Apa Saja Yang diberikan dalam Program Persiapan Perkawinan MRT - Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa 17 dan 18 Februari 2024

Program Membangun Rumah Tangga bagi calon nikah dan beberapa pasutri yang ingin membenahi pernikahan telah dilaksanakan tanggal 17 dan 18 Februari 2024 di SMA Pangudi Luhur, Delta Mas. Jumlah peserta MRT ada 28 pasang. Kita doakan semoga calon nikah dapat melakukan penyelidikan kanonik dan setelahnya mempersiapkan perkawinan mereka. Apa saja yang dibahas dalam ke-12 topik yang disampaikan oleh para fasilitator selama 2 hari dalam Program Persi- apan Perkawinan Membangun Rumah Tangga?

Berikut ini gambaran singkat MRT hari kesatu dan kedua. Hari pertama MRT Bu Titi memberikan kesempatan bagi calon nikah untuk saling mengenal pasangannya lebih dalam. Apakah mereka termasuk tipe koleris, sanguinis, melankolis atau plegmatis. Diharapkan walaupun berbeda sifat-sifatnya, pasangan akan tumbuh bersama. Topik kedua Pak Pamungkas menekankan bahwa untuk membangun relasi yang mesra, pasangan perlu membangun keterampilan BIDIK – Bicara, Dengar, Selidiki secara efektif. Topik ketiga Pak Sonny dan Bu Susi memberikan pendampingan bagaimana pasangan dapat menggali harapan-harapan keduanya supaya harapanharapan keduanya dapat terwujud atau dimodifikasi sesuai dengan situasi dan kondisi. Pak Nimrod dan Bu Tina membawakan topik 4 tentang mencari keba ikan dan kelebihan pasangan. Dalam perkawinan dibutuhkan kedewasaan, pengorbanan diri, sehingga cinta sejati dapat dipertahankan. Topik 5 menegaskan bahwa perkawinan adalah rancangan Tuhan untuk Cinta dan Kehidupan. Topik ke-8 : Cara Mengelola Keuangan dibawakan oleh Pak Benyamin dan bu Netty. Topik ini bertujuan menyadarkan bahwa uang bukan segala-galanya. Namun dalam kehidupan berkeluarga pasangan suami istri diharapkan dapat mengelola keuangan mereka dengan bijaksana agar beberapa tujuan keluarga yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan keuangan yang dimiliki.

Hari kedua MRT menghadirkan beberapa topik menarik seputar bagaimana menghadirkan Tuhan dalam keluarga dan menjaga kehidupan rohani agar terus bertumbuh. Ibu Sarah, sebagai fasilitator pertama, mengajak pasangan untuk senantiasa merawat relasi keimanan keluarga dan Tuhan. Menempatkan iman yang kokoh sebagai pondasi rumah tangga dianggap sebagai langkah utama dalam membangun keluarga yang kuat. Melibatkan Tuhan dalam rutinitas keluarga, seperti doa bersama dan membaca kitab suci, serta memperkenalkan anak-anak dengan kisah-kisah kitab suci menjadi bagian penting dalam upaya ini. Disamping itu, delapan cara olah rohani diperkenalkan untuk membangun keluarga yang kuat, antara lain berdoa, mendengarkan suara Tuhan, ikut dalam pengayaan rohani, melatih pertobatan, bergaul dengan teman beriman, berpartisipasi aktif dalam kegiatan paroki, membagikan cinta Tuhan kepada sesama, dan mengikuti perayaan ekaristi.

Kemudian dilanjutkan oleh Bapak Bruno membawakan topik mengenai bagaimana menghadirkan Kristus dalam keluarga. Pasangan diajak untuk mengupayakan kedisiplinan keluarga dalam merayakan ekaristi mingguan dan saling mendoakan dalam doa bersama. Peran orang tua sebagai teladan iman bagi anak-anaknya menjadi fokus dalam mengembangkan gereja kecil di dalam keluarga.

Salah satu tujuan perkawinan katolik adalah melanjukan keturunan. Keputusan pasangan suami istri tidak memiliki anak dalam perkawinan pada dasarnya bertentangan dengan ajaran gereja. perkawinan yang pada intinya dimaknai "prokreatif", yaitu mengandung, melahirkan dan mendidik anak. Disisi lain, Keluarga bertanggungjawab dalam mengatur kelahiran secara bertanggungjawab. Dalam konteks ini, Dr. Olive membekali peserta dengan cara-cara pengaturan reproduksi yang sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Hal ini mencakup pemahaman akan prinsip-prinsip moral yang mendasari pengaturan kelahiran, serta pengetahuan tentang metode-metode kontrasepsi yang diperbolehkan oleh Gereja.

Pada kesempatan ini hadir juga Romo paroki kita. Romo Antoro membahas hakekat perkawinan sakramental serta tata cara upacara perkawinan secara Katolik. Pemahaman sakramen sebagai tanda dan sarana penyelamatan Allah kepada manusia menjadi poin penting, di mana komitmen, pengampunan, kasih, dan kesetiaan dianggap sebagai dasar yang kuat dalam perkawinan. Janji pernikahan yang diucapkan pada saat pemberkatan mengungkapkan kasih dari mempelai laki laki dan perempuan, Komitmen, pengampunan, kasih, dan kesetiaan adalah dasar yang sangat kuat dalam pernikahan; seperti halnya kristus kepada jemaat. Romo mengingatkan Kembali, Sacramental perkawinan tidaklah terletak pada pemberkatan, namun kedua mempelai yang mengikrarkan janji perkawinan. Sehingga kedua mempelai harusnya senantiasa menjaga janji tersebut dengan menghadirkan Tuhan dalam hidup perkawinannya.

Pak Soni menutup MRT de ngan mengingatkan pasangan tentang misi dalam hidup pernikahan, yaitu membawa cinta saling mencintai ke dalam keluarga. Komunikasi yang baik antara pasangan menjadi kunci dalam mempertahankan kehidupan berkeluarga di tengah kesibukan dan tantangan kehidupan modern. Untuk itu pasutri perlu senantiasa menjaga, melindungi, mengawasi dan menyakinkan bahwa cinta itu ada. Menyatakan perasaan cinta tersebut agar dapat dimengerti, dirasakan dan saling mengalami dengan mengkomunikasikan satu sama lain.

Meskipun waktu yang terbatas, panitia MRT berharap para calon pasangan mendapatkan bekal yang cukup dan dikuatkan untuk memasuki kehidupan perkawinan, serta menjadi gereja kecil yang mampu menghadirkan kasih Allah bagi sesama.

Liputan dan Foto : Anton - Pengurus Inti SKK


Post Terkait

Comments