Belajar “Berjalan” seperti Ketiga Majus dari Timur

Dalam bacaan-bacaan Injil Hari Raya Natal hingga masa Natal, banyak tokoh yang dimunculkan di dalam kisah kelahiran Kristus. Aktor utamanya tentu adalah Yesus Kristus, Sang Juruselamat, yang lahir ke dunia. Tokoh lainnya adalah sosok Maria, seorang gadis belia yang murni, mendapat tugas yang berat dan mulia sebagai ibu yang melahirkan Sang Mesias. Tidak kalah penting sosok Yusuf, suami Maria, yang dalam diamnya bergumul untuk percaya pada kehendak Bapa. Ada sosok para gembala yang sangat sederhana, menyambut Tuhan yang lahir dengan sukacita. Tidak lupa, ada sosok Malaikat Gabriel yang menjadi pembawa kabar baik bagi seluruh dunia. Akan tetapi, jika kita perhatikan dengan saksama, ada tokoh lain yang identik dengan Natal tetapi belum dimunculkan dalam kisah penyelamatan. Tokoh itu adalah 3 Orang Majus dari Timur. Dalam tradisi, ketiga orang majus itu bernama Baltasar, Melkior, dan Gaspar. Sosoksosok ini merupakan tokoh yang cukup penting dalam peristiwa kelahiran, tetapi baru ditempatkan dalam bacaan-bacaan liturgi di akhir Masa Natal yaitu pada Hari Raya Penampakan Tuhan.

Sebagai umat Allah, ketiga majus merupakan teladan yang baik untuk kehidupan beriman. Mereka menunjukkan kegigihan untuk bertemu dengan Tuhan. Paus Fransiskus bahkan mengatakan, ketiga majus merupakan gambaran manusia yang rindu untuk berjumpa dengan Allah. Mereka rela-rela datang jauh-jauh untuk bertemu dengan Sang Mesias. Mereka tidak tahu tempat dan letak pastinya di mana Sang Juruselamat akan lahir. Akan tetapi, mereka mengikuti kata hati mereka, mereka mengikuti bintang, mereka berjalan saja. Tidak ada keraguan dari diri mereka untuk tidak hadir dan menyambut Dia. Bahkan, mereka sudah mempersiapkan persembahan terbaik bagi-Nya sebagai bukti kerinduan mereka akan Allah penyelamat.

Dari tiga majus kita bisa bertanya pada diri kita masing-masing, apakah hati kita masih rindu akan kehadiran Allah? Apakah kita sudah membiarkan diri kita berjalan saja mengikuti suara hati kita untuk bisa dekat dan mengenal Allah? Seringkali, hati kita tidak siap untuk itu karena kesibukan harian yang kita jalani. Kita masih terpaku dengan kegiatan harian yang mengikat sampai lupa untuk memberikan waktu untuk diri sendiri “berduaan” dengan Allah. Beranikah kita untuk membiarkan diri kita dituntun oleh Bintang Abadi sehingga kita dimampukan untuk semakin hari semakin mencintai Dia? Semoga di Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diizinkan untuk belajar dan meneladan sikap ketiga orang majus. Dan semoga, dengan rendah hati, kita dituntun untuk bisa bersatu dengan Allah yang terlebih dahuli mengasihi kita. Tuhan memberkati.

Penulis : Fr. Marcellino Mario Amput

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments