Saudari-saudaraku yang terkasih.
Sabda Tuhan yang kita renungan Minggu ini merupakan kelanjutan dari percakapan Yesus Kristus dengan Nikodemus. Ada beberapa pertanyaan: Siapakah Yesus Kristus? Apa maksud kedatangan-Nya ke dunia? Untuk menjelaskan teologinya, Yohanes mengambil peristiwa ular tembaga dalam Perjanjian Lama. Ketika orang-orang Israel dalam perjalanan di Padang Gurun dihukum Tuhan dengan gigitan ular tedung, Tuhan memerintah kepada Musa untuk membuat ular tembaga dan memasangnya pada sebuah tiang. Barangsiapa yang digigit ular, tapi memandang kepala ular itu, akan hidup atau selamat. Demikian juga dalam Perjanjian Baru, ada kehidupan baru yang akan diberikan Tuhan kepada setiap orang yang memandang dan percaya kepada Putera Manusia yang ditinggikan. Kehidupan ini jauh lebih besar daripada kehidupan yang diberikan dengan memandang ular tembaga karena kehidupan yang diberikan Putera Manusia, yakni kehidupan kekal. Dia adalah Putera Allah sendiri. Bapa telah mengutus-Nya ke dalam dunia agar dunia diselamatkan.
Saudari-saudaraku, untuk memahami hal ini tidak begitu mudah. Mungkin kita akan bertanya, kalau benar Allah sungguh telah memberi perhatian kepada dunia, bagaimana bisa dijelaskan kok masih ada saja yang tidak beres, bahkan kacau??? Sekarang kekerasan, ketidakadilan dan kematian terasa semakin mewarnai pengalaman hidup kita??
Injil Yohanes disini menampilkan sebuah kesaksian bahwa Allah tidak menghendaki kebinasaan. Yang dimaui-Nya adalah kehidupan kekal bagi semua orang. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan dunia”. Oleh karena itu yang perlu dilakukan manusia adalah berani menerima kebaikan-Nya dan mempercayai-Nya bahwa Terang telah datang ke dalam dunia. Namun kenyataan yang terjadi “manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang”.
Saudari-saudaraku, dalam Injil Yohanes ini mau menegaskan bahwa yang menyukai kegelapan dan menolak terang sudah melepaskan diri dari anugerah ilahi dan terhukum untuk hidup dalam kegelapan. Makanya yang diharapkan dari kita, umat manusia ini hanyalah membiarkan diri kita diterangi supaya kehidupan kita berubah dan kita akan mengalami hidup yang bahagia dan kekal. Apakah kita percaya akan hal ini???
Bukti konkret dari orang yang percaya akan hal ini adalah St. Paulus, ia tetap semangat dalamsegala tantangan yang dialaminya karena kesadarannya akan kasih yang ia terima dari Tuhan. Bagaimana dengan kita?? Semoga masa Prapaskah ini menyadarkan kita kembali akan misteri agung ini: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal”.
Penulis : Rm. Antara. Pr
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa