizabeth hidup dalam praduga sebagai prempuan mandul, sementara Maria bingung untuk menyakinkan mempelainya bahwa ia mngandung dari Roh Kudus. Pembelajaran bersama yang bisa kita bawa dalam kehidupan kita dalam memaknai kegagalan maupun cobaan hidup adalah perkara Tuhan bukan selesai dalam pandangan manusia namun Tuhan punya cara sendiri. Tuhan akan buka jalan, saat tiada jalan dengan kasih yang sejati dibukanya jalan untuk setiap permasalahan kita (petikan lagu rohani Tuhan buka jalan) menjadi pendorong semangat untuk kita yakin Dialah penyelamat kita. Pengakuan tentang Tuhan yang menyelamatkan inilah yang menyadarkan kita berterima kasih oleh karena Hati yang bersukaria oleh Tuhan penyelamatku.

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments