“Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” (Luk.12:32)
Di dalam perziarahan di dunia ini, kita sering kali dihadapkan oleh banyak pilihan. Ada pilihan untuk menunda, pilihan untuk membatalkan, atau pun pilihan untuk melanjutkan suatu niat baik. Pilihan memberikan sebuah kebebasan dan dipilih oleh kehendak dalam diri sendiri. Tidak ada yang berhak memberi intervensi berlebih pada setiap pilihan yang ada dalam hidup kita sebagai pribadi. Dalam menentukan sebuah pilihan, seringkali kita merasa takut dan cemas dalam menentukan tindakan yang akan kita lakukan. setiap keputusan yang telah diambil memiliki tanggungjawab yang perlu dijaga dan dipelihara. Peran Allah dalam tindakan ini yaitu memberi banyak pertimbangan baik yang bisa dipikirkan agar keputusan itu memang yang terbaik dan punya manfaat dalam perkembangan kehidupan. Pilihan itu membawa kita pada situasi awal untuk mulai melangkah.
Dalam bacaan Kitab Suci, pada hari Minggu Biasa pekan ke-19, kita diingatkan untuk tidak perlu merasa takut Dalam bacaan pertama misalnya, penulis Kitab Kebijaksanaan mengingatkan kita untuk menjauhi rasa takut, sebab Tuhan Allah sendiri menyertai umat-Nya dengan kasih setia yang tidak berubah sepanjang zaman. Ada rasa optimism dan harapan yang besar dari umat Tuhan yakni: “Ada keselamatan bagi orang benar dan kebinasaan para musuh” (Keb 18:7). Pengharapan bukan hanya sekedar sebuah wacana tetapi kesiapan hati manusia untuk menerima Tuhan. Inilah ekspresi yang sangat positif: “Diam-diam anakanak suci dari orang yang baik mempersembahkan korban dan sehati membebankan kepada dirinya kewajiban ilahi ini: orang-orang suci sama-sama akan mengambil bagian baik dalam hal-hal yang baik maupun dalam bahaya.
Dalam bacaan kedua, penulis Surat kepada Jemaat Ibrani menekankan tentang iman. Baginya, iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita.” (Ibr 11:1-2). Iman membantu kita semua untuk tidak lagi berpikir secara manusiawi. Iman membantu kita untuk mengerti bahwa kita harus berpikir dengan pola pikir Allah bukan pola pikir manusia. Hanya dengan pola pikir Allah maka kita akan merasakan keselamatan abadi sebab kita telah berserah kepada Tuhan. Untuk lebih meyakinkan jemaat Ibrani, maka ingatan-ingatan masa lalu tentang penyertaan Tuhan dan segala mukjizat yang telah terjadi menjadi bukti keberadaan Allah di tengah umat-Nya.
Allah menyertai dan mengasihi umat-Nya sampai tuntas karena melihat iman mereka. Meskipun bangsa Israel selalu menggerutu kepada Tuhan dan memiliki hati yang keras namun kasih Tuhan tidak pernah berubah. Satu hal yang pasti yakni Tuhan adalah kasih dan manusia mengimani-Nya. Dalam bacaan Injil, Tuhan Yesus mengingatkan para murid-Nya untuk selalu siap sedia mempertahankan iman kepada Tuhan. Tuhan Yesus berkata: “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.” (Luk 12:32). Kata-kata Yesus ini sangat menguatkan kita semua, sehingga kita sebagai umat Allah diajak untuk tidak perlu takut akan tetapi kita perlu memberikan kesaksian akan kasih Allah yang hidup kepada semua orang yang kita jumpai.
Dalam merenungkan bacaan-bacaan pada minggu ini, saya teringat akan kata-kata pertama Paus Yohanes Paulus II ketika diangkat menjadi seorang Paus ialah “Jangan Takut”. Kata-kata yang sederhana, namun punya daya dan spirit yang mengubah. “Jangan Takut” merupakan sebuah nilai sentral untuk membangkitkan motivasi dalam diri kita untuk mengalami banyak perubahan hidup maupun memulai sesuatu yang baru.
Pribadi St. Yohanes Paulus II menjadi teladan sejati dalam merumuskan banyak pilihan berdaya magis. Pilihan itu diambil dengan penuh keberanian serta sikap tanggung jawab. Magis karena selalu dilandasi oleh kuasa Allah yang menyelamatkan. St. Yohanes Paulus II selalu meyakini bahwa, “Kekuatan salib Kristus dan Kebangkitan-Nya jauh lebih besar dari pada kejahatan yang menakutkan manusia atau yang dapat ditakuti oleh manusia.” Pilihannya untuk memilih kata-kata “Jangan takut” bukan sebatas ungkapan maupun kehendak manis semata tetapi diwujudkannya dalam banyak perbuatan. Ia memberi kritik kerasnya pada mafia yang melakukan tindak kekerasan. Ataupun pilihannya yang cukup berani dalam mengampuni seorang yang telah berusaha membunuhnya.
Maka dari itu, penting bagi kita sebagai umat Allah untuk meyakini diri sendiri bahwa kesungguhan untuk menekuni sebuah pilihan ialah nyata dan berdaya kuat. Mencoba dan belajar banyak hal baru, menekuni hobi yang dipunya, menemukan passion yang sesuai, memulai hal-hal baik dalam hidup, ikut ambil bagian dalam banyak kegiatan sosial, dan masih banyak contoh lainnya menjadi sebuah realisasi dari pilihan baik yang berhasil dirumuskan dan diwujudnyatakan. Pilihanku didampingi dorongan Ilahi yang berbisik dalam hati dan kehendak yang kuat untuk meyakini setiap pilihan yang telah tersemat dalam diri ini. Oleh karena itu, kita semua diajak untuk berani menghadapi tantangan dalam memilih suatu tindakan dan senantiasa tidak takut untuk memilih, menjalani dan menekuni pilihan yang telah kita miliki dalam naungan kasih Allah yang menuntun dan menyelamatkan.
“Be Not Afraid” - Paus Yohanes Paulus II
Penulis : Fr. Bernardus Sukma Billy Syahputra
Sumber: Dokumentasi Warta Teresa Edisi 4 Agustus 2022
Gambar: www.anugrah.net