Forum Group Discussion FGD Sinergi di Paroki - Mewujudkan Paroki Ramah Lingkungan

Sebagai rangkaian pelaksanaan mandat LSAP (Laudato Si Action Platform), pada tanggal 02 September 2022 lalu, Keuskupan Agung Jakarta menyelenggarakan Forum Group Discussion dengan perwakilan dari seksi Keadilan Perdamaian, seksi Liturgi dan seksi Katekese dari seluruh paroki se-KAJ dalam rangka menfasilitasi paroki-paroki untuk ikut serta bersinergi mewujudkan Paroki Ramah Lingkungan dan bersama-sama menghidupi semangat Laudato Si dalam setiap aspek karya dan pelayanan baik di dalam maupun di luar Gereja.

Melalui FGD ini, Komisi Keadilan Perdamaian, Komisi Liturgi dan Komisi Kateketik KAJ ingin menggali aspirasi dan wujud konkret bentuk pertobatan ekologis (Laudato Si) dari para peserta diskusi dalam mewujudkan paroki ramah lingkungan, kekuatan pendukungnya maupun kendala-kendala yang dihadapi dalam rangka mewujudkan paroki ramah lingkungan.

Seluruh peserta diajak untuk menyumbangkan pemikiran, gagasan, masukan serta kritik dan saran berdasarkan pada pengalaman dan refleksi dalam melayani paroki sehari-hari sesuai dengan bidang seksi masing-masing dalam suatu kelompok diskusi dalam rangka memikirkan bersama, merintis dan membangun sampai suatu saat mewujudkan apa yang kita sebut sebagai paroki ramah lingkungan.

Latar Belakang :
1. Kegiatan manusia penyebab pemanasan global
2. Dampak perubahan iklim semakin menguatirkan
3. Hanya ada satu bumi untuk kita semua (Kej 1:31)
4. Salah satu tema Ardas KAJ 2022 - 2026 : Keutuhan alam ciptaan

Landasan Pemikiran Gereja :
1. Paus Yohanes Paulus II menyebut tanggung jawab untuk merawat segenap ciptaan sebagai “Panggilan Ekologis” dengan menegaskan peran atau tugas manusia sebagai “Pemelihara” di hadapan fakta krisis lingkungan hidup yang berdampak pada pemiskinan warga planet (Yohanes
Paulus II, 2001).
2. Paus Benediktus XVI membangkitkan komitmen manusia untuk segera mengatasi problem ekologis yang menerpa kehidupan bersama dengan
menunjukkan bahwa antara lingkungan hidup manusiawi dan lingkungan alam ada keterkaitan yang tak dapat dilepas-pisahkan.
3. Paus Fransiskus dalam buku ensiklik
Laudato Si menyatakan bahwa panggilan untuk “merawat rumah kita bersama” sebagai sebuah bentuk perwujudan iman Katolik, iman yang merawat bumi karena pada faktanya “saudari kita sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya”

Poin-poin dalam Ensiklik Laudato Si - Apa yang terjadi dengan rumah kita ?
1. Polusi dan perubahan iklim (LS. 20-26)
2. Masalah air (LS. 27-31)
3. Hilangnya keanekaragaman hayati (LS. 32-42)
4. Penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial (LS. 43-47)
5. Ketimpangan global (LS. 48-52)
6. Tanggapan-tanggapan yang lemah (LS. 53-59)
7. Keragaman pendapat (LS. 60-61)

Apa Yang Perlu Kita Lakukan ?
- Memiliki kemampuan untuk membaca tanda-tanda zaman dengan jujur dan mengakui bahwa “rumah kita bersama mengalami kerusakan parah” (LS. 61).
- Membangun kesadaran bahwa kita dipanggil untuk menjadi pengelola yang bertanggung jawab (LS. 67-69), yang selalu bersyukur penuh iman atas kasih Allah yang menyelamatkan kita (LS. 72-74).
- Melakukan pertobatan ekologis dengan menghayati panggilan-Nya untuk menjaga, memelihara, merawat, dan melestarikan keutuhan ciptaan dengan murah hati dan penuh kelembutan sehingga bumi ini bisa keluar dari krisis ekologi dan lingkungan hidup.

Ciri-ciri Paroki Ramah Lingkungan KAJ adalah sebagai berikut :
1. Dalam struktur dewan paroki ada sub-seksi lingkungan hidup, yang bertanggung jawab menumbuhkan kepedulian umat akan lingkungan hidup (bukan petugas teknis pemeliharaan lingkungan hidup, apalagi petugas kebersihan).
2. Di paroki tersedia cukup tempat sampah yang terpilah sesuai fungsi dan sistem pengolahannya.
3. Umat tahu dan mempraktekkan pemilahan sampah dengan benar setidaknya di komplek paroki (bisa dicek apakah tempat sampah terpilah yang disediakan dipergunakan semestinya).
4. Dalam setiap kegiatan, terutama keramaian/pesta, panitia tidak lupa mempunyai seksi kebersihan dan menyediakan
trash bag yang cukup, dipasang di beberapa tempat strategis dan memandu untuk pemilahan sampah organik, sampah daur ulang dan buangan.
5. Dalam kegiatan-kegiatan baik di paroki maupun skala lingkungan pemakaian kemasan makanan/minuman dengan plastik dan styrofoam serta alat makan sekali pakai buang
dikurangi secara sistematis dan menyediakan dispenser air minum untuk isi ulang dimana umat membawa botol minum masing-masing (BBM = Bawa Botol Minum).
6. Komplek gereja (termasuk WC/KM dan got/saluran air) selalu bersih serta upaya hemat air dan listrik.
7. Ada resapan air yang memadai (bisa sumur resapan atau bisa juga lubang resapan biopori).
8. Pohon-pohon di komplek gereja terawat dan selalu hijau.
9. Komplek paroki dijadikan kawasan bebas rokok.
10. Ada tulisan/artikel/e-flyer tentang lingkungan hidup dalam warta/majalah/WAG Dewan Pleno dan tersebar sampai di lingkungan-lingkungan.
11. Tersedia tempat parkir sepeda sebagai salah satu upaya mendorong transportasi hijau.
12. Dekorasi altar setidaknya sebulan sekali memakai tanaman hidup dan pada masa Adven dan Prapaskah.
13. Terdapat modul tentang Laudato Si (Pertobatan Ekologis) dan aksi nyata dalam materi ajaran untuk Katekumen, Komuni Pertama, Krisma, BIR.
14. Adanya edukasi dalam permainan yang interaktif untuk pembelajaran pemilahan sampah dan kreasi daur ulang di kelas BIA.
15. Adanya upaya penggunaan energi
solar cell, misalnya lampu penerangan taman.
16. Perayaan Liturgi dengan nuansa lingkungan hidup pada salah satu atau dua peringatan hari Bumi dan Lingkungan Hidup 5 Juni.
17. Adanya upaya kearah paperless dengan e-invitation, e-certficate, teks-teks bacaan ditayangkan di LCD (bagi paroki yang memiliki perangkat tersebut).

Kesinergian di Paroki sangat penting
1. Dengan seksi liturgi
2. Dengan seksi kateke se/Kitab Suci
3. Dengan seksi kerawam/HAK
4. Dengan seksi kepemudaan
5. Dengan seksi kerasulan keluarga
6. Dengan seksi sosial/PSE
7. Dengan seksi komsos
8. Dengan seksi rumah tangga/pemeliharaan gedung paroki
9. Dengan kepanitian acara tingkat paroki (misal : HUT Paroki, HUT Imamat Romo paroki, Hari besar Natal, Paskah, Hari Pangan Sedunia dll).

Diharapkan suatu saat nanti masing-masing Paroki mempunyai standard/pedoman Paroki Ramah Lingkungan dengan menghidupi semangat Laudato Si dan membuka peluang dengan bersinergi dengan elemen-elemen dalam masyarakat sebagai upaya menciptakan dan melestarikan alam lingkungan, sekaligus sebagai perekat jalinan persaudaraan tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan.

Liputan dan Foto : Christoforus Suryadarma & Rosa Marbun - Seksi Katekese


Post Terkait

Comments