Diberkatilah Orang yang Mengandalkan Tuhan

Tidak ada yang menduga bahwa pandemi ini akan berjalan memasuki dua tahun dan masih menunjukkan tanda bahwa ini belum berakhir. Upaya yang dilakukan dengan vaksinasi untuk warga dengan harapan agar wabah ini mereda memang sudah menunjukkan tanda positif. Namun mutasi dari gen virus COVID-19 juga berkembang sampai sekarang dengan varian Omicron yang memiliki gejala lebih ringan daripada varian Delta, namun memiliki penyebaran yang lebih cepat. Hal yang bisa dipelajari adalah upaya vaksinasi warga menjelaskan vaksin bukan menjadikan kebal dari virus tetapi meminimalkan risiko yang timbul jika kita terpapar.

Bacaan dari Kitab Yeremia 17:5-8 menceritakan bagaimana nasib orang yang mengandalkan Tuhan akan mendapat berkat. Di masa pandemi ini banyak kisah yang menarik untuk mereka yang merasakan sendiri dampaknya, seperti kehilangan pekerjaan, kejenuhan oleh karena pembelajaran jarak jauh, mekanisme untuk mendapatkan pelayanan sakramen yang lebih kompleks daripada masa normal, dan pembatasan penggunaan sarana publik. Semua hal ini seakan mengarah pada satu suara bahwa pandemi ini menyulitkan hidup.

Hal apa yang kemudian menjadi pembelajaran dari bacaan kitab Yeremia? Pandemi ini sekan menjadi ujian iman bagi umat Allah. Di saat awal sampai kini, langkah pencegahan dan penanggulangan dari penyebaran virus sudah dilakukan. Tidak dapat dipungkiri bahwa sudah banyak jatuh korban yang bisa jadi adalah relasi, teman, atau dari keluarga kita sendiri. Dalam keadaan demikian kita punya kesempatan dengan waktu pandemi berlangsung ini untuk meninjau kembali ukuran iman kita.

Ukuran yang dilihat dari seberapa besar kita mengandalkan Tuhan dalam setiap kejadian dalam hidup. Waktu pandemi seakan menunjukkan akan peringatan bagi bangsa Israel yang mulai melupakan Allah. Dalam perjalanan kenabian Yeremia, ia menyaksikan bagaimana bangsa Israel dikalahkan dan dibuang oleh Babel. Perikop dari Kitab Yeremia bab 17 ini sendiri merupakan pergumulan dari nabi oleh karena bangsa berdosa.

Suster, bruder, ibu, bapak dan saudara terkasih. Sebelum kita mengalami pandemi, dimana segalanya berjalan normal, menjadikan semua terasa biasa, seperti kontak fisik (berjabat tangan) saat bertemu orang, memaksakan diri untuk mengikuti acara walau kondisi fisik kurang sehat, berkerumun, dan berbagi alat makan. Keadaan demikian masih kita rindukan untuk terulang namun untuk saat ini kita mulai menyadari harga dari semua itu yaitu kesadaran untuk menjaga diri untuk kebaikan orang lain.

Lalu hal apa yang menandakan bila orang yang mengandalkan Tuhan di masa pandemi sehingga hidupnya terberkati seperti yang dikatakan oleh Yeremia? Ukuran untuk manusia yang mengandalkan Tuhan adalah kesetiaan dan ketekunan manusia itu dalam merawat imannya. Pembatasan-pembatasan yang terjadi selama pandemi bukan dijadikan alasan untuk iman itu tidak berkembang melainkan memupuk iman untuk tumbuh subur.

Misa yang diikuti secara online bukan dilihat sebagai penurunan makna misa oleh karena perayaan yang dilakukan dalam kamar atau ruang dalam rumah. Tetapi menambah nilai bagi
ruang atau kamar yang dipakai itu sebagai gereja, tempat perayaan iman berlangsung. Pertemuan iman yang dilakukan secara online bukan berarti menghilangkan makna senda gurau yang selama ini terjadi bila dilakukan pertemua tatap muka melainkan juga mengedepankan pertemuan iman yang efektif.

Pada akhirnya, nilai utama yang bisa kita renungkan dari pesan Yeremia adalah hidup bersama Tuhan bukan serta merta menjadikan orang bebas dari masalah dan sakit penyakit. Hidup bersama Tuhan berarti kita menyerahkan setiap masalah kita untuk kita tetap kuat menjalaninya bersama Tuhan. Kekuatiran akan masalah hidup, seperti perjuangan melewati pandemi ini, akan ada namun dengan mengandalkan Tuhan maka:

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air,
Yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air,
Dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
-Yeremia 17:8-

Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments