Bertobatlah dan Percayalah Kepada Injil

“Apakah makna Natal bagiku?”, pertanyaan saya pada teman-teman waria dalam perayaan Natal sederhana mereka. Sangat menarik. Ada yang menjawab; kelahiran Yesus, banyak kue-kue, Yesus hadir untuk menebus dosa manusia dan lainnya. Yang paling menarik bagi saya adalah seorang waria yang menjawab “Allah yang tidak men-judge manusia!”. Saya terheran dan tidak menyangka atas jawaban itu. Seingat saya belum pernah mendengar jawaban seperti itu selama bertahun-tahun saya belajar teologi atau saya tidak masuk saat pembahasan tentang Natal saat kuliah hehehehe... Saya meneruskan pertanyaan saya. “Bagaimana bisa punya pemikiran seperti itu?” lanjut saya. Dia mengatakan “kalo Allah men-judge manusia (negatif), maka Allah tidak turun ke dunia”. Jawaban yang sangat dalam dan membutuhkan permenungan lebih lanjut. Bener juga ya!.

Saudara-saudari terkasih. Natal adalah Allah tidak men-judge (negatif) manusia. Kita bisa mengenali awal siapa sebenarnya Allah yang kita imani. Allah yang sangat mengasihi manusia dan kemanusiaan. Allah yang hadir dalam kesederhanaan dan keterbatasan. Dan membuat manusia sangat berharga. Teringat saya akan nada yang sama dengan apa yang dikatakan Paus Fransiskus (Juli 2013) “Jika seseorang adalah “gay” secara publik dan ia mencari Tuhan serta mempunyai kehendak yang baik, lalu siapakan saya ini sehingga saya harus menghakimi mereka?”. Seperti Injil Matius 12:7: “Yang kukehendaki ialah belaskasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah”. “Who am I to judge”.

Merefleksikan lebih lanjut terkait dengan “Who am I to judge” berhadapan dengan bacaan Liturgi Minggu 21 Januari 2024 sangat menarik. Nada dasar dari bacaan Minggu ini adalah pertobatan atau sikap bertobat.

Dalam bacaan pertama (Yunus 3:1-5. 10) tampak jelas kasih Allah yang tentunya punya latar depan “Who am I to judge?”. Dan dalam bacaan Injil (Mar. 1:14-20) secara gamblang Yesus mengatakan “Waktunya telah genap. Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”. Dua hal yang pokok dalam kehidupan beriman yang saling bertaut satu sama lain; pertobatan dan percaya pada Injil. Bisa dikatakan pertobatan adalah jiwa dan percaya (pewartaan) pada Injil adalah raga. Jiwa dan Raga tidak bisa dipisahkan. Ada pada diri kita. jika dipisahkan maka kita kehilangan kemanusiaan.

Bagaimana agar kita tidak kehilangan kemanusiaan kita? Tentunya sangat terkait dengan pertobatan. Dan tentang pertobatan sendiri, yang (mungkin) sering tidak terwujud; bisa jadi pertobatan kita terganjal oleh narasi terbalik “Who am I to Judge”. Maksudnya, kita sering mudah jatuh pada judgement-judgement negatif untuk diri kita sendiri, orang yang ada disekitar kita, alam semesta ini dan bahkan Allah. (Mungkin) Kita acap menterakan judge pada diri sendiri bahwa kita “orang yang paling berdosa”, “orang paling sulit”, “orang yang selalu menderita”, atau “orang termiskin se-dunia” dan seterusnya. Atau men-judge orang lain dan alam semesta ini. Bahkan kita sering men-judge Allah; “Allah tidak adil” karena tidak mengabulkan doa-doaku dan seterusnya. Diri kita sering asik menggelembungkan penilaian atau men-judge negatif daripada melihat bahwa kasih Allah yang begitu besar dalam diri kita, orang lain dan semesta ini.

Judgement-judgement itulah yang membuat kita jauh dari pertobatan bahkan jauh dari kasih Allah yang selalu turun pada kita. Dan tentunya kita tidak dapat dengan mudah percaya pada Injil dan tidak bisa wartakannya dalam kehidupan ini. Iman menjadi tidak berbuah.

Akhirnya, “Who Am I to Judge?” menjadi halaman pembuka sejarah pertobatan kita. Dan menuntun kita untuk membaca “kitab” Kasih Allah dalam kehidupan kita.

Penulis : Christoforus Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments