Berbelaskasih - Wujud Nyata Hakekat Allah Bukan Pencitraan

Bagian awal dari perikop minggu ini dinyatakan bahwa “Yesus melihat orang banyak yang mengikuti-Nya, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala” (Mat. 9:36). Apakah yang dilakukan oleh Yesus pencitraan? Agar bisa ditulis dalam “Kitab Suci” menjadi sebuah “rekam jejak” diri-Nya. Tentu TIDAK bahwa apa yang dilakukan oleh Yesus bukan pencitraan dan untuk mencari nama atau dukungan agar terpilih menjadi pejabat pemerintahan. Yesus tidak butuh citra diri. Dia hanya ingin menyatakan kehendak Bapa-Nya; Deus Caritas est, Allah adalah kasih.

Belaskasih Yesus bukan untuk sebuah “rekam jejak” agar dilihat orang. Allah tidak perlu “rekam jejak”. Tidak seperti manusia yang butuh “rekam jejak”; harus omong kiri – kanan untuk menya takan diri bahwa “Aku berbelaskasih” padahal zonkkkk… hahahaha... Belaskasih bukan materi orasi atau kepiawaian menguntai kata ke sana - ke mari untuk mendapat dukungan. Belaskasih Allah itu adalah hakekat kasih yang diwujud-nyatakan.

Banalitas (kedangkalan) terjadi dalam hidup kita. Pun mengenai kata “berbelas-kasih” menjadi dangkal. Kita menyatakan percaya “amin” pada Allah yang adalah Kasih, (kemudian) semestinya manusia membagikan belaskasih kepada sesama. Analogi sederhana: Allah itu kasih adalah cahaya, dan manusia itu adalah kaca. Kaca tidak pernah dapat memantulkan dirinya sendiri, pasti ada sumber cahaya (kasih) yang dipantulkan. Dan pantulan cahaya itu mengenai siapapun dan apapun; mengenai orang yang percaya atau tidak kepada-Nya, orang jahat atau baik, latar yang berbeda-beda dan lainnya. Dengan analogi itu maka manusia mestinya terus berbelaskasih; tanpa syarat; tidak terbatas ruang dan waktu. Tapi pada kenyataannya, akhir-akhir ini, berbelaskasih telah terbatas oleh ruang dan waktu, juga sarat dengan kepentingan (dipolitisir). Semakin ruwet manakala belaskasih sebagai sarana untuk viralisasi diri dan melupakan cahaya (Allah adalah Kasih). Belaskasih sering diwarnai oleh aroma tak sedap; menjelek-jelekan, merendahkan, mencaci, dan merasa paling benar. Jelas ini pasti keliru dan sangat dangkal.

Bagian tengah dari perikop Minggu ini, semakin meneguhkan hakekat Allah adalah kasih melalui belaskasih. Belaskasih Yesus memantul dalam tindakan konkretnya. Dan belaskasih Yesus mengajak orang banyak untuk juga merasakan cahaya dan percaya bahwa Deus Catitas Est. Yesus mengatakan “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit…”. Lalu Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat..Inilah adalah panggilan hidup beriman kita (Mat. 10:1). Kemudian Yesus berpesan kepada mereka “Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria”(Mat. 10:5). Kata “jangan menyimpang” tentunya untuk memberi arah belaskasih manusia pada sesama harus mewujudkan wajah Allah adalah kasih. Yesus mengajak berbelaskasih yang konkret. Bukan dengan untai kata indah, narasi muluk-muluk dan teori-teori tentang belaskasih. Yesus sangat kongkret: “…melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat  Israel. Pergilah dan beritakanlah Kerajaan Sorga sudah dekat” (Mat. 10: 5-6). Beritakanlah Kerajaan Sorga menguatkan bahwa Allah adalah kasihlah yang harus dinyatakan. Bukan visi dan misi kepentingan diri dan kelompok. “Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan” (Mat. 10:7-8). Tindakan tersebut mesti diterjemahkan dalam konteks saat ini: apa itu orang sakit? Orang yang membutuhkan bantuan kita saat ini. Bangkitkan orang mati, mau mengajak kita semua untuk hadir memberi semangat hidup pada semesta ini. Tahirkan orang kusta bisa dikatakan memberi hak (sosial) hidup (memanusiakan manusia) dan usirlah setan-setan, dalam wujud apa setansetan saat ini. Setan-setan bukan dalam bentuk-bentuk pocong, genderuwo atau yang lainnya. Tapi seperti yang kita “tolak” dalam perjanjian baptis (kembali) kita; menolak kejahatan dalam diri dan masyarakat, godaan-godaan dalam bentuk perjudian, tahayul, dan hiburan yang tidak sehat dan seterusnya. Bisa dikatakan semua tindakan-tindakan belaskasih itu juga mau mewujudkan Kesejahteraan Bersama (Bonum Commune).

Bagian akhir dari perikop Minggu ini, “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat. 10:8). Bahwa kebenaran sejati: Allah adalah kasih. Kasih Allah merupakan hakekat yang selalu dan mengenai seluruh ciptaan-Nya. Manusia mewujud-nyatakan hakekat Allah itu. Berbelaskasih tidak bisa dikotak-kotakan hanya dalam ruang dan waktu tertentu saja; juga tidak boleh terkontaminasi oleh kepentingan diri dan kelompok tertentu. Bila ini terjadi maka kita mengingkari Hakekat Allah itu sendiri dan jatuh pada pencitraan diri.

Mari kita selalu menyadari Hakaket Allah adalah Kasih agar tidak jatuh pada tindakan pencitraan.

Penulis : Christoforus Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments