Paroki Cikarang, Gereja Ibu Teresa dari Kalkuta bukan terisolasi dari pemukiman dan kawasan ramai aneka bisnis. Sebaliknya Paroki di ujung Timur Keuskupan Agung Jakarta ini berada di tengah Kawasan industri dan bisnis Cikarng, Ada Kawasan Jababeka di Cikarang Utara dan Cikarang Barat dan sebagian Cikarang Timur, sementara dari Timur sampe ke arah selatan ada Kawasan Lippo dengan aneka jenis hunian menarik, kawasan industri Hyundai, kawasan Delta Silicon dengan aneka aktivitas di bidang industri dan hunian serta mall seperti Aeon Mall yang tidak kalah menarik. Demikian, kawasan Cikarang telah menjadi jantung industri yang hidup 24 jam. Bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi dan kepadatan penduduk, produksi sampah rumah tangga dan sampah konsumsi juga meningkat pesat. Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa berada tepat di tengah dinamika ini — di sebuah wilayah di mana realitas lingkungan dan kesehatan saling memengaruhi kehidupan umat setiap hari.
Umat Paroki Cikarang bersama segenap paroki di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) memasuki masa Advent di Bulan Keluarga tahun ini, bulan Desember dengan mengusung tema “Alam ku Imanku”. Gereja KAJ mengajak segenap keluarga katolik untuk merenungkan hubungan antara iman dan ciptaan Tuhan. Di tengah masyarakat yang majemuk, Gereja dipanggil untuk hadir sebagai tanda harapan, terutama untuk melaksanakan tindakan nyata, mengisi Masa Adven 2025, masa penantian, dengan melakukan pertobatan, dan penataan hidup baru menyongsong kelahiran Kristus. Dalam semangat Adven, umat Paroki Cikarang diajak untuk menjadikan praktik sederhana seperti pemilahan sampah, pengurangan plastik, dan partisipasi dalam Bank Sampah Paroki sebagai wujud nyata pertobatan kehidupan, kesehatan keluarga, dan perawatan ciptaan.
KITAB SUCI DAN PANGGILAN GEREJA UNTUK MEMELIHARA BUMI Sumber iman kita yang adalah Sabda Tuhan dalam Kitab Suci serta tradisi dan magisterium Gereja. Kitab Suci kita, Kejadian 2:15, Tuhan menempat-kan manusia di taman ciptaan-Nya untuk “mengusahakan dan memelihara” bumi. Paus Fransiskus kemudian mengulangi panggilan ini dalam Laudato Si’ (LS 67), ketika menulis, “Kita bukan pemilik bumi ini, tetapi penyewa dan penjaga yang dipercayakan oleh Tuhan.”
Konteks Cikarang — dengan volume sampah harian yang tinggi, kebiasaan membakar sampah di beberapa kawasan padat, serta tumpukan limbah rumah tangga yang belum terkelola dengan baik — menjadikan perintah Kitab Suci ini sangat konkret. Tuhan memanggil kita semua segenap umat di Paroki Gereja Ibu Teresa untuk menjadi “penjaga ciptaan” di tengah industrialisasi yang pesat ini. Gerakan Bank Sampah Paroki Cikarang tidak hanya sekadar kegiatan lingkungan, tetapi juga pelaksanaan ajaran Gereja yang paling mendalam.
a. Laudato Si’: Ekologi Integral dan Tanggung Jawab BersamaPaus Fransiskus menulis dalam Laudato Si’ (LS 10), “Tantangan ekologis adalah panggilan untuk pertobatan, untuk perubahan hidup yang mendalam”. Bapa Suci mengajarkan bahwa krisis lingkungan bukan hanya masalah alam, tetapi juga masalah moral dan spiritual. Oleh karena itu, setiap tindakan kecil — memilah sampah, mengurangi plastik, mendaur ulang — adalah bagian dari pertobatan ekologis yang menyentuh jiwa. Dengan demikian, segenap umat menyatakan ketakwaan kepada Tuhan melalui tindakan nyata ‘merawat’ lingkungannya dengan perbuatan dan kebiasaan-kebiasaan yang kecil dan biasa untuk mendukung dan merawat kehidupan yang penuh berkat bagi semua orang. Atas cara ini kita mencontohi orang kudus dan pelindung kita Ibu Tereasa dari Kalkuta yang pernah berkata, “lakukanlah hal-hal yang kecil dengan cinta yang besar”.
b. Gaudium et Spes: Dunia dan Gereja Saling MenopangGereja memang tidak terlepas dari dunia konkrit. Gereja hadir di tengah dunia. Kesadaran ini mendorong Konsili Vatikan II untuk menerbitkan dokumen terkenal, Gaudium et Spes, yang berarti ‘Kegembiraan dan Harapan’. Ensklik gerejawi ini menyatakan, “Sukacita dan harapan, duka dan kecemasan manusia zaman ini adalah juga milik para murid Kristus.” (GS 1). Gereja, yakni segenap umat yang percaya kepada Kristus harus menjadi bagian tak terpisahkan dari pergumulan masyarakat dan dunianya. Umat harus juga mengambil bagian dalam suka-duka masyarakatnya. Maka wilayah KAJ yang meliputi Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, bagian Propinsi Banten dan bagian Propinsi Jawa Barat tidak bisa menutup mata maupun telinga bahkan suara untuk menguak dan merespon suka-duka kehidupan masyarakat yang ada. Paroki Cikarang, misalnya tentu saja tidak bisa tinggal diam dan mengurung diri dan tidak mau tahu-menahu tentang gejolak hidup masyarakat luas di bumi Cikarang. Maka benarlah motto atau semboyan Gereja Paroki Cikarang, “semakin berbagi dan merakyat di bumi Cikarang”.
Tantangan kesehatan akibat sampah di lingkungan padat seperti Cikarang — contohnya demam berdarah, infeksi pernapasan, dan sanitasi buruk — adalah bagian dari penderitaan umat yang harus ditangani Gereja juga. Wilayah Cikarang — dengan kepadatan pemukiman, kawasan industri, dan mobilitas penduduk yang tinggi — menjadi salah satu wilayah yang paling rentan terhadap masalah kesehatan akibat sampah. Kasus demam berdarah, infeksi saluran pernapasan (ISPA) karena pembakaran sampah, serta sanitasi buruk yang memicu infeksi kulit dan pencernaan adalah kenyataan sehari-hari yang dialami banyak keluarga. Bagi Gereja, persoalan ini bukan sekadar isu lingkungan, tetapi bagian dari penderitaan umat yang harus dijawab secara pastoral dan sosial.
Paus Fransiskus dalam Laudato Si’ mengingatkan bahwa “krisis ekologi dan krisis sosial adalah dua sisi dari satu masalah” (LS 139). Artinya, ketika sampah dan polusi merusak lingkungan, yang paling menderita adalah manusia — terutama mereka yang tinggal di tempat padat, sempit, dan terbatas seperti banyak wilayah di Cikarang. Maka kerawanan dan keprihatinan ini harus menarik perhatian segenap umat. Mari kita membuka mata dan ikut serta bergumul bersama segenap masyarakat untuk bermetanoia, melakukan pertobatan diri dan siap memulai habitus baru yang membawa hidup segar, dan sukacita bagi segenap penghuninya.
PENDERITAAN AKIBAT SAMPAH MENJADI WAJAH KONKRET SAUDARA KITAPembiaran atau ketidakpedulian untuk mengurus sampah dengan baik pasti akan berdmpak negative bagi para penghuninya. Banyak umat mengalami sakit karena lingkungan yang tercemar: ruam kulit akibat air kotor, alergi pernapasan karena asap pembakaran sampah, hingga risiko DBD dari genangan kecil di sekitar rumah. Setiap tubuh yang menderita menggemakan sabda Yesus: "Aku sakit dan kamu melawat Aku" (Mat 25:36). Gereja terpanggil untuk memperhatikan kesehatan tubuh umat — karena tubuh adalah bait Roh Kudus (1 Kor 6:19).
Keluargapun akan mendapatkan dampak dari pembiaran sampah ini. Keluarga di lingkungan padat sering kesulitan menyimpan sampah dengan benar, sehingga menumpuk di dapur, halaman, atau pinggir jalan. Tempat air yang tidak tertutup menjadi sarang nyamuk. Anak-anak dan lansia paling mudah jatuh sakit. Kesehatan keluarga bukan hanya urusan medis, tetapi juga panggilan moral menjaga kehidupan yang dipercayakan Tuhan. Sanitasi lingkungan juga akan mengalami dampak negatif ini. Parit tersumbat, sampah plastik berserakan, dan TPS penuh menjadi pemandangan lazim di beberapa area Cikarang. Genangan air kotor dan bau tak sedap bukan sekadar gangguan kenyamanan, tetapi sumber penyakit. Santo
Yohanes Paulus II pernah mengatakan bahwa persoalan lingkungan adalah “ujian kualitas moral masyarakat” — bagaimana kita memperlakukan bumi dan sesama. Akhirnya, kegiatan parokial kita bisa saja menyumbang pengaruh negatif ini dengan membuang sampah sembarangan pada setiap kegiatan liturgi, konsumsi, dan pertemuan. Bila tidak ditangani, paroki sendiri dapat menambah beban lingkungan. Dalam terang iman, gereja menjadi tempat pendidikan ekologis: pusat yang menanamkan kebiasaan hidup bersih, sehat, dan bertanggung jawab.
KEBIJAKAN BAK SAMPAH DAN POLA HIDUP SEHAT, PRAKTIK PERTOBATAN Jawaban atas permasalahan yang dihadapi bersama adalah terciptanya kebijakan untuk mengelolahan sampah secara bijak. Kebijakan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan pribadi yang bertanggung jawab terhadap sampah. Sertiap orang dapat secara bijak memiliki minimal 1 bak sampah pribadi di kamar/area kerja untuk menghindari sampah berserakan. Orang dapat membedakan sampah organik dan anorganik bila memungkinkan (dua wadah kecil). Orang membiasakan diri untuk tidak membuang sampah di jalanan, selokan, halaman gereja, atau area publik. Kita harus membuang sampah ke TPS terdekat setiap hari untuk mengurangi penumpukan dan bau, serta membersihkan bak sampah minimal 2 kali seminggu agar tidak menjadi sarang lalat atau nyamuk dan tentu saja tidak membakar sampah pribadi — khususnya plastik — karena berbahaya bagi kesehatan.
Kebijakan kepada setiap keluarga bertujuan untuk mengatur sampah rumah tangga dengan tertib dan sehat. Setiap rumah wajib memiliki minimal 3 jenis bak sampah seperti, sampah Organik, Anorganik/daur ulang dan Residu (popok, tisu, pembalut, dll.). Keluarga dapat melakukan beberapa hal yang baik seperti semua bak sampah keluarga harus menggunakan penutup, menempatkan bak sampah di area strategis: dapur, halaman, kamar mandi, dan ruang keluarga, melakukan pemilahan sampah harian sebelum dibuang ke luar rumah, menghindari penumpukan — sampah dapur dibuang maksimal 24 jam; keluarga membuat bak kompos sederhana (jika memungkinkan) untuk sampah organic, dan akhirnya, keluarga/rumah tidak berbau sampah, tidak ada genangan air di bak sampah yang menjadi sarang nyamuk, membiasakan anak-anak dan anggota keluarga untuk terlibat dalam memilah sampah. Tujuan pengadaan bak sampah dan pola hidup sehat ini akan menciptakan lingkungan bersih, sehat, dan bebas DBD.
Lingkungan pemukiman kita seperti RT/RW atau Kring dan Wilayah dapat menyediakan 2-3 bak sampah komunal yang tertutup dan rutin dikosongkan setriap saat. Adanya larangan membuang sampah ke selokan, tanah kosong, atau sungai, serta pemasangan papan pengumuman lingkungan bersih di titik strategis. Ada kebiasaan baik dari RT/RW untuk mengadakan aksi bersih lingkungan minimal 1 kali tiap bulan. Lingkungan juga dapat membangun “Bank Sampah Lingkungan” untuk anorganik yang dapat dijual (botol, kardus, plastik); menyediakan bak penampung khusus sampah kebun (ranting, daun) bila banyak rumah memiliki tanaman; menyosialisasikan 3M (menguras, menutup, memanfaatkan daur ulang) serta plus, yakni aneka usaha tambahan lainnya untuk pencegahan DBD, seperti penyemprotan, menggunakan obat nyamuk atau lotion antinyamuk, memasang kelambu, memperbaiki ventilasi dan menjemur pakaian yang digantung, membersihkan saluran air yang mampet, termasuk memastikan bak sampah tidak menjadi sumber genangan. Indikator lingkungan yang bersih dapat meliputi parit bersih, tidak tersumbat, tidak ada pemandangan sampah menumpuk di jalan/pinggir rumah serta warga aktif memilah dan menyerahkan sampah daur ulang ke Bank Sampah. Kebiasaan dan praktik hidup sehat mulai dari individu, keluarga dan lingkungan akan berdampak secara komunal di tingkat yang lebih besar seperti parok.
Paroki menjadi role model untuk membangun hidup sehat demi sukacita masyarakat banyak. Akhirnya, masa adven tahun ini menjadi saatnya untuk mengawali sebuah langkah baru. Kita semua dipanggil untuk membangun pola hidup sehat mulai dari diri kita sendiri, keluarga dan lingkungan kita untuk mendukung kehidupan masyarakat luas yang sehat baik jasmani dan rohani. Bagi kita yang percaya kepada penebusan Tuhan melalui kedatangan Yesus Kristus, inilah masa yang istimewa, masa adven sebagai bentuk persiapan rohani kita, membersihkan rumah, menjaga kesehatan keluarga, dan menciptakan lingkungan yang pantas untuk menyambut Sang Juru Selamat.
Tuhan hadir dalam tindakan sederhana yang memulihkan kehidupan. Ketika kita membersihkan satu got, menutup satu ember air, atau mengurangi satu kantong plastik, kita sedang mengatakan: “Datanglah ya Tuhan, jadikanlah dunia ini lebih baik melalui tangan kami”. Bank Sampah Paroki bukan sekadar kegiatan ekologis — tetapi sebuah tindakan iman, kasih, dan pengharapan. Inilah cara umat Gereja Ibu Teresa ikut menyambut Kristus yang datang membawa damai bagi dunia dan damai bagi ciptaan.Semoga pada Adven 2025 ini,dengan tema bulan keluarga, “Alamku, Imanku’, setiap langkah kecil dari kita akan menjadi persembahan cinta bagi Tuhan dan sesama.
Bruno Rumyaru