Dalam perayaan ulang tahun Kabupaten Bekasi ke-72, pada 15 Agustus 2022, diadakan acara yang mengundang tokoh besar nasional yaitu Habib Luthfi. Banyak orang melihat sosok Habib Luthfi sebagai orang yang berkarisma dan religius sehingga kehadirannya menyedot perhatian banyak orang dari berbagai kalangan.
Malam hari di hari ulang tahun, ada acara istighosah bersama Habib Luthfi di alun-alun kabupaten sehingga banyak orang datang menuju ke sana. Kehadiran banyak orang untuk mengikuti istighosah membuat banyak aparat berjaga dan mengamankan area sekitar dengan membatasi kendaraan yang masuk. Pengamanan yang membatasi kendaraan ini membuat mereka yang menggunakan kendaraan untuk memarkir kendaraan agak jauh dari tempat berlangsungnya istighosah. Beberapa berusaha mencoba masuk melewati pengamanan petugas dengan alasan memiliki kepentingan atau mengaku sebagai pejabat agar bisa diijinkan untuk masuk.
Sayangnya tidak semuanya diijinkan masuk oleh karena pengamanan berlapis dan ketat ini. Pengalaman saya dengan tim dari Paroki Cikarang merupakan sedikit dari yang bisa diijinkan masuk dengan menggunakan kendaraan karena mengaku sebagai pastor yang memiliki janji bertemu Habib Luthfi sebelum dia ikut istighosah.
Pengalaman melihat acara istighosah pada perayaan ulang tahun Kabupaten Bekasi ini menarik karena sosok luar biasa dari Habib Luthfi dan menjadi pengantar permenungan untuk minggu ini. Bacaan pada minggu ini dari Lukas 13:22-30 mengisahkan, “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat.” Petikan dari bacaan ini mau mengajakkita untuk kembali merenungkan akan sikap yang sudah kita tunjukkan sebagai bentuk kesaksian untuk Tuhan selama kita hidup atau kita menjadi hamba yang tak dikenal oleh Tuhan sendiri.
Habib Luthfi tentu tidak mengenal satu per satu orang banyak yang datang untuk menghadiri istighosah. Namun orang banyak bisa mengaku mengenal habib oleh karena mengikuti istighosahnya. Apakah kita menjadi pribadi demikian, mengenal Tuhan dari jauh namun tidak mendekatkan diri kepada-Nya?
Suster, bruder, ibu, bapak, dan saudara terkasih. Permenungan ini mengajak untuk kita mendalami arti sebagai anak-anak Tuhan dengan melakukan nilai yang diajarkan-Nya. Bacaan kedua dari Surat Orang Ibrani (Ibrani. 12:11-13) menyatakan bahwa “tiap hajaran pada waktu diberikan tidak mendatangkan sukacita tetapi dukacita. Namun ia menghasilkan buah kebenaran dan damai kepada mereka yang dilatih oleh-Nya.” Pernyataan ini memberi penekanan bahwa hajaran Tuhan bukan sesuatu yang langsung mudah untuk diterima melainkan mendorong untuk kita menjadi kuat dan tidak mudah untuk berputus asa.
Pengalaman dalam masa sulit yang anda rasakan, baik dalam keluarga, pekerjaan, kesehatan, maupun pengolahan iman menjadi kesempatan untuk meresapkan arti kebersamaan dengan Tuhan.
Penulis : Rm. Camellus Delelis Da Cunha, Pr
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa