Ibu, Bapak, Saudara, Suster dan Bruder sekalian, berapa dari anda sekalian yang merasa jenuh dengan pemberitaan tentang pandemi yang berlangsung selama 1,5 tahun ini? Semua sektor merasakan dampak dari pandemi ini bahkan korban jiwa tidak sedikit dari pandemi ini.
Bagian dari pengantar renungan ini dimaksudkan dengan kadar kepercayaan kita akan kehendak Tuhan. Sudah banyak ajakan maupun doa yang kita haturkan agar pandemi ini menghilang atau segera berlalu dan sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan berlalu. Apakah ini berarti Tuhan sudah enggan mendengarkan doa kita? Atau ini bentuk teguran Tuhan melalui pandemi agar kita lebih banyak berdoa? Tentunya permenungan yang saya mau bawakan bukan sekedar untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan ini melainkan lebih memaknai panggilan Tuhan atas hidup kita.
Dalam bacaan Injil yang kita dengar pada kesempatan ini mengisahkan tentang murid-murid yang mengundurkan diri dari Galilea. Bila kita merunut dari kisah sebelumnya maka kita akan melihat kaitan dengan kisah yang saat ini kita renungkan. Kisah sebelumnya berbicara tentang Yesus yang menggambarkan diri sebagai roti hidup. Perkataan Yesus sebagai roti hidup tidak mudah dimengerti oleh kebanyakan muridnya bahkan beberapa diantaranya bersungut-sungut. Sampai pada akhirnya kebanyakan dari murid-murid itu pergi meninggalkan Yesus. Mereka yang meninggalkan Yesus adalah mereka yang kagum akan mukjizat Yesus namun belum paham dengan maksud sebenarnya dari mukjizat yang Yesus perbuat.
Saat ini kitapun dihadapkan pada keadaan demikian yaitu disebut sebagai pengikut-Nya namun belum tentu paham maksudnya. Pemahaman kita belum tentu sama dengan pemahaman Tuhan karena dalam perjalanan hidup ini kita bisa tergoda pada hal-hal duniawi sehingga abai pada kehendak yang Ilahi. Dalam pengantar saya mengungkit tentang pandemi yang berlangsung sekian tahun, tentunya dengan ukuran manusia sudah lama dan menjemukan. Bisakah untuk kesempatan ini kembali melihat bagaimana Tuhan berencana atas pandemi ini?
Ibu, Bapak, Saudara, Suster dan Bruder sekalian, saat satu persatu murid Yesus meninggalkandan menyisakan sedikit saja maka Yesus bertanya kepada yang tersisa, “Apakah kamu tidak juga pergi?” (lih. Yoh. 6:67). Adalah Simon Petrus yang menjawab, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup dan kekal; dan kami percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah.” (lih. Yoh. 6: 68-69). Jawaban Petrus menegaskan akan panggilan kita akan panggilan sebagai murid Yesus berarti percaya penuh akan perkataan-Nya. Kepercayaan yang ditunjukkan dengan sikap tidak mendua dan memaksakan kehendak Allah terjadi menurut kehendak kita.
Maka dari itu, mari kita percayakan pandemi ini maupun segala masalah yang kita hadapi dalam rencana-Nya. Tuhan tidak hanya ada di saat kita merasa kesepian, ditinggalkan, sakit, sedih, dan susah hati melainkan dalam setiap perkara hidup kita karena hidup kita sudah menjadi bagian dalam rencana keselamatan-Nya. Mari kita miliki semangat seperti Petrus yang menyerahkan hidupnya menurut kehendak Tuhan oleh karena Ia Yang Kudus dari Allah!
Penulis : Rm. Camellus, Pr
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa