Berilah Dirimu Didamaikan dengan Allah

Saudari/a ku yang terkasih dalam Kristus, tak terasa kita sudah memasuki Minggu Prapaskah IV. Dalam minggu ini kita diajak untuk merenungkan pengalaman kasih Allah yang selalu mengasihi dan mengampuni kita. Lewat perumpamaan yang dikisahkan dalam Sabda Tuhan hari ini tentang seorang ayah yang memiliki dua orang anak laki-laki, sebut saja Sulung dan Bungsu. Tokoh utamanya adalah putra yang kedua, si Bungsu.

Orang Farisi dan Ahli Taurat serta para pendengar Yesus lainnya bisa belajar dari pengalaman putra Bungsu itu. Namun, sikap sang ayah dan putra pertamanya juga penting untuk diperhatikan. Kisah ini bercerita tentang anak bungsu yang meminta warisan orangtuanya, kemudian pergi berfoya-foya yang akhirnya membuat hidupnya pun terpuruk. Gambaran itu menegaskan betapa pengaruh dosa membuat hidup kita menderita jauh dari Bapa. Syukurlah ditengah penderitaan akibat dosanya, ia sadar dan bukan hanya berpikir untuk bertobat, melainkan sungguh-sungguh bertobat, berbalik kepada ayahnya.

Perumpamaan Yesus ini disampaikan ketika para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia; sementara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut, tidak setuju karena Yesus bergaul dan makan bersama orang-orang
yang dianggap sebagai orang berdosa. Perumpamaan anak Sulung dan Bungsu dalam kisah Sabda Tuhan hari ini mau mengkritik sikap para ahli Taurat dan orang Farisi.

Mereka tidak setuju ketika Yesus bergaul dan makan bersama dengan orang-orang yang mereka anggap berdosa. Mengamati dosa orang lain dan menganggap orang lain berdosa serta merasa diri lebih baik adalah dosa besar yang kerap tidak disadari.

Ketika kita jatuh dalam gelapnya dosa, jauh dari Bapa dengan segala kelimpahannya; maka kita pun harus berani bersikap seperti si Bungsu itu. Menyadari kesalahan, berani bertobat dan merubah diri adalah sikap yang akan memperbaiki hubungan kasih dengan Bapa. Kemauan dan keberanian untuk bangkit dan pergi kepada Bapa adalah suatu sikap tobat yang luar biasa.

Di masa Prapaskah ini marilah berani datang kepada Allah Bapa yang selalu membuka tangan-Nya untuk kita anak-anak-Nya yang berdosa ini. Berilah dirimu didamaikan dengan Allah Bapa. Sikap ini harus menjadi sikap setiap orang beriman, sikap hidup kita. Amin.

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments